2a. Dahono Fitrianto, Pewarta Kompas: Mencegah…(Tragedi Bom Atom Jepang)

TRAGEDI NUKLIR.

Mencegah Dunia Lupa ….

KOMPAS/DAHONO FITRIANTO
Monumen Perdamaian Hiroshima dan Kubah Bom Atom di Hiroshima, Jepang, dipenuhi pengunjung, Rabu (16/3). Monumen tersebut menjadi simbol trauma rakyat Jepang terhadap keganasan energi nuklir. Negara itu tak pernah lepas dari dilema dan trauma akan nuklir.
 

Dahono Fitrianto

Keiko Ogura (74) masih berusia 8 tahun pada hari bom atom ”Little Boy” meledak di angkasa kota Hiroshima, Jepang, 6 Agustus 1945. Horor dan tragedi yang ia lihat hari itu tak pernah hilang dari memorinya hingga detik ini.

”Saya masih ingat ratusan pengungsi berbondong-bondong datang dari arah kota. Mereka mengacungkan tangan ke depan, kulitnya terkelupas, menggantung dari daging berwarna merah. Rambut mereka terbakar, baunya menyengat. Mereka seperti hantu,” tutur Ogura sambil membawa kami berkeliling Hiroshima Peace Memorial Park, Rabu (16/3).

Sebagian dari pengungsi itu meminta air kepada Ogura kecil. Namun, setelah meminum air yang ia berikan, mereka tiba-tiba muntah darah dan mati seketika di depannya.

”Saya merasa sangat bersalah dan berulang kali melihat mereka dalam mimpi-mimpi buruk. Hari itu, ayah saya mengkremasi tak kurang dari 300 jenazah pengungsi,” kata Ogura, yang selamat karena hari itu disuruh membolos sekolah oleh ayahnya dan tinggal di rumah berjarak 2,4 kilometer dari hiposentrum ledakan.

Hampir setiap detail kejadian hari itu masih ia ingat. Kilatan cahaya menyilaukan yang disusul embusan angin pesat saat bom meledak, pemandangan pusat kotaHiroshima yang rata dengan tanah dan terbakar sepanjang malam, dan hujan berwarna hitam yang turun beberapa jam setelah ledakan. Baru beberapa tahun kemudian Ogura sadar, hujan hitam itu membawa material radioaktif yang sangat mematikan.

Namun, memori akan bukti kekejaman senjata nuklir, yang berkekuatan mahadahsyat dan tak pandang bulu siapa korbannya itu, seperti hanya melekat pada para saksi hidup seperti Ogura. Di luar mereka, tak ada yang tahu persis dampak malapetaka nuklir itu meski hampir semua orang di dunia tahu sejarah Hiroshima dan Nagasaki sejak di bangku sekolah dasar.

Bahkan, seiring dengan makin jauhnya memori akan Perang Dunia II dan maraknya salah kaprah pemikiran bahwa ancaman senjata nuklir telah berlalu seiring dengan berakhirnya Perang Dingin, orang perlahan-lahan mulai lupa dengan pelajaran dari Hiroshima dan Nagasaki.

Melawan lupa

Itulah yang ingin dilawan para hibakusha, julukan bagi korban yang selamat dari tragedi bom atom, seperti Ogura. Sebagian dari mereka mendedikasikan hidup untuk melestarikan memori tragedi itu agar dunia tak pernah lupa potensi malapetaka dari senjata nuklir.

Ogura turut mendirikan Translators for Peace di Hiroshima dan Attention Inc, yakni kelompok penerjemah dan pemandu bagi para pengunjung kota Hiroshima, untuk mengisahkan memori tragedi 65 tahun lalu dan menyampaikan pesan perdamaian agar malapetaka yang sama tak terulang lagi.

Dengan tujuan sama, Masaaki Tanabe (85), yang berusia 19 tahun saat bom meledak 600 meter di atas Hiroshima, memprakarsai Hiroshima Reconstruction Project, proyek untuk mengumpulkan kesaksian para hibakusha dan mereka-ulang wajah Hiroshima sebelum dibom dalam citra digital.

”Saya hanya ingin semua orang di dunia tahu apa yang hilang dari Hiroshima akibat bom itu,” tutur Tanabe, yang ditunjuk Pemerintah Jepang sebagai utusan khusus dalam kampanye dunia bebas senjata nuklir.

Sebagai pemuda yang sudah mulai beranjak dewasa saat tragedi itu terjadi, Tanabe ingat persis suasana kehidupan metropolis Hiroshima sebelum dibom. Menurut dia, seluruh areal yang kini menjadi taman Hiroshima Peace Memorial Parkdulu adalah pusat aktivitas warga kota yang penuh warna.

Berbagai pusat bisnis dan perdagangan, mulai dari toko, restoran, hotel, hingga tempat pemandian umum, serta rumah warga menyesaki distrik yang bernama Sarugakucho itu. ”Saya sampai sekarang masih ingat bau masakan dari warung di kawasan itu, suara anak-anak kecil yang ribut berlarian di gang- gang, dan suara ibu yang berteriak memanggil anaknya pulang,” kenang Tanabe.

Semua musnah

Rumah Tanabe terletak di distrik itu, persis berada di sebelah bangunan megah Balai Promosi Industrial Hiroshima yang bergaya Eropa. Di kemudian hari, sisa-sisa bangunan tiga lantai yang dikenal dengan kubah khasnya itu menjadi monumen Kubah Bom Atom Hiroshima.

”Saat bom meledak pukul 8.15 pagi itu, saya sedang tidak di rumah. Di rumah hanya ada ibu dan adik lelaki saya. Saya hanya bisa membayangkan, mereka mungkin sedang sibuk membersihkan rumah saat bom meledak…,” tutur Tanabe dengan mata berkaca-kaca.

Rumah Tanabe, beserta seluruh isinya—termasuk ibu dan adiknya—musnah tak berbekas terkena ledakan bom berkekuatan 13.000 ton TNT itu. Dengan jarak tak sampai 200 meter dari hiposentrum ledakan, kawasan Sarugakucho secara harfiah menguap direnggut panas hingga ribuan derajat celsius.

Kawasan pusat kota Hiroshima hingga radius 2 kilometer dari hiposentrum rata dengan tanah. Tanabe pulang dua hari setelah ledakan hanya untuk melihat semua hal yang pernah dikenalnya telah sirna.

Bau masakan dari warung, jeritan gembira anak-anak yang mandi di Sungai Ota, dan hiruk-pikuk urban di Sarugakucho berganti dengan kesunyian mencekam, bau hangus kota yang terbakar bercampur bau busuk mayat, dan pemandangan ribuan mayat hangus mengambang di sungai.

”Saya melihat ada seorang ibu tergeletak, memeluk bayi yang masih mengisap susunya. Ibu itu sudah tewas, tetapi bayinya yang penuh luka bakar masih terus menyusu. Entah sampai berapa lama bayi itu bisa bertahan. Pemandangan itu terus mengganggu hidup saya berpuluh-puluh tahun setelah itu,” tutur Tanabe lirih.

Selama puluhan tahun itu juga Tanabe gelisah, apa yang harus dia lakukan dengan semua memori itu. Sampai akhirnya 13 tahun silam ia memulai proyek pembuatan film dokumenter berisi kesaksian para hibakusha yang masih hidup.

”Saya menyelesaikan 5 film dokumenter berisi informasi kesaksian lebih dari 300 hibakusha di seluruh Jepang. Saya merasa harus merekam memori itu sebelum waktu saya di dunia ini habis,” ungkapnya.

Ia kemudian mendirikan rumah produksi Knack Images Production Center, yang memanfaatkan teknologi digital dan computer generated image (CGI) untuk mereka ulang gambaran kota Hiroshima sebelum dibom. Warna-warni kota Hiroshima pun seolah hidup lagi dalam film dokumenter berdurasi 40 menit itu. Film tersebut ditayangkan di Markas Besar PBB diNew York tahun lalu dalam rangka Konferensi Traktat Nonproliferasi Nuklir.

”Saya ingin menunjukkan, tak hanya bangunan fisik dan nyawa manusia yang hilang akibat ledakan bom atom itu, tetapi seluruh struktur komunitas yang menghidupkan Hiroshima waktu itu pun musnah. Kota Hiroshima lama itu sudah mati,” tutur Tanabe.

Foto tragedi

Jika Tanabe membuat film dari kesaksian lisan para hibakusha, Yoshitoshi Fukahori (82), seorang hibakusha dari Nagasaki, mendokumentasikan memori tragedi bom atom itu dalam bentuk koleksi foto. Sejak 1979, Fukahori bersama lima temannya mendirikan Committee for Research of Photographs and Materials of Atomic Bombing.

”Foto tak bisa bohong. Jika Anda ingin menceritakan penderitaan dan kesengsaraan akibat bom atom, sebuah foto bisa lebih bermakna daripada seribu kata,” tutur Fukahori kepada Kyodo News, yang dikutip The Japan Times, tahun 2009.

Kini, Fukahori telah mengumpulkan tak kurang dari 3.000 foto hasil karya 20 juru kamera. Sebagian adalah foto- foto yang diambil fotografer Yamahata Yosuke sehari setelah Nagasaki luluh lantak dihajar bom atom kedua pada 9 Agustus 1945.

”Banyak yang tidak tahu seperti apa Nagasaki sebelum dibom. Dan gambaran kejadian hari itu perlu diteruskan kepada generasi selanjutnya agar bencana ini jangan sampai terulang lagi,” tutur Fukahori.

Fukahori sendiri kehilangan kakak perempuan dan pamannya dalam ledakan bom atom ”Fat Man” tersebut. Dengan koleksi foto-fotonya, Fukahori memberi konteks dan gambaran pengalamannya sendiri di hari malapetaka itu.

”Saya selamat karena saya berada 3,5 kilometer dari hiposentrum waktu itu, di balik bukit. Setelah ledakan, saya baru masuk kota dan menemukan rumah saya sudah rata dengan tanah. Saya juga menemukan jasad kakak perempuan saya di rumah paman,” kenangnya.

Ia beruntung, ayah-ibu dan adik-adiknya sudah lebih dulu mengungsi ke luarkota. Tiga hari setelah ledakan, Fukahori bersama ibu dan adik laki-lakinya kembali ke kotauntuk mengambil dan mengkremasi jasad kakak perempuannya dengan alat seadanya di tempat itu.

”Saya masih ingat, ibu hanya berdiri di kejauhan, memandang kami membakar jasad kakak sambil berusaha bersikap tegar,” tutur Fukahori.

Dokumentasi digital

Beberapa tahun lalu, Fukahori bertemu dengan Tomoyuki Torisu, mahasiswa Tokyo Metropolitan University asal Nagasaki. Torisu, yang kakeknya juga seorang hibakusha, saat itu memiliki gagasan membuat dokumentasi tragedi Nagasaki dalam bentuk digital yang bisa diakses semua orang di internet.

Proyek yang ia kerjakan bersama dosennya, Hidenori Watanave, itu diberi nama Nagasaki Archives (en_nagasaki.mapping.jp). Foto-foto koleksi Fukahori dan kesaksian para hibakusha dari Nagasaki digabungkan dengan citra tiga dimensi kota Nagasaki yang diambil dari Google Earth sehingga pengunjung laman tersebut bisa langsung memahami gambaran utuh ledakan bom atom dan dampaknya.

”Kami ingin mengabarkan sebanyak mungkin orang di dunia apa sesungguhnya yang telah terjadi di Nagasaki. Kami ingin Nagasaki menjadi tempat terakhir senjata seperti itu digunakan,” tutur Torisu.

Saat Perang Dingin telah berlalu lebih dari 20 tahun silam, sebagian besar warga dunia menganggap ancaman perang nuklir telah berlalu. Padahal, dengan makin bertambahnya negara yang telah dan ingin memiliki senjata nuklir saat ini, ancaman itu justru memasuki babak baru yang lebih berbahaya.

Kisah para hibakusha ini perlu terus diceritakan hingga kapan pun dengan berbagai cara. Agar dunia tak akan pernah lupa…

.

Catatan Redaksi AKLK

Warita ini dikutip utuh dari Kompas, 29/4/2011; sebagai acuan utama tulisan

“Usulan Pelestarian Rumah Raja Negeri Adat Kariu” ; simak/klik: 

Halaman A-LAMPIRAN BUKU-E IPR (DIPERBARUI/UPDATED) 2a.

.

LKAK-Kubah Hiroshima

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: