1. Bidasan Redaksi…14 Mei ’11 (Raskin NAK & “Kemajuan” Camat P Haruku Soumena … Saniri bukan mitra Raja;Sekretaris Negeri tak perlu PNS … sejumlah tanya pascaSoeharto … penyerbu Libia 2011 … BRIC … film Wall Street 2 … untung ada Kiki Syahnakri … teori konspirasi Ahmadinejad … perjuangan Pattimura dalam kekinian … leluhur Pattileamonia orang Kariu)

Bidasan Redaksi AKLK atas Warita Singkat NAK.


Warita (berita) singkat NAK (Negeri Adat Kariu).

Jatah raskin (beras untuk masyarakat miskin) NAK periode 2011, pengurusannya dipegang oleh Pemerintah NAK (PNAK). Distribusinya ke rayat Leamoni Kamasune sudah sejak akhir April 2011, dan masih berlangsung saat tulisan ini diposkan.

Bidasan (respons) Redaksi AKLK (Apa Kabar Leamoni Kamasune).

.Suatu “kemajuan”

Ini suatu “kemajuan”. Bukan saja bagi PNAK tapi juga bagi atasan PNAK kantor kecamatan. Artinya, pihak kecamatan telah mengembalikan sepotong kedaulatan PNAK. Berkebijakan berbeda dengan dua camat sebelumnya.

Mengapa “kemajuan”?

Pasalnya, dalam dua tahun terakhir (2009, 2010), sejak PNAK tegak di Leamoni Kamasune pada akhir November 2008, pengurusan raskin tidak diserahkan kepada PNAK. Hal yang jelas-jelas melanggar ketentuan pemerintah pusat, bahwa raskin harus ditangani Kepala Desa.

Pelanggaran dimaksud di atas, kemudian menjadi terang benderang. Tercatat dalam sejarah, kedua Pak Camat Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku pada 2 tahun terakhir itu, dilengserkan sebelum masa jabatan mereka berakhir.

Keduanya, yang merupakan para pendahulu Camat Pulau Haruku yang sekarang dijabat—sejak Februari 2011—Ibu Drs SH Soumena, terindikasi pajekong (korup) terkait raskin. Bahkan salah seorang yang digantikan Ibu Soumena, sempat diperiksa Tim Penyidik Kejari (Kejaksaan Negeri) Ambon, dugaan pajekong raskin dan ADD/N (Anggaran Dana Desa/Negeri).

Itulah sebabnya, dalam 2 tahun terakhir itu (di mana PNAK tak dilibatkan), jatah raskin NAK disimpan di rumah salah seorang warga NAK yang adalah pegawai Kantor Kecamatan Pulau Haruku.  Pegawai kecamatan itu pula—dengan persetujuan (kedua) camat yang terindikasi pajekong itu tentu saja—bertindak bagai raja negeri, mendistribusikan jatah raskin NAK. Luar biasa!

Malah ketika PNAK berupaya untuk memeroleh kewenangan atas raskin dimaksud, berbuntut kekerasan. Raja diserang di rumah raja oleh preman kampung yang tak lain adik kandung sang pegawai kecamatan itu.

Ironisnya, pihak penegak hukum, pejabat tertinggi pengayom/mitra masyarakat tingkat kecamatan di pulau itu malah berpihak pada si penyerang. Si penyerang bahkan tidak pernah ditahan. Justru warga yang membela raja malah sempat ditahan. Dan bila raja balik menyerang, untuk membela diri sekalipun, bukan tidak mungkin PNAK hari ini tinggal kenangan.

Apakah pegawai itu akan dikenai sanksi oleh Ibu Soumena? Sampai tulisan bidasan ini diposkan, tak ada kabar.

Lamun (namun) yang pasti, Camat Ibu Soumena telah bertindak bijak. Mengembalikan kewenangan pengurusan raskin kepada PNAK. Ini yang Redaksi AKLK maksud “kemajuan” itu.

Sekaligus, sadar tidak sadar, setuju tidak setuju, Ibu Soumena—yang adalah juga orang Ambon—pada konteks PNAK, telah berperan dalam upaya menegakkan adat istiadat etnis/orang Ambon. Bahwa, raja adat itu memiliki kewenangan penuh atas rayatnya. Ini hakikat adat istiadat itu.

Di samping satu lagi harapan lain. Pejabat tertinggi institusi penegak hukum, pengayom/mitra masyarakat, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Sektor (Kapolsek) Pulau Haruku memiliki muka baru. Beliau adalah Kapten (Pol) Buang Pattileamonia—yang juga orang Ambon (bahkan leluhurnya anak NAK alias orang Kariu–simak sub judul Catatan Redaksi di bawah).

Sehingga, setidaknya bagi Redaksi AKLK, ada harapan bahwa kedaulatan PNAK itu akan didukung oleh pihak penegak hukum, pengayom/mitra masyarakat. Polri dalam hal ini.

Tetapi Redaksi AKLK perlu tegaskan, perlu wanti-wanti (berpesan sungguh-sungguh). Bahwa dengan meyinggung asal etnik kedua pejabat negara, atasan langsung dan pengayom PNAK itu, tidak ada niat sama sekali untuk menggiring pembicaraan ke arah fanatisme kedaerahan, kesukuan sempit.

Justru hal ini paralel dengan greget, semangat yang diusung Buku-e IPR ini. Semangat sekubu dengan barisan para jauhari (intelektual), politisi, pewarta tingkat nasional, dan seterusnya dalam upaya kembali ke Pancasila dan UUD 1945 asli. Hal yang sudah mencagun (muncul) dalam iklan Buku-e IPR sejak pengeposan-pengeposan beberapa bulan terakhir ini.

Pancasila dengan perasan terakhir, sari patinya adalah masohi—serapan dari bahasa Melayu Ambon­­­­­­­­­ bermakna gotong royong. Sesuatu yang bukan tanpa sengaja, membuat Soekarno menamai sebuah kota baru (1957) di dataran Nama pesisir Selatan Pulau Seram dengan “Masohi”. Kota yang sekarang menjadi Ibukota Kabupaten Maluku Tengah, kawasan asalnya sebagian besar etnik Ambon; bahkan Pulau Seram diyakini (banyak) orang Ambon sebagai asalnya para leluhur mereka.

.Sejatinya: Saniri bukan Mitra Kerja Raja & Sekretaris Negeri tidak perlu PNS.

Artinya pula, bagi Redaksi AKLK, orang-orang Ambon yang menempati posisi strategis—atasan/pengayom raja—justru diharapkan berperan lebih efektif dalam “memahami” sepak terjang raja menegakkan adat. Hal yang Redaksi AKLK kira bukan perkara mudah. Ketika legalitas, perundang-undangan yang ada justru tidak berpihak pada desa adat, pada negeri di Maluku. Atau dengan kata lain, terjadi intervensi oleh pemerintah (pusat terlebih daerah) atas kedaulatan pemerintah adat, pemerintah negeri.

Perintah perda (peraturan daerah) bahwa saniri merupakan “mitra kerja raja”. Atau Sekretaris Negeri berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Adalah contoh intervensi yang bayan (gamblang, jelas) bahkan melanggar hakikat adat istiadat itu sendiri. Kedaulatan pemerintah negeri terpangkas. Raja bagaikan macan ompong.

Dan, kembali Redaksi AKLK wanti-wanti, bukan untuk—yang bagi sebagian orang secara gampangan dituduh—membela “raja yang turun-temurun”, atau membela “sistem tidak demokratis”, dan seterusnya misalnya..

Redaksi AKLK tidak menutup mata pada kenyataan bahwa raja di dalam adat istiadat orang Ambon adalah secara turun-temurun. Bahwa, raja adalah dari mataruma prentah, dari keluarga yang “memerintah”.

Lamun, bukan di situ duduk perkaranya.

.Sejumlah tanya pascaSoeharto lengser.

Ketika seorang perwira tinggi angkatan darat, Soeharto, lewat Kudeta Merangkak (1965-67) menggulingkan Soekarno. Pertanyaannya, kenapa perlu-perlunya Soeharto menerbitkan perundangan-undangan (UU No 5/1979) yang berdampak adat istiadat orang Ambon lumpuh? Kenapa perlu-perlunya Soeharto menyamakan sistem perdesaan seluruh Indonesia seperti di Pulau Jawa? Padahal Soekarno justru sangat menghargai masohi itu. Sangat menghargai keberagaman itu.

Lalu ketika sang diktator korup itu lengser, masih juga menyisakan sejumlah pertanyaan. Semisal, kenapa terjadi kerusuhan berkepanjangan di Maluku? Bahkan dampaknya setara (atau bahkan lebih?) kekejaman kolonial Belanda ”Zaman Vlaming” selama 5 tahun (!) pada pertengahan abad ke-17 terkait perdagangan cengkih?

Kenapa isu konflik agama—sesuatu yang sangat berlawanan dengan Pancasila—mengemuka pada kerusuhan itu? Kenapa “tiba-tiba” RMS bermakna Republik Maluku Serani? Kenapa “tiba-tiba” Pattimura diisukan beragama Islam asal negeri muslim Hualoy yang tak lain adalah pela gandong dengan NAK? NAK yang diserang oleh “massa bersorban dan berjubah putih”—terekam audio visual dari helikopter (yang disebarluaskan?)? Kenapa rayat NAK khususnya, harus mengungsi begitu lama (6 tahun lebih!) padahal negara tidak dalam keadaan perang?

Kenapa perundang-undangan tentang desa yang lahir semasa reformasi (UU No.22/1999) perlu-perlunya diganti perundang-undangan yang kini tak berpihak pada perdesaan itu (UU No.32/2004)?

Nyaris paralel hari-hari ini. Kenapa kaum minioritas penganut Ahmadiyah kini “tiba-tiba” dipojokkan, bahkan perlu-perlunya dianiaya? Kenapa kaum muslim minoritas etnik Ambon akrab adat istiadat yang keberadaannya sudah sejak berabad silam kini “tiba-tiba” bertengkar (sampai mengorbankan jiwa) dengan saudara sendiri sekampung pula yang menganut Islam mayoritas?

Kenapa pertikaian soal tanah (sampai baku potong) antardua negeri orang Ambon sesama kristiani bertetangga pula, kini “tiba-tiba” heboh? Pertikaian kedua negeri yang sudah kesohor “lumrah” sejak jadul, jaman dulu, kenapa kini “tiba-tiba” menjadi “tak lumrah dan serius”? Sampai perlu-perlunya diwacanakan ke tingkat provinsi? Lalu di Jawa Tengah, Tumenggung, kenapa “tiba-tiba” terjadi penyerangan fisik gereja beragam aliran, daerah yang kesohor tinggi toleransi beragama?

Kenapa isu NII (Negara Islam Indonesia) “tiba-tiba” mencuat kembali? Kenapa komplotan pembuat bom “kebetulan” terkait NII serta lulusan perguruan tinggi Islam? Kenapa rumah kontrakan otak pembuat bom buku di Bekasi “kebetulan” persis bersebelahan dengan sebuah taman kecil tempat digelarnya kebaktian subuh memeringati Paskah 2011? Fakta yang kenapa tak (boleh?) “digembar gemborkan” media massa?

Kenapa di Indonesia, Islam “tiba-tiba” bagaikan institusi politik, “dicitrakan garang” pula? Lalu di tingkat dunia, kenapa “tiba-tiba” Osama yang “dicitrakan garang” itu ditembak mati, sekarang? Menyusul kisruh di Timur Tengah dan tokoh “dicitrakan garang” Moammar Khadafy Libia yang tak mudah menyusul tokoh “dicitrakan garang” lainnya Saddam Husein Irak yang berhasil dialmarhumkan dengan digantung?

Kenapa negara-negara kaya dan maju di bawah bendera PBB perlu-perlunya bukan dicitrakan lagi malah riil menjadi garang menggunakan kekerasan, persenjataan canggih untuk menggempur sebuah negara kecil Libia yang “dicitrakan garang” justru dari sudut pandang “demokrasi” dan “hak asasi manusia’? Sementara kenapa sebuah fakta riil bukan citra, Libia salah satu pemasok terbesar minyak dunia, tak “digembar gemborkan”?

.Para penyerbu Libia 2011; BRIC; film Wall Street 2

Maaf Pembaca Budiman. Bukannya Redaksi AKLK arogan, berbicara “setinggi langit”. Sok-sokan menyinggung-singgung perkara jauh di luar NAK. Lamun Redaksi AKLK percaya pada tesis sederhana berikut.

Bahwa terlalu mahal kerusuhan Maluku memasuki abad ke-21 lalu itu: “Zaman Vlaming Jilid 2”–Redaksi AKLK menyebutnya. Ikhwal yang mutlak tak boleh terulangi lagi. Tak boleh ada lagi “Zaman Vlaming Jilid 3”. Soalnya, Leamoni Kamasune sendiri nyaris hilang dari peta. Rayat NAK sendiri harus mengungsi 6 tahun lebih (!).

Dan salah satu upaya pencegahannya adalah dengan pemahaman situasi terkini negara di mana NAK berada. Dan keberadaan negara itu sendiri di dunia. Dunia yang kini tidak lagi senyaman jadul bagi para penyerbu Libia 2011. Lantaran negara-negara (dikenal sebagai) BRIC (Brasil, Rusia, India dan Tiongkok/China) tinggal menunggu waktu saja untuk mereka secara bersama mendominasi perekonomian dunia. Tanpa, ini yang berbeda dengan para penyerbu Libia 2011, invasi militer.

Nusantara yang bukan saja sejak berabad silam menjadi daya tarik para kolonial Eropa. Lamun kini pun menjadi incaran para penyerbu Libia 2011 itu. Lantaran satu-satunya pasar istimewa berpenduduk nomor 4 dunia yang masih “terbuka lebar tanpa hambatan”. Alamnya pun kaya raya, negaranya pun lemah, superkorup, biar miskin tapi tak soal. Bahasa kerennya, at any cost pasar istimewa ini kudu dipertahankan. “Bahaya” kalau sampai bergabung ke BRIC!

Maaf, Pembaca Budiman. Ini pula ciri kami selaku pewarta warga. Memanfaatkan teknologi canggih informasi. Lewat kemudahan teknologi, mencoba menukik masalah tak sebatas “di depan mata”. Di sini, pemelajaran dari sejarah menjadi penting. Setidaknya mencoba belajar dari sejarah. Sehingga, nah ini baru arogan, tak lagi mudah dibohongi para penyerbu Libia 2011 itu, misalnya.

Omong kosong para penyerbu Libia 2011 tentang “demokrasi” dan “hak asasi manusia”, adalah bagaikan busa-busa sabun menggelembung besar melayang tertelan di angkasa tinggi atau keburu pecah tak berbekas. Padahal sejatinya mereka itu “in Greedy we trust” (pada Kerakusan kita percaya), pelintiran dari “in God we trust” (pada Tuhan kita percaya), motto yang tercantum di dollar Amerika. Metafor (kiasan) yang Pembaca Budiman bisa simak dalam film Wall Street 2 dibintangi antara lain Michael Douglas, Shia LaBeouf (2010).

.Untung ada Kiki Syahnakri; teori konspirasi Presiden Iran Ahmadinejad  t

Untung, hari-hari ini ada seorang mantan perwira tinggi angkatan darat kita yang masih percaya pada akal sehat. Percaya pada hati nurani sebagai seorang warga sebuah negara berpopulasi terbesar nomor empat dunia, seluas daratan Eropa, kaya raya alamnya, ber-Bahasa (pengantar) satu-satunya, berdasar negara Pancasila yang mampu mencegah tercerai-berainya nasion multiunsur ini, berpenduduk mayoritas muslim terbesar dunia. Kiki Syahnakri, nama beliau.

Dari pemikiran seorang Kiki, duduk perkara, pertanyaan-pertanyaan di atas coba dijelaskan—secara tak langsung tentu saja.

Soalnya, jawaban-jawaban rasional ilmiah atas pertanyaan-pertanyaan di atas—Redaksi AKLK berani bertaruh—tak bakal ada. Kalau ada pun, normatif sifatnya untuk tidak mengatakan “klise dan membosankan”. Malah pertanyaan-pertanyaan itu berikut jawabannya, akan dengan mudah masuk dalam sebuah katagori nonilmiah bernama: “teori konspirasi”.

Ikhwal yang dengan entengnya dilontarkan Presiden Iran Ahmadinejad dalam forum resmi dunia  Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2010 lalu. Berdampak, para pejabat negara-negara maju protes meninggalkan sidang. Pasalnya, Ahmadinejad secara harafiah menggunakan “teori konspirasi” ketika mengkritik invasi Irak dan serangan 11 September 2001 di Amerika. (http://internasional.kompas.com/read/2010/09/24/10245177 /Obama.Ahmadinejad.Keterlaluan)

Dari pemikiran seorang Kiki, mafhumlah (mengertilah) kita, setidaknya yang Redaksi AKLK tangkap, bahwa sejak kejatuhan Soekarno itulah, gen darah Pancasila (baca: masohi, Red) tertransplantasi (tercangkokkan–Red) gen darah demokrasi liberal. Gen darah terakhir ini yang berciri diametral (berseberangan) dengan kolektivitas: kekeluargaan, musyawarah-mufakat, masohi  (gotong royong), toleransi.

.Memaknai perjuangan Pattimura  dalam kekinian.

Sehingga dari pemikiran Kiki itu, bagi Redaksi AKLK, ada ajar, ada petunjuk yang dipetik.

Bahwa, sejatinya perjuangan berlanjut dalam ruang waktu berbeda tapi pada alas semangat yang sama. Bukan semata perjuangan otot parang-salawaku vs bedil-bayonet. Lamun, perjuangan lanjutan atas alas semangat kakehan, masohi (gotong royong) ketika gen darah Pancasila tertransplantasi gen darah demokrasi liberal. Darah serupa yang dimiliki kolonial jadul itu.

Perlawanan macam ini, setidaknya menurut hemat Redaksi AKLK, sejatinya memaknai perjuangan Pattimura dalam kekinian, hari-hari ini di Nusantara ini. Terlebih di kawasan asalnya etnik/orang Ambon.

Inilah yang Redaksi AKLK ingin selalu garis bawahi, bahwa etnik Ambon dengan adat istiadat berciri masohi sejatinya adalah salah satu penyokong utama revitalisasi Pancasila yang kini, istilah Kiki itu, tertransplantasi darah demokrasi liberal. Sehingga, pemerintah yang atas nama “keamanan” selalu dan selalu mengkondusifkan situasi “ancaman separatis” setiap akhir April, dengan segala maaf, sejujurnya sangat menyinggung perasaan etnik Ambon—setidaknya Redaksi AKLK—yang proNKRI tanpa reserve. Ini harus dihentikan. Cukup. Suda jua (Sudahlah).

Selamat Hari Pattimura ke-194, 15 Mei 2011.

ooOoo

Catatan Redaksi .

Leluhur Pattileamonia orang Kariu

Menurut sebuah sumber yang terpercaya,  fam (marga) Pattileamonia leluhurnya ber-fam Patti dan merupakan anak negeri Leamoni Kamasune atau orang Kariu.

Berhubung oleh satu dan lain hal berselisih dengan kolonial Belanda (tak disebutkan tepatnya kapan),  sebagian keluarga Patti itu lalu pindah dan menetap sampai sekarang di Negeri Haria, Pulau Saparua. Di Negeri Haria mereka mengganti fam-nya dengan Pattileamonia. Sebagian lagi pindah dan menetap di kota Ambon dengan memertahankan fam Patti. Menurut sumber itu pula, keluarga Patti yang di Ambon itu masih memiliki kintal (tanah) di Negeri Adat Kariu (NAK) sampai saat ini.

Redaksi AKLK dengan segala kerendahan hati, berlapang dada bila sepotong kisah (lewat budaya tradisional orang Ambon) bertutur di atas mengandung ketidakakuratan ataupun ketidakbenaran, kiranya dapat dikoreksi. Termasuk, Redaksi AKLK akan sangat berterima kasih, bila kisah dimaksud dapat diperluas, dilengkapai semaksimalnya. Terutama informasi yang berasal dari anggota keluarga besar Pattileamonia maupun Patti–di mana pun berada.

Sebab tidak ada maksud lain dari Redaksi AKLK  selain ikut memerkaya, memerkuat bagian dari budaya Leamoni Kamasune.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: