2. Bidasan Redaksi … 14 Juni ’11 / Usulan Pelestarian Rumah Raja … (Terinspirasi Kubah Bom Atom Hiroshima)

Bidasan Redaksi AKLK atas Warita Singkat NAK

.

 Warita (berita) singkat NAK (Negeri Adat Kariu) 

.

Awal Juni 2011, dimulai renovasi atap Rumah Raja Negeri Adat Kariu (NAK). Rumah Raja yang dihuni Raja NAK Herman Pattiradjawane beserta Isteri sejak pelantikan di akhir 2008 lalu.

Renovasi penggantian atap daun sagu dengan atap seng.

Hal yang tak terelakkan berhubung dari segi ketersediaan, kualitas, dan harga, atap daun sagu kalah ketimbang atap seng. Selama ini, penggantian bagian-bagian yang bocor dengan atap daun sagu baru, tak bertahan lama. Ujung-ujungnya, biayanya perawatan atap terus membengkak.

Keluarga Besar dari Raja NAK atau secara adat disebut mataruma prentah (keluarga yang memerintah sebuah negeri secara turun-temurun) mengusahakan dana renovasi atap dimaksud secara masohi (gotong royong).

Perlu diketahui, bahwa Rumah Raja yang direnovasi dan dihuni Raja NAK, aslinya adalah bagian selatan Rumah Raja sebelum kerusuhan. Perbaikan (dan sedikit modifikasi) bagian selatan dimulai pada pertengahan 2007. Sementara bagian utara Rumah Raja, belum pernah diperbaiki. Sisa-sisa reruntuhan berupa undakan memasuki rumah, pilar-pilar penopang, dinding kamar-kamar yang sudah tak utuh, dan seterusnya kini merupakan saksi bisu.

Saksi bisu luluh lantaknya Leamoni Kamasune oleh para perusuh di Minggu pagi, 14 Februari 1999. Kerusuhan berdampak terusirnya rayat Kariu dari tanah pusakanya. Rayat Kariu berstatus pengungsi selama 6 tahun lebih (!).

Sebuah status kontradiktif dengan dunia yang bersiap memasuki milenium ketiga. Seributahunan ketiga yang disebut-sebut sebagai “era informasi berteknologi canggih”. Terlebih ketika negara tempat Desa Kariu bernaung, tidak dalam keadaan perang. Kecuali orang nomor satunya baru saja lengser dan beliau tercatat dalam sejarah secara legal menggusur adat istiadat etnik Ambon yang masohi itu.

Pada awal Juni lalu itu pula, tepat 6 tahun (6 Juni 2011) rayat Kariu kembali ke Leamoni Kamasune dari pengungsian (terbesar) di Tihunitu, kawasan, petuanan negeri Aboru, seputar pesisir timur-tenggara Pulau Haruku.

Bidasan (respons) Redaksi AKLK (Apa Kabar Leamoni Kamasune) 

.

“Usulan Pelestarian Rumah Raja Negeri Adat Kariu”

(Terinspirasi Kubah Bom Atom Hisroshima/Tulisan Fitrianto Dahono)

.

Sebagai bidasan atas warita singkat di atas, Redaksi AKLK melansir sebuah gagasan: “Usulan Pelestarian Rumah Raja Negeri Adat Kariu”.

Artinya, usulan yang berangkat dari bidasan atas dua hal. Pekerjaan renovasi atap Rumah Raja sekaligus peringatan 6 tahun rayat Kariu kembali dari pengungsian atawa berakhirnya status sebagai “Pengungsi” selama 6 tahun lebih (!).

Gagasan usulan pelestarian dimaksud, terinspirasi tulisan pewarta koran Kompas Dahono Fitrianto “Mencegah Dunia Lupa” (Kompas, 29/4/2011; simak kutipan utuh tulisan dimaksud di A-HALAMAN LAMPIRAN BUKU-E IPR klik 2a, atau klik ini—Red AKLK).

Tulisan yang relatif baru itu rupanya terkait heboh dampak buruk radiasi nuklir ketika 11 Maret 2011 lalu Jepang dilanda gempa 8,9 SR (Skala Richter, berpusat di kedalaman 24,3 km, 130 km timur Sendai, Honshu, atau 373 km tenggara Tokyo).

Menyusul tsunami dahsyat setinggi 4 m menghantam timur laut Jepang. Beberapa PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir) yang rusak berat berpotensi menyebarkan radiasi nuklir. Hal ini tampaknya menggelitik Kompas  untuk mengingatkan kembali dampak buruk peledakan bom atom di atas kota Hiroshima, Jepang, 6 Agustus 1945–juga kota Nagasaki pada 9 Agustus 1945.

Usulan kepada Pemerintah NAK 

Pertama, usulan pelestarian Rumah Raja NAK ini ditujukan kepada Pemerintah NAK.

Menurut hemat Redaksi AKLK, dalam konteks sebuah negeri adat, sejatinya Rumah Raja dipahami tidak lagi sebatas “kepunyaan” keluarga raja atau mataruma prentah. Rumah Raja sejatinya dipahami sebagai “bagian” dari sarana fisik sebuah negeri adat seperti misalnya baeliu, rumah adat tempat berlangsungnya acara-acara terkait adat istiadat.

Sehingga, keputusan pelestarian dimaksud seyogianya menjadi kewenangan Pemerintah NAK. Tentunya setelah bermusyawarah dengan mataruma prentah.

Kedua, maksud dari pelestarian Rumah Raja—seperti disinggung di atas—Redaksi AKLK terinspirasi dan lalu menganalogikan dengan ungkapan Dahono Fitrianto, “melestarikan memori tragedi itu agar Indonesia tak pernah lupa”.

Tidak pernah lupa bahwa kerusuhan berkepanjangan itu terjadi ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dalam keadaan perang. Kecuali, tercatat dalam sejarah, bahwa orang nomor satunya yang berkuasa 3 dekade lebih, relatif belum lama lengser; dan di bawah kepemimpinan beliau nyaris seperempat abad adat istiadat orang Ambon yang masohi (gotong royong: perasan terakhir Pancasila) itu tergusur secara legal.

Atau dengan menganalogikan tujuan kelompok penerjemah dan pemandu bagi para pengunjung kota Hiroshima—masih dari tulisan Dahono—bahwa pelestarian Rumah Raja dimaksudkan  untuk “menyampaikan pesan perdamaian agar kerusuhan yang sama tak terulang lagi”.

Tidak terulang lagi kerusuhan yang sama, berbarengan adat istiadat orang Ambon yang masohi (baca: Pancasila) itu telah ditegakkan kembali secara legal di awal abad ke-21 dan (ke depannya) harus ditegakkan dengan baik dan benar.

Ketiga, seperti halnya di Hiroshima ada Kubah Bom Atom yang dilestarikan dari reruntuhan gedung berlantai 3 Balai Industri Hiroshima, di NAK ada Rumah Raja bagian utara. Bagian utara Rumah Raja sebelum kerusuhan yang merupakan bagian depan rumah antara lain berupa teras dan tiga kamar tidur berdampingan. Kini tinggal sisa-sisa reruntuhan bangunan berupa undakan masuk, pilar-pilar penopang, dinding-dinding ketiga kamar tidur yang tak utuh, dan seterusnya.

Rumah Raja bagian utara inilah yang Redaksi AKLK maksudkan sebagai  “Usulan Pelestarian Rumah Raja Negeri Adat Kariu”.

Keempat, sebagai penutup usulan ini, Redaksi AKLK menurunkan catatan  berikut.

Bahwa seperti diwaritakan di atas, sejak naiknya Raja NAK Herman Pattiradjawane beliau dan isteri berdiam di Rumah Raja bagian selatan. Dan dengan begitu, Rumah Raja bagian utara itu belum pernah diperbaiki kecuali sempat dihias saat acara pelantikan.

Artinya, sadar tidak sadar, suka tidak suka, Rumah Raja bagian utara itu pada hakikatnya sudah “terlestarikan”. Terlebih Rumah Raja NAK berlokasi di jalan umum utama antarnegeri pesisir utara Pulau Haruku. Sehingga “pelestarian” itu hadir begitu saja di hadapan publik, secara “alamiah”.

Dengan catatan ini, Redaksi AKLK ingin mengingatkan dan menegaskan bahwa usulan pelestarian Rumah Raja NAK pada dasarnya berangkat dari sesuatu yang sudah ada. Bukan usulan yang mengada-ada.

Kiranya, Pemerintah NAK dapat memertimbangkan usulan ini dan adalah bagi kepentingan generasi mendatang jualah bila usulan ini diterima.

Terima kasih.

Redaksi AKLK “Penunggu” Buku-e IPR

Rumah Raja NAK bagian utara (medio 2007, prarenovasi bagian selatan). Tampak dari jalan umum utama/dari arah pantai/dari arah utara; undakan memasuki rumah, pilar-pilar, dinding kamar tidur depan yang tak utuh

Rumah Raja NAK bagian utara (medio 2007, prarenovasi bagian selatan). Tampak dari sisi kanan/dari arah barat

Rumah Raja NAK bagian utara (medio 2007, pascarenovasi bagian selatan). Tampak dari sisi kanan / arah barat; reruntuhan ketiga kamar tidur dengan dinding-dinding tak utuh; sisa-sisa lantai bersemen; di sebelah kanan terlihat Rumah Raja NAK bagian selatan yang telah direnovasi

Rumah Raja NAK bagian utara (medio 2007, pascarenovasi bagian selatan). Tampak dari arah selatan; latar belakang berwarna kebiru-biruan membujur dari barat ke timur adalah pegunungan di Pulau Seram; data terbarui (awal 2014) pegunungan itu sudah tertutup pepohonan yang membesar  sejak dibabat habis saat kerusuhan/NAK rata deng tana (awal 1999).

LKAK-Kubah Hiroshima

Hiroshima Peace Memorial

(Foto-foto koleksi Redaksi AKLK kecuali Kubah Bom Atom Hiroshima:  

http://www.japaneselifestyle.com.au/travel/hiroshima_history.htm)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: