5. Bidasan Redaksi … 14 September ’11 (Ketika Non Muslim Menjadi Mayoritas … Pemimpin Umat yang Membangkang Pemerintah NKRI; Masohi yang Diabaikan … Sejumlah Tanya untuk Gereja Protestan Maluku/GPM … esensi kalimat Gus Dur “Tuhan tidak perlu dibela” yang pas ditujukan kepada GPM … patung-patung wayang dirubuhkan di Purwakarta)

Bidasan (Respons) Redaksi AKLK

atas Warita Singkat NAK.

.

Warita (berita) singkat NAK (Negeri Adat Kariu).

Batalnya Pembangunan Pastori Gereja GPM Ebenhaezer NAK

..

Adalah Pendeta (Pdt) Gereja Protestan Maluku (GPM) Ebenhaezer Negeri Adat Kariu (NAK) Cak Tomasoa, STh sendiri yang mengumumkan pembatalan acara peletakan batu alasan atau peletakan batu pertama pembangunan gedung pastori (tempat tinggal pendeta) di NAK. Peletakan batu alasan yang sedianya akan berlangsung pada Kamis, 25 Agustus 2011.

“Beta diancam lewat SMS: ‘awas seng (tidak–Red) boleh bangun di situ. Kalau bangun akan dilapor ke polisi.’ … Beta minta maaf par (untuk—Red) masyarakat yang sudah sumbang semen, batu, pasir, …   ujar Cak di sela-sela khotbahnya pada Kebaktian Minggu, 28 Agustus 2011 di NAK.  

Kisah tragis gentarnya seorang pendeta GPM oleh ancaman sebuah LPS (layanan pesan singkat/short message service, SMS—Red) gelap, lanjut narasumber warita ini, ternyata terkait dengan seorang “elite desa” penentang keras Raja NAK.

Sang elite berinisial BK ini (si tukang malawang simak Hlm C-ISI BUKU-E IPR [TULISAN] klik 33-Kronik LK, atau klik 33-kronik-LK-14-juli-2010/—Red) adalah motor penggerak proyek pembangunan pastori tersebut. Termasuk upaya BK untuk membangun pastori di kintal (tanah, lahan—Red) milik salah seorang warga. Apakah LPS gelap tersebut berasal dari pemilik kintal terkait, tidak bisa dibuktikan, imbuh (tambah) narasumber itu.

Dan lebih tragis lagi, narasumber melanjutkan, bahwasanya mustahil sang pemimpin umat yang membatalkan proyek pastori ini tidak tahu menahu sepak terjang BK. BK yang sudah dinonaktifkan oleh Raja NAK dari seluruh kegiatan Pemerintah NAK lantaran terindikasi kuat pajekong (korup) dalam proyek walang/rumah tani/penampung air hujan PNPM M (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri) NAK 2009. (Simak Hlm C-ISI BUKU-E IPR [TULISAN] klik 39-Kronik LK, atau klik https://kariuxapakabar.wordpress.com/dari-redaksi-14-okt-2010/39-kronik-leamoni-kamasune-14-oktober-2010/—Red).

Sementara, narasumber itu mengingatkan, bahwa adalah pemimpin umat ini pula yang secara langsung maupun tidak langsung, berdiri di belakang pembangunan gereja baru (lagi) NAK. Padahal Raja NAK telah menerbitkan sepucuk surat himbauan (No 12/PNAK/2009 tanggal 29 Januari 2009; simak Hlm C-ISI BUKU-E IPR [TULISAN] klik 1-Kronik LK, atau klik https://kariuxapakabar.wordpress.com/dari-redaksi-apa-kabar-leamoni-kamasune-14-mar-2009/kronik-leamoni-kamasune/—Red) untuk menangguhkan waktu pembangunan dan bukan membatalkan  pembangunan gereja baru (lagi) NAK. (Simak pula Hlm C-ISI BUKU-E IPR [TULISAN] klik 12-Wawasan LK, atau klik https://kariuxapakabar.wordpress.com/dari-redaksi-apa-kabar-leamoni-kamasune-14-agu-2009/wawasan-leamoni-kamasune-14-agustus-2009/ berisi opini ditulis salah seorang anggota dewan Redaksi AKLK—Red)

Kali ini pun, urusan pembangunan pastori, Raja NAK, ujung tombak resmi dan sah dari Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia di NAK, tidak tahu menahu!

Dan fakta di lapangan, sampai pengeposan blog ini (14/9/2011), pembangunan gereja baru (lagi) masih terus berlanjut. Bahkan sudah santer (hebat, kencang) tersiar kabar bahwa akan diterapkan teknologi konstruksi atap baja ringan.

Teknologi yang, masih menurut narasumber itu, sudah bisa dipastikan akan menggusur masohi atau gotong royong dalam membangun gereja; sebuah tradisi tolong menolong yang sudah berlangsung berabad-abad dalam pembangunan rumah ibadah (nasrani maupun muslim) di kawasan asalnya orang Ambon.

Hal yang bukan kebetulan, narasumber menyitir penggalan tulisan di blog ini, membuat Soekarno menamai sebuah kota baru (1957) Masohi di dataran Nama, pesisir selatan Pulau Seram; masohi, sebuah kata dalam bahasa Melayu Ambon yang telah diserap ke dalam Bahasa bermakna gotong royong, tak lain adalah perasan terakkhir ideologi Pancasila.

Padahal, masih dengan narasumber itu, pihak gereja selama ini—dengan mengabaikan himbauan Pemerintah NAK menangguhkan waktu pembangunan gereja baru (lagi) itu—selalu saja menghimbau rayat NAK untuk keluar bermasohi membangun gereja dimaksud.

Rupanya, narasumber itu mengakhiri laporannya, pihak gereja memaknai masohi hanya sebatas “tenaga kerja tak berbayar” alias “tenaga kerja gratisan”. Lantaran begitu ada tawaran paket teknologi konstruksi atap baja ringan (tenaga kerja dan bahan merupakan satu paket dan didatangkan dari Jawa) bernilai ratusan juta rupiah, masohi pun dicampakkan oleh gereja.

Belum lagi menyangkut unsur masohi yang lain seperti isu lingkungan (terkait unsur adat sasi buka dan sasi tutup, simak Hlm C-ISI BUKU-E IPR [TULISAN] klik 2-Kronik LK, atau klik https://kariuxapakabar.wordpress.com/dari-redaksi-apa-kabar-leamoni-kamasune-14-apr-2009/kronik-leamoni-kamasune-14-april-2009/), tegas narasumber itu; kayu-kayu pohon yang, sulit untuk tidak dikatakan, asal tebang saja, demi pembangunan gereja baru (lagi) itu.

Narasumber kemudian menutup waritanya itu dengan sebuah kejadian kecil, beberapa bulan lalu.

Pernah terjadi di sekitar medio 2011 ini, seorang Kariu domisili mancanegara tamu Raja NAK ingin mengabadikan pembangunan gereja baru (lagi) itu. Tiba-tiba dihardik dengan kasar oleh salah seorang anggota panitia pembangunan gereja dimaksud: “seng sumbang-sumbang, mau foto lagi!” Sang tamu Raja NAK itu pun urung memotret, buru-buru berlalu tanpa komentar kuatir timbul kekerasan fisik, kembali ke Rumah Raja … sebuah kenangan tersendiri atas ‘roots’-nya dibawa pulang ke rumahnya, kawasan perdesaan nun jauh di sana, menyusul perjalanan panjang bersama burung besi raksasa yang mendarat di LA, AS.

 

Bidasan Redaksi AKLK.

Ketika Non Muslim Menjadi Mayoritas

 Pemimpin Umat yang Membangkang Pemerintah NKRI; Masohi yang Diabaikan

Sejumlah Tanya untuk Gereja Protestan Maluku (GPM)

.

Membidas (merepons) warita singkat di atas, Redaksi AKLK bertanya-tanya.

Pertama, apakah GPM (Badan Pekerja Harian Sinode GPM?) tidak mengetahui sepak terjang sang pemimpin umat, figur sentral, tokoh kunci GPM Ebenhaezer NAK itu—yang sudah berlangsung hampir 3 tahun pascanaiknya Raja NAK?

Artinya, lebih spesifiknya, apakah GPM tidak memiliki agenda tersendiri ditujukan khususnya untuk negeri-negeri yang mengalami kerusuhan (seperti NAK), terlebih pascaadat istiadat diberlakukan kembali secara legal dengan terbitnya sejumlah peraturan daerah turunan UU No 32/2004, sehingga seorang pendeta yang akan ditempatkan di negeri-negeri dimaksud harus memenuhi kualifikasi tertentu misalnya?

Artinya pula, apakah surat bernada protes keras BPH Sinode GPM kepada aparat keamanan terkait—dengan tembusannya mulai dari Presiden, Pimpinan MPR/DPR, dan lain-lain di antaranya Komisi Hak Asasi PBB—sehubungan penyerangan Desa Kariu 14 Februari 1999 (Surat No 62/I/H.3/2/99, Ambon, 16 Februari 1999, ditandatangani Ketua Pdt SP Titaley, STh dan Sekretaris Umum Pdt MM Siahaya, STh) tidak perlu ditindaklanjuti setidaknya dalam sebuah program pemantauan intens atas kehadiran GPM di NAK di sebuah masyarakat yang selama 6 tahun lebih berstatus pengungsi dan kemudian (sanggup) kembali ke tanah pusakanya lalu hidup (kembali) di bawah sistem pemerintahan adat (dengan ciri utama masohi/gotong royong/perasan terakhir ideologi Pancasila; nama kota baru [1957] oleh Soekarno) yang sebelumnya telah dimandulkan penguasa nyaris selama 4 dasawarsa?

Artinya pula, bukankah GPM sudah saatnya menimbang ulang cara pandangnya terhadap masohi, adat istiadat tulen etnik Ambon itu—yang bahkan seorang Soekarno pun sampai kesengsem (terpesona)—apalagi para jauhari (cendekiawan) asal Maluku sendiri pascakerusuhan, semisal Grace Alenda Prayer dalam tesisinya “Ritus Ma-atenu Suatu Kajian Sosio-Teologis Terhadap Ritus Perlindungan Tete-Nene Moyang Kembali Eksis di Negeri Hulaliu Kecamatan Pulau Haruku”, Universitas Satya Wacana, Salatiga, 2005 (simak Hlm ISI BUKU-E IPR [TULISAN] klik 42-Wawasan LK, atau klik   https://kariuxapakabar.wordpress.com/dari-redaksi-14-nov-2010/42-wawasan-leamoni-kamasune-14-november-2010/) sudah merekomendasikan hal terkait?

Kedua, dengan kejadian kecil seperti dikisahkan dalam warita di atas, apakah GPM tidak melihat munculnya sebuah gejala arogansi (keangkuhan) berbahaya serupa seperti dipraktikkan lewat kekerasan fisik oleh sebuah organisasi masa (ormas) di tingkat nasional, yang mengklaim dirinya sebagai pembela agama mayoritas dan merasa lebih berkuasa dari Pemerintah NKRI yang dianggap sekuler (bersifat duniawi)?

Artinya, bukankah di NAK ada kesejajaran, analogi semacam itu, ketika GPM di NAK adalah sebuah institusi keagamaan dari sebuah agama mayoritas (di NAK) di mana pemimpin umatnya beserta para pembantunya (beberapa) warga NAK mengabaikan himbauan Pemerintah NAK/Pemerintah NKRI untuk menangguhkan waktu pembangunan gereja baru (lagi) serta memertunjukkan arogansi mereka menuju kekerasan fisik (semisal) lewat kejadian kecil tersebut?

Artinya pula, bukankah dengan analogi semacam itu, laiknya ormas di tingkat nasional tersebut, maka melakoni perbuatan tercela seperti berkolusi dengan koruptor, mengabaikan hukum juga negara, menggagahi masohi, dan seterusnya itu plus dukungan kekerasan fisik, dipandang perlu dan wajib lantaran, ironisnya, pembelaan terhadap Yang Maha Kuasa; hal-hal tercemar yang membuat pihak paling dekat dengan urusan akhlak seseorang dalam ketakwaan kepada Yang Maha Besar di tengah krisis multidimensi negara ini seharusnya bekerja mahakeras, optimal dan cerdas?

Artinya pula, dengan masih meletusnya kerusuhan (terbaru 11/9/11 lalu di kota Ambon), bukankah GPM sepatutnya makin tergerak dan menoleh, berkiprah lebih intens untuk urusan terkait integritas diri di negeri-negeri tempat (salah satu) sumber pasokan generasi muda yang (kemungkinan besar) bakal menjadi kaum urban di Ambon?

Redaksi AKLK mengakhiri bidasan ini dengan mengutip sebuah kalimat dari Presiden RI ke-3 almarhum Gus Dur alias KH Abdurrahman Wahid: “Tuhan tidak perlu dibela”.

Kalimat yang dijadikan judul buku (Penerbit LkiS Yogyakarta, 1999) kumpulan karangan Gus Dur, terambil dari tajuk salah satu tulisan di dalam buku itu.

“Allah itu Mahabesar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar, karena Ia ada, apapun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya…” Demikian sebuah cuplikan dari karangan dimaksud yang bertajuk sama dengan judul buku itu (hlm 56).

Tentunya, ujaran Kiai kaliber dunia ini, lebih pas dialamatkan pada ormas tingkat nasional yang mengklaim diri sebagai pembela agama mayoritas itu. Lamun, esensi penggalan kalimat Gus Dur ini, menurut hemat Redaksi AKLK, juga pas ditujukan kepada GPM…untuk memertimbangkan keberadaan seorang pendetanya di sebuah negeri bernama Negeri Adat Kariu, hari-hari ini.

ooOoo

Catatan Redaksi AKLK (1)

Mantan Menteri Riset dan Teknologi era Presiden Abdurrahman Wahid, Muhammad AS Hikam antara lain berujar: “orang-orang seperti Eka (Eka Darmaputera; Kristen Protestan—Red), almarhum Romo Mangun (YB Mangunwijaya), Romo Magnis (Frans Magnis Suseno)(kedua tokoh ini dari Kristen Katolik—Red), Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dan lain-lain, adalah orang-orang yang memang mengembangkan apa yang disebut ‘prophetic spirituality’, spiritualitas kenabian, sehingga bukan saja pengetahuan agama mereka dikembangkan untuk kesejahteraan umat dan masyarakat pada umumnya, tetapi orang-orang seperti ini juga mampu untuk berbicara tentang masalah-masalah yang bukan hanya melulu agama. Jadi mereka juga membela HAM (hak asasi manusia—Red), demokratisasi, toleransi dan lain-lain yang bersifat universal…” (Dikutip dari Dilema Kepemimpinan Nasional di Indonesia, Wawancara dengan Muhammad AS Hikam, termuat di “Bergumul dalam Pengharapan, Struggling in Hope, Buku Penghargaan untuk Pdt Dr Eka Darmaputera”, PT BPK Gunung Mulia, 1999, hlm 771).

Catatan Redaksi AKLK (2)

Di luar kebiasaan selama ini, Redaksi AKLK merasa perlu memuat warita terkini (terbaru) dari Kompas.com mengenai perusakan patung-patung wayang di Purwakarta, Jawa Barat, oleh massa pada Minggu sore, 18/9/11. Massa beralasan patung-patung tersebut tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat yang beragama mayoritas itu.

Silakan simak/klik 4 warita terkait itu:

http://regional.kompas.com/read/2011/09/18/14403351/ Empat.Patung.Dirusak.dan.Dibakar

http://regional.kompas.com/read/2011/09/18/13582912/ Massa.Robohkan.Patung.di.Purwakarta

http://regional.kompas.com/read/2011/09/18/14160280/ Patung.Dinilai.Tak.Sesuai.Aspirasi.Masyarakat

http://regional.kompas.com/read/2011/09/18/16360019/ Patungpatung.Dijaga.Polisi.dan.Tentara

Pemuatan warita dimaksud, tiada lain terkait bidasan Redaksi AKLK pada pengeposan 14 September 2011 ini, yang sama-sama senada dalam menyoal perilaku kekerasan yang sangat tercela dari seseorang/sekelompok orang yang beralas pembelaaan atas agama mayoritas.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: