4. Bidasan Redaksi … 14 Agustus ’11 (Berpulangnya Z Salaka … para leluhur Kariu … BAKH-nya Bartels/Cooley … isu culas: Pattimura = Ahmad Lussy … Kades Andy Pattinasarany “ikon”… kepiawaian Camat Soumena … Terbarui: alm Bapa Emang & Klaim yang Gagal Paham …)

Bidasan (Respons) Redaksi AKLK

atas Warita Singkat NAK

.

Warita (berita) singkat NAK (Negeri Adat Kariu)

Berpulangnya Mantan Kepala Desa (Kades) Kariu Zakaria Salaka .

Pada Jumat 22 Juli 2011, mantan Kepala Desa (Kades) Kariu Zakaria Salaka meninggal dunia dalam usia 66 tahun, di Kota Ambon, Pulau Ambon.

Almarhum Zakaria Salaka, akrab dipanggil Bapa Cak, adalah mantan Kades Kariu periode 1985-1993. Almarhum dimakamkan di Negeri Adat Kariu (NAK) pada Sabtu, 23 Juli 2011.

Almarhum yang beristerikan Latupapua, adalah pensiunan PNS (pegawai negeri sipil) pada 1995 dengan latar belakang pendidikan Sekolah Guru Atas (SGA).

Bidasan Redaksi AKLK

Dalam bidasan Redaksi AKLK kali ini, ditampilkan para Raja NAK sejak Raja NAK Benjamin Pattiradjawane. Lantas Redaksi AKLK mencoba menulis sebuah catatan atas para Raja NAK sebelum Raja NAK Benjamin Pattiradjawane; mungkin lebih tepatnya seputar isu leluhur orang Kariu.

Kemudian, para Kades atau perangkat desa yang memerintah saat era pemerintahan Soeharto—ketika rezim ini memandulkan adat istiadat orang Ambon secara legal.

Ketika dunia, ironisnya, semakin menyadari perlunya “go green” yang sejatinya sudah ditawarkan berabad silam oleh “kearifan lokal” adat orang Ambon yang bernama “sasi buka-sasi tutup”. Sebuah sistem adat yang melarang dan mengijinkan 

Yang kerap coba “dilepas” (decoupling) — seperti halnya sebutan kondang pascakerusuhan Ambon memasuki abad XXI lalu: “pela gandong” — dari struktur pemerintahan adat sebuah negeri dengan pucuk pimpinan tertingginya adalah seorang Raja.

Raja yang bukan sekadar Kepala Desa. Raja yang berkuasa atas rakyat negerinya yang tidak mudah “diinterupsi” sang Bupati dan Camat bila cerdas memaknai adat yang digerus perda produk hukum era Suharto-SBY. 

.

Para Raja NAK (Bergelar Pattih) sejak Benjamin Pattiradjawane

 

Benjamin Pattiradjawane.

Periode memerintah tidak tercatat.

Ayahanda dari Johannes Frans Pattiradjawane.

Johannes Frans Pattiradjawane.

Periode memerintah … – 1880; tahun awal memerintah tidak tercatat.

Ayahanda dari Jacob Amos Pattiradjawane; akrab dipanggil Bapa Arend. Makam beliau berada di dekat bibir pantai di sisi-kiri jalan masuk dari pantai ke NAK; satu makam dengan HA Pattiradjawane, seorang “dokter Jawa”.

Jacob Amos Pattiradjawane.

Periode memerintah 1880-1926.

Ayahanda dari Marthin Frans Pattiradjawane; akrab dipanggil Bapa Jacob Amos. Makam beliau diapit (di sebelah utara) makam istrinya Henriette Louise Reasoa dan (di sebelah selatan) makam Bapa Arend bersama “dokter Jawa” Bapa HA Pattiradjawane yang terletak di bibir pantai itu.           

Henriette Louise Reasoa.

Periode memerintah 1926-1929.

Isteri almarhum Bapa Jacob; akrab dipanggil Mama Sa. Makam beliau di samping makam Bapa Jacob.

Mama Sa adalah Penjabat Raja NAK menggantikan Bapa Jacob yang meninggal dunia. Sambil calon Raja NAK Marthin Frans Pattiradjawane, anak kandung ke-5, menjalani proses “magang” dan tentunya menunggu proses administrasi oleh Kantor Residen Amboina di Amboina (Pemerintah Kota/Pemkot Ambon, sekarang).

Marthin Frans Pattiradjawane.

Periode memerintah 1929-1971.

Akrab dipanggil Bapa Sie; kakak kandung Hermanus Pattiradjawane, ayahanda dari Herman Pattiradjawane.

Bapa Sie yang bekerja 3 tahun (1924-1926) di Perkebunan “Kali Poetih”, Dampit, Malang, Jawa Timur, dipanggil pulang dan kembali ke Kariu pada 1927 untuk disiapkan menjadi Raja NAK.

Pada 14 Februari 1929, Bapa Sie diangkat sebagai Kepala Pemerintah Negeri Karioe Bahagian Saparoea dengan gelar Pattih oleh Residen Amboina Frederik Hendrik Karel Brodhaar yang mewakili Gubernur Jenderal Hindia Belanda. (Sekadar catatan saja, tepat 70 tahun kemudian sejak Bapa Sie menjadi Raja NAK, pada 14 Februari 1999, Desa Kariu diserang oleh para perusuh, luluh lantak rata deng tana, menyebabkan rayat Kariu mengungsi 6 tahun lebih!).

Oleh situasi politik saat itu Bapa Sie kemudian menyerahkan “sumpah Raja” kepada rayat Kariu dalam sebuah kebaktian Minggu di Gereja NAK pada 1971.

Pengabdian panjang Bapa Sie untuk NAK ternyata diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No. Pem.25/1/2-2, ditetapkan di Jakarta, pada tanggal 5 Januari 1979, tertanda Menteri Dalam Negeri Amirmachmud, antara lain tercantum: …berhubung dengan pengabdiannya sebagai Anggota Pamong Desa di dalam melaksanakan tugas pemerintahan Desa telah menunjukkan kesetiaan, ketaatan dan jasa-jasanya kepada Desa dan Negara Republik Indonesia, diberikan penghargaan berupa Piagam Tanda Kesetiaan, Ketaatan, dan Pengabdian Jasa, disertai dengan uang sebagaimana tercantum dalam

Sejak 1971 itu, terlebih setelah terbit UU No.5/1979 tentang Pemerintahan Desa oleh pemerintahan Soeharto yang memerlakukan sistem pemerintahan desa di seluruh Indonesia (termasuk Maluku, tentunya) berdampak negeri tidak lagi dipimpin oleh seorang raja secara keturunan atau dari mataruma prentah (keluarga yang memerintah/menjadi raja secara turun temurun).

Negeri lalu berubah nama menjadi desa dipimpin oleh seorang Kepala Desa (Kades). Desa Kariu pun dipimpin oleh Kades, atau perangkat desa, 1971-2008, nyaris 4 dasawarsa!

Herman Pattiradjawane.

Periode memerintah 2008 – sekarang.*

Akrab dipanggil Bapa Emang.

Naiknya Bapa Emang dimungkinkan oleh terbitnya UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah (menggantikan UU No 22/1999 yang merupakan pencabutan atas perundangan sebelumnya UU No.5/1979) dengan “turunan”-nya berupa Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Maluku No 14/2005 dan Perda Kabupaten Maluku Tengah No 1/2006 serta Perda Kabupaten Maluku Tengah No 2/2006. Inti dari seperangkat undang-undang/peraturan ini adalah diberlakukan kembali sistem pemerintah adat di Kabupaten Maluku Tengah (tempat bernaungnya Negeri Kariu); artinya sistem Kades dikembalikan pada sistem Raja Negeri.    

———

*Data terbarui: Bapa Emang memerintah sampai 2014, sesuai ketentuan perda/peraturan daerah terkait, yakni 6 tahun. Hal yang sesungguhnya tidak dikenal dalam pemerintahan negeri adat yang sejatinya seumur hidup atau setidaknya sesuai rekomendasi mataruma prentah yang pernah memberi mandat pada Raja, pada Bapa Emang dalam hal ini — lihat catatan di bawah. Sehingga, Raja pengganti dari informasi bersumber mataruma prentah adalah bukan hasil rekomendasi mataruma prentah yang pernah memberi mandat pada Bapa Emang. Tetapi berhubung “direstui” oleh Bupati terkait, naiklah sang “Raja” negeri Kariu pengganti Bapa Emang.

Sebuah lagi contoh gamblang, sekalipun di era pemerintahan bervisi Trisakti-Gotong Royong beragendakan Nawa Cita di bawah Presiden Joko Widodo yang mengemuka dengan “hadirnya negara” , ada oknum pejabat yang nekat melawan pemerintah pusat. 

Jang bagitu Bapa Bupati ee, katong orang Ambon ni hidop terutama di negeri ada bae-bae jua, laeng sayang laeng lai. Katong pung Raja Pelauw tua Bapa Latuconsina bisa hidop bae-bae deng Raja Kariu Bapa Sie, mangapa katong oras bagini seng bisa, Bapa Bupati ee? Katong samua ni dar tana akang bale lai ka tana jua toh Bapa Bupati? Kepeng seng bisa biking katong  seng mati-mati kio Bapa Bupati?

Bapa kanal Ibu Mans Muskita toh. Kalo Bapa ada masalah deng Bapa Emang, toh bisa hubungi Bu Mans yang memang dar Bapa Emang pung mataruma prentah. Ini cuma tawaran satu opsi sa. Bapa deng sandirinya pung banya jalang kaluar. Sebab di dunia ni Bapa su tau toh, senga ada yang seng bisa klar klo katong mau dudu sama-sama lalu bicara akang bae-bae. Kaya Bang Ahok yang dolo Bupati Belitung, toh skarang bisa ator akang Jakarta tu bagitu rupa. Masa Bapa Bupati Maluku Tengah seng bisa … par Kariu yang “kacuping” ni sa.

Data terbarui: Bapa Emang (panggilan akrab), Raja/Kepala Pemerintah Negeri Adat Kariu (2008-2014) Herman Pattiradjawane telah menghembuskan nafas terakhir akibat sakit di Negeri Adat Kariu pada Minggu, 2 April 2017 Pk 07.00 pagi WIT. Dan dimakamkan di Negeri Adat Kariu pada Senin, 3 April 2017 jelang sore. SELAMAT JALAN BAPA HERMAN (EMANG) PATTIRADJAWANE … 

 .

AKLK-Alm Bp Emang
Almarhum Raja Negeri Adat Kariu Herman Pattiradjawane disemayamkan (Senin, 3/4/2017; sesaat sebelum pemakaman) di Rumah Tua Keluarga Besar Raja NAK Jacob Amos Pattiradjawane, Negeri Adat Kariu (Foto arsip Kel alm Raja NAK Herman Pattiradjawane)

.

AKLK-Alm Bp Emang-02
Almarhum Raja NAK Herman Pattiradjawane dimakamkan (3/4/2017) dengan Ibadah Pemakaman dipimpin Pdt Latumahina dari Gereja Protestan Maluku (GPM) Ebenhaezer Negeri Kariu, di kintal (tanah/halaman) Rumah Tua Keluarga Besar Raja NAK Jacob Amos Pattiradjawane, Negeri Adat Kariu (Foto arsip Kel alm. Raja NAK Herman Pattiradjawane)

.

AKLK-Alm Bp Emang-01-Pengucapan Syukur 23417
Doa makan oleh Bapak Bram (suami Mona Latuharhary sepupu-ipar alm Herman, berdiri di tengah) usai Ibadah Pengucapan Syukur Berpulangnya Herman Pattiradjawane dengan Pembawa Firman Pdt Timur Citra Sari STh (duduk, ketiga dari kiri setelah pasturi Ratih Suyoto dan Herucahyo AS: sepupu-keponakan alm Bapa Emang) dari GKI Jl Bekasi Timur IX/6 Jakarta Timur (GKI Bektim). Ibadah yang diselenggarakan oleh dan dihadiri Keluarga Besar Raja NAK alm Jacob Amos Pattiradjawane (kakek alm Bapa Emang). Bertempat di rumah keluarga Bapak Toto Soeparto-Ibu Henriette (Ece) Pattiradjawane (kakak alm Bapa Emang), Kompleks Pusri, Petukangan Utara, Jakarta Selatan, Minggu (23/4/2017) lepas tengah hari, tepat 3 pekan setelah wafatnya Bapa Emang. Hingga meninggalnya, alm Herman Pattiradjawane tercatat sebagai anggota jemaat GKI Bektim. Keanggotaan sejak masih pemuda dan belum menikah, era GKI Bektim dipimpin Pdt Eka Darmaputera STh yang kemudian digantikan oleh Pdt Ferdy Suleeman STh, yang kini pun sudah emiritus.  (Foto arsip Kel alm Raja NAK Herman Pattiradjawane)

.

AKLK-Alm Bp Emang-04-Pengucapan Syukur 234
Masih dari foto doa makan usai Ibadah Pengucapan Syukur Berpulangnya Herman Pattiradjawane. Dihadiri pula oleh ketiga putra alm Herman Pattiradjawane. Putra pertama dr Danny Pattiradjawane (ke-5 dari kiri) & istri Rida Damanik (Ke-2 dari kiri) & anaknya Imanuel (Noel) Pattiradjawane (ke-3 dari kanan); putra bungsu Hermanus (Manus) Pattiradjawane (pertama dari kanan) & istrinya Diandra & anaknya Benyamin (Ben) Pattiradjawane (ke-4 & ke-3 dari kanan). Juga tampak teman alm Herman anggota jemaat di GKI Bektim yakni Ninis (pertama dari kiri) dan Tumpal Silitonga & istri (ke-6 & ke-5 dari kanan). Putra kedua Hary Pattiradjawane tak tampak dalam gambar, lihat foto di bawah. (Foto arsip Kel alm Raja NAK Herman Pattiradjawane)

.

AKLK-Alm Bp Emang-03-Pengucapan Syukur 23417
Sebuah kebetulan bahwa Hary Pattiradjawane, putra kedua alm Herman Pattiradjawane (paling kanan baris belakang, memegang teks) yang bergabung dengan Paduan Suara Lembaga Daya Dharma (LDD) dari (binaan) Keuskupan Agung Jakarta dengan anggota-anggotanya — sebagian besar menyandang disabilitas –tidak hanya penganut katolik tapi juga penganut kristen lainnya, tampil di GKI Bektim pada Ibadah Minggu (23/4/2017) Pk 09.00 dengan Pembawa Firman Pdt Em Ferdy Suleeman STh. Seperti diketahui alm Herman menikah dengan alm Christiani (Nunik) Soewitoprodjo seorang katolik dan ketiga putra alm Herman adalah penganut katolik. Penampilan Hary beserta kelompoknya ini sudah direncanakan jauh sebelum meninggalnya Herman Pattiradjawane. Seakan ikon sebuah rumah tangga di mana ayah-ibu/suami-istri bisa tetap berbeda religiositas tapi tetap satu. Selesai ibadah di GKI Bektim tersebut, Harry bersama kakaknya dr Danny Pattiradjawane & kel  langsung menuju rumah paman-bibi mereka Om Toto & Tante Ece untuk menghadiri Ibadah Pengucapan Syukur Berpulangnya Herman Pattiradjawane dengan Pembawa Firman adalah Pdt Timur Citra Sari STh dari GKI Bektim. (Foto arsip Kel alm Raja NAK Herman Pattiradjawane) 

.

AKLK-alm Emang-Rmh Tua dan Makam
Makam beratap seng (kiri) mendiang Bapa Herman (Emang) Pattiradjawane, Raja Adat Negeri Kariu, Leamoni Kamasune (2008-2017), mantan Kepala Pemerintahan Negeri Kariu (2008-2014). Berlatar Rumah Tua Bapa Jacob Amos Pattiradjawane (alm), Raja Adat Negeri Adat Kariu, Leamoni Kamasune (1880-1926), bagian depan rumah sisa-sisa puing kerusuhan 1999, bagian belakang (kanan) yang pernah dihuni mendiang Bapa Emang & istri alm Mama Nunik (Christiani Soewitoprodjo). (Foto: dijepret sekitar 2 bulan pascapemakaman, awal Juni 2017; koleksi Kel Besar Hermanus Pattiradjawane, Ayahanda mendiang Bapa Emang)

.

[Lanjut biodata mendiang Bapa Emang …] 

Di samping naiknya Bapa Emang dimungkinkan pula oleh kenyataan bahwa anak sulung Bapa Sie Jacob W Pattiradjawane (panggilan akrab: Bapa No/Yapi) sebagai pewaris Raja NAK dari ayahnya, menunjuk dan mendukung Bapa Emang sebagai calon Raja NAK. Kemudian seluruh putera-puteri  Bapa Sie ikut menyetujui dan mendukung keputusan Bapa No dan dinyatakan secara tertulis (12 Mei 2007). **

———

**Sekadar catatan.

Bahwa sesuai “cara berpikir adat” menyangkut mataruma prentah, maka persetujuan Bapa No/Yapi atau Jacob W Pattiradjawane atas Bapa Emang dimaksud, yang keputusannya itu didukung saudara-saudara kandung Bapa No/Yapi atau anak-anak kandung Bapa Sie atau level “cucu” dari Bapa Jacob Amos, adalah “final”.

Sekaligus menunjukkan bahwa aturan adat dimaksud (khususnya dalam proses intern mataruma prentah terkait penunjukan calon Raja) yang kental “cara berpikir adat” yaitu kental dengan penghormatan pada para leluhur, penghormatan pada yang lebih tua.

Maka adalah absah secara adat keputusan final persetujuan atas Bapa Emang sebagai calon Raja yang berawal dari persetujuan para anak kandung keluarga Bapa Sie atau level cucu dari Bapa Yacob Amos — yang kemudian diikuti oleh seluruh cucu Bapa Yacob Amos lainnya (lihat bawah).

Sehingga bila di kemudian hari timbul keberatan atau ketidaksetujuan atas keputusan final Bapa Emang sebagai Calon Raja NAK pada 2007 tersebut, khususnya yang berasal dari pihak level cicit atau level anak-dari-cucu Bapa Jacob Amos (termasuk para cucu dari keluarga Bapa Sie-pewaris Raja NAK dari Bapa Jacob Amos) maka dengan sendirinya “batal demi hukum adat” khususnya menyangkut mataruma prentah.

Sebuah konsekuensi logis “cara berpikir adat” yang tidak bisa dan tidak perlu dipertentangkan dengan “hukum positif” yang diterbitkan negara. Ketika negara justru menghormati adat istiadat masyarakatnya dalam misalnya sepotong konteks yang bernama “kearifan lokal”. 

Klaim yang Gagal Paham Adat Istiadat Orang Ambon/Maluku Tengah

Termasuk — dari data terbarui medio Juli 2017 — hal yang menunjukkan ketidakpahaman tentang aturan adat masyarakat Maluku Tengah sejak berabad silam, ketika (lagi-lagi) anak-anak alm Bapa Jacob W Pattiradjawane notabene level cicit alm Bapa Jacob Amos Pattiradjawane, melakukan klaim.

Klaim, bahwa Rumah Tua dan seluruh aset tanah/petuanan alm Jacob Amos Pattiradjawane (Bapa Amos) adalah “otomatis” seluruhnya menjadi milik alm Martin Frans Pattiradjawane  (Bapa Sie) yang menjadi Raja Adat Negeri Kariu menggantikan ayahnya alm Bapa Amos. 

Sehingga “otomatis” pula anak kandung tertua alm Bapa Sie yaitu alm Bapa Jacob W Patiradjawane (Bapa No) menjadi pemilik dari Rumah Tua dan aset-aset dimaksud. Ujung-ujungnya, Rumah Tua dan aset-aset dimaksud menjadi milik anak-anak kandung alm Bapa No.

Sekali lagi, betapa harta yang sejatinya menjadi milik bersama — dalam artian yang sudah dipercayai secara turun-menurun tidak akan dijual-belikan tanpa ada kondisi/syarat-syarat sangat-sangat khusus — dari keluarga besar alm Bapa Amos terlebih dalam konteks adat istiadat orang Ambon/Maluku Tengah, tiba-tiba diklaim oleh para cicit dari salah seorang cucu alm Bapa Amos atau anak-anak kandung alm Bapa No, sebagai milik mereka. Luar Biasa!

Apalagi dengan menyebut-nyebut ada “Keputusan Mahkamah Agung” yang entah benar atau tidak, makin menunjukkan bahkan “membuktikan dengan sendirinya” niat tidak baik anak-anak alm Bapa No itu.

Karena begitu “hukum positif” level negara (Mahkamah Agung dalam hal ini) dilibatkan dalam urusan aset/petuanan keluarga secara adat tanpa sepengetahuan para ahli waris Bapa Amos yang lain, sulit untuk tidak menyebut kemungkinan besar telah terjadi politik transaksional atau politik uang pada klaim dimaksud. Prihatin!

Niat tidak baik yang berbukti!

Ketika anak-anak dan para cucu alm Bapa No itu, pada medio Juli 2017, memasuki Rumah Tua entah dengan cara apa.

.

AKLK-Rmh Tua-anak cucu alm No-entah msk dg cara apa
Anak cucu alm Bapa No (Jacob W Pattiradjawane) di dalam Rumah Tua alm Bapa Jacob Amos Pattiradjawane . (Foto: cepretan medio Juli 2017; koleksi Kel Besar Jacob Amos Pattiradjawane)

.

Pasalnya kunci Rumah Tua — sesuai kesepakatan anak-anak kandung dan saudara -saudara kandung mendiang Bapa Emang: Bapa Willem (Empie) Pattiradjawane dan Mama Henriette (Ece) Soeparto-Pattiradjawane — dibawa oleh salah seorang anak alm Bapa Emang yaitu Hermanus (Manus) Pattiradjawane ke rumahnya di Jakarta-Cibubur seusai menghadiri pemakaman ayahnya mendiang Bapa Emang, awal April 2017 yang lalu.

Artinya, bukanlah sesuatu yang luar biasa dalam konteks kekeluargaan, sebuah kesopanan paling mendasar, umum dan bahkan universal tidak terbatas masyarakat Ambon/Maluku Tengah. Bila setidaknya salah seorang anak alm Bapa No memberitahukan keluarga besar alm Bapa Amos (cq Manus Pattiradjawane yang memegang kunci Rumah Tua) tentang niat mereka untuk mengunjungi Rumah Tua di Kariu. Karena toh setiap anak cucu cicit alm Bapa Jacob Amos punya hak yang sama untuk memasuki bahkan menginap di Rumah Tua tersebut.

Tetapi yang terjadi mereka langsung saja ke Kariu dan, sekali lagi, masuk entah dengan cara apa ke dalam Rumah Tua. Prihatin!

Dan selang beberapa hari, masih di medio Juli 2017, dilansirlah kepemilikan Rumah Tua dan aset-aset keluarga besar alm Bapa Amos seperti disinggung di atas lewat media sosial.

Luar Biasa dan sungguh prihatin! 

Salah seorang anggota keluarga penyandang marga Pattiradjawane harus memermalukan keluarganya, keluarga besarnya sendiri alm Jacob Amos Pattiradjawane. Hanya karena kekurang-pengetahuan, gagal paham adat istiadat orang Ambon/Maluku Tengah.

Bapa Amos yang berhasil memiliki aset-aset dimaksud berkat kerja keras sebagai peternak sapi, produsen susu di Kariu — hal yang sulit dipercaya, hari ini. Tidak heran Bapa Amos mampu mengirimkan semua anak-anaknya bersekolah di Jawa! Tanpa pernah berpikir tentang warisan malah meninggalkan warisan.

Tetapi (kami bayangkan Bapa Amos, juga opa mereka Bapa Sie, bahkan ayah mereka Bapa No tidak habis pikir) segelintir anak cucu cicitnya justru berpikir tentang warisan. Harta warisan ironinya bukan keringat mereka sendiri.

Ketika anak-anak muda langgas (merdeka) di era global generasi-Y/milenial lanjut generasi Z dengan kemudahan teknologi cloud disebut-sebut juga sebagai era post-modern ini sedang berkompetitif secara profesional disertai pressure/stress tinggi untuk menggapai kehidupan bukan saja lebih baik bahkan berkelimpahan.

Tetapi bisa jadi pula mereka, para anak alm Bapa No, dengan segala maaf, meski ada yang lama berdomisili di mancanegara, integritasnya beda-beda tipis dengan tokoh yang — juga jebolan Amrik — baru saja “melangkahi mayat” Ahok menjadi DKI-1. “Kemenangan” atas Pilkada DKI 2017 Putaran II yang oleh pewarta senior pendiri majalah Tempo Goenawan Mohamad disebut sebagai politik jorok.

Semoga kami keliru. Setiap kita pernah berbuat kesalahan. No body perfect. Dan anak cucu alm Bapa No dapat kembali bergabung dengan penuh kekeluargaan dan cinta kasih sebagai keturunan Bapa Jacob Amos Pattiradjawane. 

Menunjukkan kelas-integritas yang dimetaforkan dengan piawai oleh Chairil Anwar “Beta Pattiradjawane … jangan bikin beta marah!” — puisi “Cerita buat Dien Tamaela” yang lahir setahun pascaproklamasi Agustus 1945.

Kita yang menjunjung kemerdekaan negeri ini, bukan berintegritas selevel kaum bumi datar. Mereka yang “merampas pedang dari tangan Tuhan” (Martin Aleida, cerpenis, mantan pewarta Tempo) lalu ingin menebas leher Ahok yang sudah dibui! Ujung-ujungnya hanya lantaran kemaruk atas uang, atas harta!

Tetapi laiknya Ahok, yang kekuatan hidupnya terletak di dalam memberi bukan menerima (Soekarno), Rumah Tua dan aset-aset alm Bapa Amos adalah peluang besar untuk kita, setiap insan keluarga besar Jacob Amos Pattiradjawane, memberi pada republik ini, pada negeri Kariu, Leamoni Kamasune khususnya, Maluku umumnya.

Beta Pattiradjawane. Semoga.

Salam kasih untuk anak cucu alm Bapa No.

———

[Lanjut biodata mendiang Bapa Emang …] 

Juga, seluruh cucu Jacob A Pattiradjawane termasuk pasangannya (isteri/suami) tanpa terkecuali, menyetujui dan mendukung Bapa Emang sebagai calon Raja Negeri Kariu dan dinyatakan secara tertulis (19 Mei 2007). 

Pada 25 November 2008, Bapa Emang dilantik secara adat di Baileu NAK, dihadiri para gandong tetua adat bahkan Raja Negeri Hualoy Jafar Hehanussa serta Gubernur Provinsi Maluku Karel A Ralahalu.

Pada 26 November 2008, pagi hari,  Bapa Emang dilantik secara kenegaraan oleh Bupati Kabupaten Maluku Tengah Ir H Abdullah Tuasikal, M Si; dan pada siang jelang sore hari, Bapa Emang ditahbiskan (diberkati) di Gereja Ebenhaezer NAK oleh Pendeta Cak Tomasoa, S Th.

(Simak/klik warita terkait dalam gambar/album: 1-Pelantikan Raja NAK 2008)

.

Para Raja NAK Sebelum Benjamin Pattiradjawane .

Patut disayangkan bahwa para Raja NAK sebelum Benjamin Pattiradjawane tidak ada catatannya. Secara bertutur pun—yang umumnya menjadi narasumber sejarah dalam masyarakat tradisional di Maluku—juga tidak cukup mendukung, untuk tidak mengatakan cukup kontroversial.

Leluhur orang Kariu versi orang Kariu .

Misalnya saja, sebuah narasumber menyebutkan bahwa Bapa Emang adalah Raja NAK ke-20. Berarti Benjamin Pattiradjawane adalah Raja NAK ke-16 (Mama Sa tak termasuk karena Penjabat Raja NAK). Tetapi narasumber itu tidak bisa menunjukkan bukti—setidaknya bukti tak langsung—untuk memerkuat argumentasinya itu. Juga tidak bisa memerinci 15 Raja NAK sebelumnya.

Sebuah narasumber lain bisa memerinci 15 Raja NAK sebelumnya itu—yang disebutnya Raja-Raja Amalatua—tapi keabsahannya mengandung tanya.

Dari narasumber ini pula, disebutkan bahwa sebelum para raja Amalatua itu bila dilacak ke atasnya bertemu sebuah nama: Selan bin Aur yang menurunkan 3 nama: Tatinusa, Senaurat dan Matitasou. Dari masing-masing ketiga nama tersebut, narasumber tersebut terus terang mengakui tidak memiliki informasi mengenai turunan selanjutnya sampai bertemu para raja Amalatua tersebut…dimulai dari Reitupan, Tuarihi, Samani, Latualea… dan seterusnya… salah satunya Rajwan yang berasal dari India.

Narasumber lain menyebut leluhur orang Kariu berasal dari Pulau Seram di kawasan pegunungan Nunusaku—serupa yang dipercayai sebagian (besar) negeri-negeri.

Bahwa, dalam versi narasumber ini, puteri raja Kerajaan Nunusaku kawin lari dengan seorang lelaki saat banjir bandang (besar) melanda kapala aer (hulu sungai) Tala. Mereka berdua menggunakan rakit bambu dan terbawa sampai Pulau Saparua dan akhirnya tiba di Pulau Haruku. Mereka kemudian naik ke Gunung Uruwano, tinggal di situ. Singkat cerita, Raja Nunusaku berhasil menjumpai puterinya dan suaminya itu. Malah menetap dan tempat itu dinamakan Nusaama.   

Leluhur  orang Kariu & pela BAKH versi Dieter Bartels/Frank Cooley .

Sementara kalau kita menyimak disertasinya Dieter Bartels “Guarding The Invisible Mountain Intervillage Alliances, Religious Syncretism and Etnic Identity Among Ambonese Chirstians and Moslems in Moluccas” (1977), yang salah satu bagiannya menelaah kekerabatan pela di antara negeri-negeri Booi, Hualoy, Aboru dan Kariu, ada versi lain lagi di situ.

Bahwa, leluhur  Kariu adalah Tua Salai yang mendiami daerah pegunungan bernama Amamahina (Ama = negeri; mahina = perempuan).

Perlu diketahui, Bartels menyebutkan bahwa figur sentral dalam kisah pela ini adalah seorang kapitan dari Aboru bernama Tua Saija.

Bartels lalu memberikan catatan kaki (diindonesiakan secara utuh–Red): Kisah berikut direkam oleh Frank Cooley di Aboru selama kerja lapangannya di Maluku Tengah. Atas kebaikan hatinya (maksudnya Cooley–Red) saya diijinkan menggunakan kisah tersebut. Versi yang digunakan di sini sudah diringkas, sementara beberapa detail penting yang diambil dari versi Kariu dan Booi ditambahkan. 

Tua Saija adalah salah satu dari tujuh lelaki bersaudara yang tinggal bersama ayah mereka di Watui, sebuah negeri kawasan sungai Tala, pegunungan Seram Barat. Banjir bandang yang melanda kawasan itu, menyebabkan ketujuh bersaudara itu hanyut bersama rakit bambu.

Singkat cerita Bartels itu, salah seorang yang bernama Lussy mengalami kecelakaan tapi berhasil “mendayung dengan satu tangan” (= Saija; kemudian digunakan untuk nama Tua Saija) sampai di daerah sekitar negeri Hualoy (masih di Pulau Seram—Red), menetap dan menjadi pemimpin di situ.

Yang seorang lagi, Tualena, dalam perjalanan ke arah barat, menetap di Tihulalae (masih di Pulau Seram—Red).

Perjalanan lanjutan ke arah selatan, di pantai utara Pulau Haruku, Tua Salai mendarat dan menetap di Amamahina.

Berlanjut ke Pulau Saparua, dua orang bersaudara turun dan menetap di situ. Hattu di Haria dan Hatusupit di Booi.

Sisa dua bersaudara terakhir, kembali ke Pulau Haruku dan singgah di pantai timur. Yang bungsu Leuhery (semula bernama Suria Malessy) di Seitraloi dan kakaknya Tua Saija (semula bernama Halawa Tuni Latu Malessy) di Latuasiaman. Dalam versi Bartels ini, Tua Saija bersama Kapitan Nuhumury mendirikan negeri Aboru.

Kisah terbentuknya kekerabatan pela keempat negeri dimaksud terkait Perang Amaika. Penyerbuan Uli Amaika (beragama muslim, uli cukup besar terdiri dari 4 negeri: Amaika, Amakihu, Riumete dan Asalaloi) oleh keempat negeri Aboru, Kariu, Booi dan Hualoy.

(Bartels menyebutkan bahwa hampir dipastikan saat perang Amaika itu Hualoy masih penyembah berhala [pagan]; dan mengutip Barloesius [1965], Hualoy menjadi Islam pada 1627 di mana mereka menyatakan simpatinya pada Ternate walau tunduk pada hukum Belanda. Dan menurut Bartels, masih mengutip Barloesius, Kariu saat itu murni sebuah desa penyembah berhala sesaat sebelum 1600)  

Perang yang sebenarnya dipicu soal asmara. Tua Saija suatu ketika tersinggung berat, pasalnya niatnya meminang puteri raja Amaika, ditolak malah dihina oleh sang puteri. Sang raja pun tersinggung pula, lantaran si puteri sudah dijodohkan dengan penguasa Oma.

Sangking besar dan kuatnya Uli Amaika, Kapitan Tua Saija meminta bantuan para saudaranya itu. Pasukan pun berdatangan dari Booi, Kariu, dan Hualoy.

Menurut Bartels, Uli Amaika akhirnya luluh lantak tak bersisa lagi di Pulau Haruku. Maka keempat Kapitan dari 4 negeri itu berkumpul di Hatuinameten, mengikrarkan kekerabatan pela di antara mereka. Kekerabatan pela yang sampai sekarang dikenal sebagai BAKH (Booi, Aboru, Kariu, Hualoy).

Dan dari keterangan Bartels–yang diakui mengutip Cooley–kisah pela di atas adalah (didominasi) versi orang Aboru.

Versi gandong Hualoy .

Sementara ada lagi versi Hualoy–kalau memang cukup absah informasi dari blog Jabal Samallo–klik 

http://aj-samallo.blogspot.com/2011/02/sekilas-tentang-hualoy.html.

Bahwa: Negeri Hualoy didirikan oleh Kapitan Russy dan Kapitan Ratu Tubaka, mereka berasal dari Nunusaku bersama adik-adiknya; Kapitan Tuasaya mendirikan Negeri Lealohi Samasuru (Aboru), Kapitan Pattisinar mendirikan Negeri Samahu Amalatu (Booi) dan Kapitan Tuaselei mendirikan Negeri Leamoni Kamasune (Kariu).

Lamun (namun) entah kenapa, Jabal Samallo tidak menyinggung sama sekali kekerabatan pela BAKH–yang sudah dalam hitungan abad diyakini rayat di keempat negeri itu. Malah Jabal menyebut kekerabatan pela dengan negeri-negeri lain seperti Amahusu, Laha, Hatalai, dan seterusnya. Hal yang memprihatinkan setidaknya bagi Redaksi AKLK dalam konteks generasi muda BAKH.

Jadi? .

Menurut hemat Redaksi AKLK, di satu pihak memang disayangkan sejarah leluhur Kariu tidak muncul dalam sebuah versi. Lamun pada pihak lain, biarkan kenyataan sejarah lewat budaya bertutur itu hadir dalam “berbagai versi”. Setidaknya Redaksi AKLK memilih untuk tidak “berpihak” pada salah satu versi, lamun (namun) mencoba “merangkum”-nya dalam sebuah “hikmah” berikut.

Pertama, ternyata ada pula orang Kariu yang meyakini asal usul leluhurnya adalah dari Pulau Seram. Hal yang diyakini sebagian (besar) orang-orang dari negeri-negeri lain.

Kedua, ternyata ada pula orang Kariu yang meyakini bahwa di antara silsilah leluhurnya, ada yang berasal dari luar Maluku yang bisa jadi bukan berkeyakinan nasrani. Hal yang sudah dibuktikan oleh para ahli pada beberapa negeri—termasuk dalam disertasi Bartels di atas.

Ketiga, budaya bertutur, setidaknya dalam budaya tradisional orang Ambon, orang Kariu khususnya, masih tetap hadir ketika dunia telah memasuki era informasi teknologi canggih seperti telepon genggam, internet. Redaksi AKLK melihatnya sebagai kekayaan tersendiri dari sebuah kearifan lokal. Ketika, sebagai sebuah misal, orang Ambon—seorang profesor doktor sekali pun—sudah mafhum adanya ketika diwanti-wanti: Jang bicara sabarang-sabarang kalo pulang ee (jangan bicara sembarangan kalau pulang ke negeri ya).

Isu culas, tak sadar ruang dan waktu: Pattimura itu Ahmad Lussy .

Hal terakhir di atas, Redaksi AKLK ingin tekankan pada sebuah isu culas, tak sadar ruang dan waktu.

Ketika kerusuhan Maluku sudah padam total, muncul isu bahwa Pattimura itu aslinya Ahmad Lussy. Asal negeri gandongnya Kariu, Negeri Hualoy, yang tentunya bukan seorang nasrani. Dan lagi-lagi memprihatinkan, bahwa gandong Jabal Samallo yang (ikut) melansir isu tersebut di blognya itu.

Dalam komentar kepada blog gandong Hualoy Jabal Samallo itu, Redaksi AKLK antara lain menyebutkan bahwa bukan tidak setuju sejarah diluruskan. Bahkan kalau kemudian terbukti Pattimura itu asal Hualoy, setidaknya bagi Redaksi AKLK, malah bangga. Bangga katong pung gandong sandiri (kita punya saudara kandung sendiri) yang memimpin perang dahsyat di Maluku melawan kolonial Belanda. 

Ini yang seharusnya ditonjolkan: menentang penjajah Belanda!

Dan bukannya meributkan urusan personal, keyakinan Pattimura atau Ahmad Lussy. Apalagi, jika kita ingat bahwa salah satu isu yang “dimainkan” untuk memerpanjang kerusuhan memasuki abad ke-21, (istilah Redaksi AKLK) “Zaman Vlaming Jilid 2”, di Maluku adalah “konflik agama” di samping “isu separatis”. Jadinya ini sebuah isu culas, tak sdar ruang dan waktu. Makanya, Redaksi AKLK mengusulkan pada pemilik blog itu agar isu ini “ditunda” dulu sampai situasi “kondusif”. 

(Redaksi AKLK menyayangkan, blog Jabal Samallo tersebut di atas tampaknya tidak pernah diperbarui sejak pengeposan terakhir medio Februari 2011. Sehingga tanggapan balik dari Jabal Samallo atas usulan Redaksi AKLK, hingga pengeposan (14/8) blog ini, belum ada).

Jadi: .

Analoginya dengan sejarah leluhur orang Kariu: buat apa kita harus bertengkar sengit perihal yang satu ini. Yang bernotabene adalah bagian dari adat istiadat. Sementara fakta hari ini perundang-undangan/seperangkat perda tidak sepenuhnya mendukung adat istiadat. Ini yang semestinya sengit dipersoalkan.

.

 Para Kades/Perangkat Desa Kariu  Semasa UU No 5/1979  dan  

Transisi UU No 32/2004  

 

1971-1975 : Kades Kariu tidak ada; penjabatnya dari perangkat desa, dengan catatan yang mendekati kebenaran, bahwa Sekretaris Negeri Kariu yang kemudian disebut Sekretaris Desa Kariu  Jopie Wattimena ayahanda Marsekal Udara Renny Wattimena (pernah berdinas di New York, Amerika Serikat; juga di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta), menduduki posisi strategis saat itu untuk tidak mengatakan sebagai Penjabat Kades Kariu secara informal.

1975-1980: Kades Kariu Baltazar Pattiwaelapia, akrab dipanggil Bapa Bala.

1980-1981: Kades Kariu Francis Takaria, SH, akrab dipanggil Bapa Banci.

1981-1985: Kades Kariu tidak ada, penjabatnya dari perangkat desa, informasi detail tidak tercatat.

1985-1993: Kades Kariu Zakaria Salaka, akrab dipanggil Bapa Cak.

1993-1995: Kades Kariu tidak ada, penjabatnya dari perangkat desa, informasi detail tidak tercatat.

1995-2008: Kades Kariu Andy Pattinasarany, akrab dipanggil Bapa Andy; Kades Kariu semasa kerusuhan, termasuk di pengungsian Tihunitu, petuanan Aboru (1999-2005), dan saat kembali lagi ke Kariu (2005-2008).

Bapa Andy namanya sempat beredar di kalangan elit politik Jakarta, malah sempat dipanggil oleh petinggi militer ke  Jakarta gara-gara sepucuk suratnya yang mengisahkan kejadian sebenarnya  penyerbuan Desa Kariu.

Mei 2008-November 2008: Penjabat Kades Kariu Marthina Pattiradjawane, akrab dipanggil Ibu Ince; pegawai Kantor Kecamatan Pulau Haruku.

. Bapa Andy: “Ikon” ..

Tidak jelas kenapa Kades Kariu Bapa Andy–yang merupakan kades semasa sebelum, selama kerusuhan hingga kembali dari pengungsian ke Leamoni Kamasune–perlu-perlunya digantikan Ibu Ince untuk waktu yang sangat pendek itu.

Padahal sosok Bapa Andy, setidaknya bagi Redaksi AKLK, adalah “ikon” (lambang, tanda) pas dari pemimpin sebuah negeri yang dimandulkan adatnya oleh sang penguasa kemudian berujung dengan malapetaka, untuk selanjutnya menyongsong era kembalinya negeri ke sistem pemerintahan adat seiring lengsernya sang penguasa penggusur masohi orang Ambon itu.

Sehingga saat penyerahan atau tepatnya peralihan dari Kades Kariu ke Raja Negeri Adat Kariu adalah dari Ibu Ince ke Bapa Emang, bukan dari Bapa Andy ke Bapa Emang.

Sehingga hilanglah sudah sebuah momen “estafet simbolik  bersejarah yang berdarah-darah”: dari sistem pemerintahan desa kepada sistem pemerintahan negeri adat.

Berbarengan, sadar tidak sadar, suka tidak suka, merupakan “ikon” pas pula atas “ketidakberdayaan” sistem pemerintahan negeri adat terhadap “bos”-nya kantor kecamatan dan kabupaten sesuai perintah perundang-undangan yang (ternyata) tidak berpihak pada desa/negeri adat.

. Kepiawaian Ibu Camat Soumena ..

Belakangan ibu muda ini tercatat sebagai pengelola program Raskin (beras untuk masyarakat miskin) pada 2009. Dan baru pada program Raskin 2010 dan 2011 ketika Camat Pulau Haruku dijabat Ibu Soumena, hak penanganan program Raskin ditangani oleh yang berhak: Raja NAK.

Maka ketika umpatan, makian yang keluar dari mulut seorang ibu muda pegawai negeri sipil sebuah kantor kecamatan  ditujukan pada Raja NAK, dan masih berlangsung sampai pengeposan (14/8) blog ini, sulit dibantah memang terkait hak penanganan program Raskin itu.

Di sinilah, kepiawaian (kelihaian) Ibu Camat Soumena–sebagai orang Ambon–dalam memaknai tugas tak ringan: “perpanjangan tangan” kantor kabupaten. Terlebih sebagai pelaksana sebuah perundang-undangan yang pada hakikatnya berseberangan dengan adat istiadat. 

Ya, itulah sebuah data terbarui lain lagi dari NAK, seperti sekalimat iklan Buku-e IPR [Ingin Pro-Rakyat] ini, “NAK: wajah suram sebuah desa di Indonesia”.

.

ooOoo

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: