7. (Cuplikan) Soekarno: Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme

Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme

Oleh Soekarno

(Cuplikan)

Dikutip dari buku

Dibawah Bendera Revolusi

oleh: Ir. Soekarno

Djilid Pertama

Tjetakan Keempat

Panitya Penerbit

Dibawah Bendera Revolusi 1965

(Dengan sangat hati-hati, cara penulisan pengutipan diupayakan  menurut Bahasa Indonesia terkini, setidaknya yang dipahami Redaksi AKLK, tanpa menyentuh  tata bahasa, artinya tanpa merubah sama sekali isi) .

(Hlm 1)

Sebagai Aria Bima Putera, yang lahirnya dalam zaman perjuangan, maka INDONESIA MUDA inilah melihat cahaya hari pertama-tama dalam zaman yang rakyat-rakyat Asia, lagi berada dalam perasaan tak senang dengan nasib-politiknya, tak senang dengan segala nasib yang lain-lainnya.

Zaman “senang dengan apa adanya”, sudahlah lalu.

Zaman baru: zaman muda (m u d a—Red), sudahlah datang sebagai fajar yang terang cuaca.

Zaman teori kaum kuno, yang mengatakan bahwa “siapa yang ada di bawah harus terima-senang, yang ia anggap cukup-harga duduk dalam perbendaharaan riwayat, yang barang kemas-kemasnya berguna untuk memelihara siapa yang lagi berdiri dalam hidup,” kini sudahlah tak mendapat penganggapan lagi oleh rakyat-rakyat Asia itu. Pun makin lama makin tipislah kepercayaan rakyat-rakyat itu, bahwa rakyat-rakyat yang memertuankannya itu, adalah sebagai “voogd” (wali—Red) yang kelak kemudian hari akan “ontvoogden” (bukan wali—Red) mereka; makin lama makin tipislah kepercayaannya, bahwa rakyat-rakyat yang memertuankannya itu ada sebagai “saudara tua”, yang dengan kemauan sendiri akan melepaskan mereka sudah “dewasa”, “akil balig”, atau “masak”.

Sebab tipisnya kepercayaan itu adalah bersendi pengetahuan, bersendi keyakinan, bahwa yang menyebabkan kolonisasi itu bukanlah keinginan melihat dunia asing, bukan keinginan merdeka, dan bukan pula oleh karena rakyat negeri yang menjalankan kolonisasi itu ada terlampau sesak oleh banyaknya penduduk—sebagai yang telah diajarkan oleh Gustav Klemm—akan tetapi asalnya kolonisasi ialah teristimewa soal rezeki.

“Yang pertama-tama menyebabkan kolonisasi ialah hampir selamanya kekurangan bekal hidup dalam tanah airnya sendiri,” begitulah Dieter Schafer berkata. Kekurangan rezeki, itulah yang menjadi sebab rakyat-rakyat Eropa mencari rezeki di negeri lain! Itulah pula yang menjadi sebab rakyat-rakyat  itu menjajah negeri-negeri, di mana mereka bisa mendapat rezeki itu. Itulah pula yang membikin “ontvoogding” (proses menjadi bukan wali—Red)-nya negeri-negeri jajahan oleh negeri-negeri yang menjajahnya itu, sebagai suatu barang yang sukar dipercayainya. Orang tak akan gampang-gampang

(Hlm 2)

melepaskan bakul nasinya, jika pelepasan bakul itu mendatangkan matinya!  …

Begitulah bertahun-tahun, berwindu-windu, rakyat-rakyat Eropa itu memertuankan (atas—Red) negeri-negeri Asia. Berwindu-windu rezeki-rezeki Asia masuk ke negerinya. Teristimewa Eropa-Baratlah yang bukan main tambah kekayaannya.

Begitulah tragisnya riwayat-riwayat negeri-negeri jajahan! Dan keinsyafan akan tragedi inilah yang menyadarkan rakyat-rakyat jajahan itu; sebab, walaupun lahirnya sudah alah (kalah—Red) dan takluk, maka Spirit of Asia masihlah kekal. Roh Asia masih hidup sebagai api yang tiada padamnya! Keinsafan akan tragedi inilah pula yang sekarang menjadi nyawa pergerakan rakyat di Indonesia-kita, yang walaupun dalam maksudnya sama, ada mempunyai tiga sifat: NASIONALISTIS, ISLAMISTIS, dan MARXISTIS-lah adanya.

Memelajari, mencari hubungan antara ketiga sifat itu, membuktikan, bahwa tiga haluan ini dalam suatu negeri jajahan tak guna berseteruan satu sama lain, membuktikan pula bahwa ketiga gelombang ini bisa bekerja bersama-sama menjadi  satu gelombang yang mahabesar dan mahakuat, satu ombak-taufan yang tak dapat ditahan terjangnya, itulah kewajiban yang kita semua harus memikulnya.

Akan hasil atau tidaknya kita menjalankan kewajiban yang seberat dan semulia itu, bukanlah kita yang menentukan. Akan tetapi, kita tidak boleh habis-habis(nya—Red) ikhtiar menjalankan kewajiban ikut memersatukan gelombang-gelombang tadi itu. Sebab kita yakin, bahwa persatuanlah yang kelak kemudian hari membawa kita ke arah terkabulnya impian kita: Indonesia-Merdeka!

Entah bagaimana tercapainya persatuan itu; entah pula bagaimana rupanya persatuan itu; akan tetapi tetaplah, bahwa kapal yang membawa kita ke Indonesia-Merdeka itu, ialah Kapal-Persatuan adanya! Mahatma, jurumudi yang akan membuat  dan mengemudikan Kapal-Persatuan itu kini barangkali belum ada, akan tetapi yakinlah kita pula, bahwa kelak kemudian hari mestilah datang saatnya, yang sang Mahatma itu berdiri di tengah kita! …

Itulah sebabnya kita dengan besar hati memelajari dan ikut meratakan jalan yang menuju persatuan itu. Itulah maksudnya tulisan yang pendek ini.

Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme! 

Inilah asas-asas yang yang dipeluk oleh pergerakan-pergerakan rakyat di seluruh Asia. Inilah paham-paham yang menjadi rohnya pergerakan-pergerakan di Asia itu. Rohnya pula pergerakan di Indonesia-kita ini.

(Hlm 22)

Tulisan kita hampir habis.

Dengan jalan yang jauh kurang sempurna, kita mencoba membuktikan, bahwa paham Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme itu dalam negeri jajahan pada beberapa bagian menutupi satu sama lain. Dengan jalan yang jauh kurang sempurna kita menunjukkan teladan pemimpin-pemimpin di lain negeri. Tetapi kita yakin, bahwa kita dengan terang benderang menunjukkan kemauan kita menjadi satu. Kita yakin bahwa pemimpin-pemimpin Indonesia semuanya insaf, bahwa persatuanlah yang membawa kita ke arah ke-Besaran dan ke-Merdekaan. Dan kita yakin pula, bahwa, walaupun pikiran kita tidak mencocoki semua kemauan dari masing-masing pihak, ia menunjukkan bahwa Persatuan itu bisa tercapai. Sekarang tinggal menetapkan saja organisasinya, bagaimana Persatuan itu bisa berdiri; tinggal mencari organisatornya saja, yang menjadi Mahatma Persatuan itu. Apakah Ibu-Indonesia, yang mempunyai Putra-putra sebagai Oemar Said Tjokroaminoto, Tjipto Mangunkusumo dan Semaun—apakah Ibu-Indonesia tak mempunyai pula Putra yang bisa menjadi Kampiun Persatuan?

Kita harus bisa menerima; tetapi kita juga harus bisa memberi. Inilah rahasianya Persatuan itu. Persatuan tak bisa terjadi, kalau masing-masing pihak tak mau memberi sedikit-sedikit pula.

Dan jikalau kita semua insaf, bahwa kekuatan hidup itu letaknya tidak di dalam menerima, tetapi dalam memberi; jikalau kita semua insaf, bahwa dalam perceraiberaian itu letaknya benih perbudakan kita; jikalau kita semua insaf, bahwa permusuhan itulah yang menjadi asal kita punya “via dolorosa” (jalan penderitaan*—Red); jikalau kita insaf, bahwa Roh Rakyat Kita masih penuh kekuatan untuk menjunjung diri menuju Sinar yang Satu yang berada di tengah-tengah kegelapgulitaan yang mengelilingi kita ini—maka pastilah Persatuan itu terjadi, dan pastilah Sinar itu tercapai juga.

Sebab Sinar itu dekat!

“Suluh Indonesia Muda”, 1926

ooOoo

*Menurut Wikipedia Indonesia: Via Dolorosa (bahasa Latin untuk “Jalan Kesengsaraan” atau “Jalan Penderitaan”) adalah sebuah jalan di Kota Yerusalem kuno. Jalan ini adalah jalan yang dilalui Yesus sambil memanggul salib menuju Kalvari (bukit tempat Yesus disalibkan–Red).   


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: