02. Jakob Sumardjo: Makna Kesatuan Indonesia

Sabtu, 08 Oktober 2011 diposting pada kategori Kliping Media

http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v03/index.php?mod=berita&id=4835

Situs Resmi DPD PDI Perjuangan Jawa Timur

Makna Kesatuan Indonesia .

Oleh Jakob Sumardjo

Every part is disposed to unite with the whole, that it may thereby escape from its own incompleteness  Leonardo da Vinci

Ternyata Leonardo da Vinci seorang Pancasilais sejati. Novelis Perancis, Alexandre Dumas, juga seorang Pancasilais dengan ucapan “Satu untuk Semua, Semua untuk Satu”.

Sementara itu, orang Indonesia yang membanggakan Pancasilanya justru bersemboyan hidup ‘Lu lu, gue gue’ . Sikap hidup ini menunjukkan karakter seorang egois tulen yang paripurna. Merajalelanya korupsi di Indonesia, berkembangnya terorisme, dibakarnya rumah ibadah, dan digusurnya lahan rakyat menunjukkan bahwa hidup ini harus kurebut untuk kepentingan sendiri. Saya adalah kesempurnaan, yang lain tidak saya perlukan.

Keangkuhan diri sebagai yang paling sempurna, paling benar, dan paling tahu persoalan menggejala di media massa. Meski Leonardo da Vinci berbicara tentang kesempurnaan seni, esensinya berlaku pada kehidupan sehari-hari. Kesadaran bahwa diri saya tak sempurna dan saya hanya dapat sempurna kalau disempurnakan oleh ketaksempurnaan yang lain. Kesempurnaan itu kolektif dan holistis. Hidup ini saling butuh justru karena masing-masing berkekurangan. Kesempurnaan itu keseluruhan, bagian-bagian itu tak pernah sempurna.

Bagi Alexandre Dumas, penulis novel The Three Musketeers, yang berulang kali dibikin film di Hollywood, kesempurnaan pemain pedang itu harus empat: Athos, Porthos, Aramis, dan D’Artagnan. Keempatnya pemain pedang yang berbeda karakter, tetapi menjadi satu karakter pemain pedang sempurna tak terkalahkan ketika mereka bersatu padu. Semboyan mereka sebelum bertempur: Semua untuk Satu, Satu untuk Semua.

Sekarang orang Indonesia pendaku diri penganut Pancasila-Satu untuk Semua, Semua untuk Satu, serta “keseluruhan menentukan makna bagian”-justru mengaku diri sebagai yang mahasempurna. Sebagai yang sempurna, dia berhak mengadili pihak lain yang dinilai cacat, berhak menghukum dan membinasakan yang lain, serta berhak menentukan nasib dunia dan umat manusia ini.

Itu sebabnya ada keanekaragaman di Indonesia. Ada bukit, dataran rendah, pesisir, padang sabana, dan hutan rimba raya. Ada adat Melayu, adat Sunda, adat Jawa, adat Bugis, dan puluhan adat lain. Ada Islam, ada Protestan, ada Katolik, ada Hindu, ada Buddha, ada Konghucu. Ada penghasil kelapa sawit, padi, karet, dan berbagai tambang.

Masing-masing itu ada tidak untuk dirinya belaka, tetapi untuk yang lain juga karena kita ingin bermakna bagi semuanya yang ada itu. Jalinan hubungan kesatuan itu bukan karena ideologi, tetapi karena memang kebutuhan hidup menjadi sempurna, utuh, dan lengkap pada dirinya sendiri.

Tugas negara

Tugas negara tak lain dan tak bukan menguasai peta kekuatan serta kebutuhan yang berbagai macam ragam itu dan menyediakan infrastruktur kemudahan bagi terjalinnya hubungan-hubungan kebutuhan. Tugas negara mengesakan, menjadikan semua perbedaan itu dalam satu kesatuan hubungan nonlinear. Tugas negara bukan menguasai keberagaman itu buat dirinya, melainkan menjalankan keinginan beragam itu dalam satu jalinan hubungan saling menguntungkan.

Satu untuk semua, semua untuk satu. Negara untuk yang beragam, dan yang beragam untuk negara. Nenek moyang Indonesia telah memahami benar makna Bhinneka Tunggal Ika ini.

Mitologi Maluku Utara menyebutkan adanya kesatuan empat gunung atau empat pulau atau empat raja (Raja Ampat). Seorang bidadari turun mandi di dunia dan tertangkap serta dikawini raja di empat pulau. Anak pertama penguasa Pulau Bacan, anak kedua menguasai Jailolo, anak ketiga beraja di Tidore, dan anak bungsu berkuasa di Ternate. Maluku Utara terdiri dari empat kerajaan, tetapi masih bersaudara, seayah seibu yang sama.

Kesatuan empat kerajaan ini punya peran masing-masing. Bacan sebagai penguasa teluk, Jailolo penguasa tanjung, Tidore penguasa gunung, dan Ternate penguasa takhta. Penduduk Ternate dan Tidore dari dahulu kala sudah ada di situ, tetapi penduduk Bacan berasal dari Makian yang bergunung api dan penduduk Jailolo berasal dari Pulau Moti yang tandus. Jadi, ada kesatuan pribumi dan pendatang.

Mitologi orang Melayu lebih kurang sama. Nenek moyang raja Melayu, Sang Suparba, punya empat anak, dua lelaki dan dua perempuan. Anak-anak lelakinya mengawini Bintan dan putri Tanjungpura; anak-anak perempuannya kawin dengan raja-raja “luar”, China dan Majapahit. Maka, Bintan, Tanjungpura, China, dan Majapahit satu saudara. Peran empat kerajaan itu juga berbeda-beda, tetapi saling melengkapi demi kesejahteraan negara.

Belajar dari kearifan nenek moyang kita, negara ini juga telah membagi-bagi kekuasaan kepada empat anak-anaknya: kepresidenan, DPR atau perwakilan rakyat, kehakiman, dan angkatan bersenjata. Kempatnya adalah saudara-saudara belaka. Anehnya, keempat saudara Indonesia modern ini tidak saling melengkapi sebagai satu saudara, tetapi malah bertengkar saling berebut kekuasaan. Kalau “raja-rajanya” saja sudah bertengkar, apalagi rakyatnya! (*)

Jakob Sumardjo Budayawan

Sumber: Kompas 12/3/2011

2 Tanggapan to “02. Jakob Sumardjo: Makna Kesatuan Indonesia”

  1. Prihandoyo Kuswanto Says:

    Selama tidak paham terhadap “Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” maka tidak akan menemukan negara Indonesia yang sebenarnya. Sebab kita telah terjebak oleh Orde Baru, bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa itu diartikan negara menjamin rakyatnya menjalankan ibadah, toleransi beragama. Padahal maksud founding fathers tidak begitu. Sebab kata “Ketuhanan” itu kata sifat, maka negara ini dibangun berdasarkan sifat-sifat Tuhan. Apa sifat Tuhan itu? Salah satunya Tuhan Maha Adil. Maka negara harus bersifat adil pada rakyatnya dan seterusnya.

    Redaksi AKLK

    Terima kasih Bung Prihandoyo Kuswanto telah mampir di Buku-e IPR dan meninggalkan sebuah komentar.

    Redaksi AKLK menanggapi dengan mengutip bagian-bagian dari pidato Bung Karno Lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945. Khususnya bagian yang menyoal sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang berada pada sila ke-5 dalam pidato tersebut; serta sila yang Soekarno sebut waktu itu Kesejahteraan Sosial dan menduduki sila ke-4.

    Di bawah ini Redaksi AKLK kutip secara utuh dan berurutan sesuai naskah pidato tersebut: sila ke-4 dan sila ke-5.

    Prinsip no.4 sekarang saya usulkan.

    Saya di dalam di dalam 3 hari ini belum mendengar prinsip itu, yaitu prinsip kesejahteraan, prinsip: tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka.

    Saya katakan tadi: prinsipnya San Min Chu I ialah Mintsu, Min Chuan, Min Sheng: nasionalism, democracy, socialism. Maka prinsip kita harus: Apakah kita mau merdeka, yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, ya semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang pangan kepadanya? Mana yang kita pilih, Saudara-saudara?

    Jangan Saudara kira, bahwa kalau badan perwakilan rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat, di negara-negara Eropa ada badan perwakilan, ada parlementaire democratie. Tetapi tidakkah di Eropa justru kaum kapitalis merajalela?

    Di Amerika ada suatu badan perwakilan rakyat, dan tidakkah di Amerika kaum kapitalis merajalela? Tidakkah di seluruh benua Barat kapitalis merajalela? Padahal ada badan perwakilan rakyat!

    Tak lain tak bukan sebabnya, ialah oleh karena badan-badan perwakilan yang diadakan di sana itu, sekadar menurut resepnya Fransche Revolutie. Tak lain tak bukan adalah yang dinamakan democratie di sana itu hanyalah politieke democratie saja, semata-mata tidak ada sociale rechtvaardigheid—tak ada keadilan sosial, tidak ada ekonomische democratie sama sekali.

    Saudara-saudara, saya ingat akan kalimat seorang pemimpin Prancis, Jean Jaures, yang menggambarkan politieke democratie.

    “Di dalam Parlementaire Democratie,” kata Jean Jaure “Di dalam Parlementaire Demokcratie, tiap-tiap orang punya hak yang sama. Hak politik yang sama, tiap-tiap orang boleh memilih, tiap-tiap orang boleh masuk di dalam parlemen. Tetapi adakah kenyataan kesejahteraan di kalangan rakyat?”

    Maka oleh karena itu Jean Jaures berkata lagi:

    “Wakil kaum buruh yang mempunyai hak politik itu, didalam Parlemen dapat menjatuhkan minister. Ia seperti raja! Tetapi di dalam ia punya tempat bekerja, di dalam pabrik—sekarang ia menjatuhkan minister, besok ia dapat dilemparkan ke jalan raya dibikin werkloos, tidak dapat makan sesuatu apa.”

    Adakah keadaan yang demikian ini yang kita kehendaki?

    Saudara-saudara, saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politiek-economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial!

    Rakyat Indonesia sudah lama bicara tentang hal ini.

    Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimaksud dengan faham Ratu Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan kurang pakaian, menciptakan dunia baru yang di dalamnya ada keadilan di bawah kepemimpinan Ratu Adil.

    Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti , mengingat, mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu yang bukan saja persamaan politik, Saudara-saudara, tapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.

    Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat, hendaknya bukan badan permusyawaratan politieke democratie saja, tetapi badan yang bersama dengan masyarakatdapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid.

    Kita akan bicara hal ini bersama-sama, Saudara-saudara, di dalam badan permusyawaratan. Saya ulangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal!

    Juga di dalam urusan kepala negara, saya terus terang, saya tidak akan memilih monarchie. Apa sebabnya? Oleh karena monarchie “vooronderstelt erfelijkheid”—turun-temurun.

    Saya orang Islam, saya demokrat karena saya orang Islam, saya menghendaki mufakat, maka saya minta supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakkah agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepala negara, bak kalif, maupun amirul mukminim, harus dipilih oleh rakyat? Tiap-tiap kali kita mengadakan kepala negara, kita pilih.

    Jikalau pada suatu hari Ki Bagoes Hadikoesoemo misalnya, menjadi kepala negara Indonesia, dan mangkat, meninggal dunia, jangan anaknya Ki Hadikoesoemo dengan sendirinya, dengan otomatis menjadi pengganti Ki Hadikoesoemo.

    Maka oleh karena itu saya tidak mufakat kepada prinsip monarchie itu.

    Saudara-saudara, apakah prinsip ke-5? Saya telah mengemukakan 4 prinsip:

    1. Kebangsaan Indonesia
    2. Internasionalisme atau perikemanusiaan
    3. Mufakat atau demokrasi
    4. Kesejahteraan sosial

    Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri.

    Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya.

    Tetapi marilah kita semuanya bertuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara leluasa. Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan, yakni tiada “egoisme-agama”. Dan hendaknya negara Indonesia satu negara yang bertuhan!

    Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam maupun Kristen, dengan cara berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat menghormati satu sama lain.

    (Tepuk tangan sebagian hadirin).

    Nabi Muhammad SAW telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaambeid itu. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip ke-5 dari pada negara kita, ialah Ketuhanan yang bekebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur, Ketuhanan yang hormat menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau Saudara-saudara menyetujui bahwa negara Indonsesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!

    Di sinilah, dalam pengakuan asas yang ke-5 inilah, Saudara-saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Dan negara kita akan bertuhan pula!

    Ingatlah, prinsip ketiga, permufakatan, perwakilan, di situlah tempatnya kita mempropagandakan ide kita masing-masing dengan cara yang tidak onverdraagzaam, yaitu dengan cara berkebudayaan!

    (Sumber: buku Sukarno Pancasila dan Perdamaian Dunia [sebuah kumpulan pidato], Diterbitkan atas kerja sama: Inti Idayu Press-Yayasan Pendidikan Soekarno, Jakarta 1985, hlm 17-20; alinea-alinea baru ada yang tidak sesuai buku dimaksud, ini semata untuk “memanjakan” pembaca di layar monitor—Redaksi AKLK)

  2. Prihandoyo Kuswanto Says:

    Ketuhanan berasal dari kata Tuhan yang diberi imbuhan berupa awalan ke- dan akhiran –an. Penggunaan awalan ke- dan akhiran –an pada suatu kata dapat merubah makna dari kata itu dan membentuk makna baru.

    Penambahan awalan ke– dan akhiran –an dapat memberi perubahan makna menjadi antara lain: mengalami hal…, sifat–sifat … Contoh kalimat: ia sedang kepanasan. Kata panas diberi imbuhan ke- dan –an maka menjadi kata kepanasan yang bermakna mengalami hal yang panas. Begitu juga dengan kata Ketuhanan bermakna sifat-sifat Tuhan atau sifat-sifat yang berhubungan dengan Tuhan.

    Kata maha berasal dari bahasa Sanskerta/Pali yang bisa berarti mulia atau besar (bukan dalam pengertian bentuk). Kata maha bukan berarti sangat. Jadi adalah salah jika penggunaan kata maha dipersandingkan dengan kata seperti besar menjadi maha besar yang berarti sangat besar.

    Kata esa juga berasal dari bahasa Sanskerta/Pali. Kata esa bukan berarti satu atau tunggal dalam jumlah. Kata esa berasal dari kata etad yang lebih mengacu pada pengertian keberadaan yang mutlak atau mengacu pada kata ini (this–Inggris).

    Sedangkan kata satu dalam pengertian jumlah menurut bahasa Sanskerta maupun bahasa Pali adalah kata eka. Jika yang dimaksud dalam sila pertama adalah jumlah Tuhan yang satu, maka kata yang seharusnya digunakan adalah eka, bukan kata esa.

    Dari penjelasan yang telah disampaikan di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa makna dari Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah Tuhan Yang Hanya Satu, bukan mengacu pada suatu individual yang kita sebut Tuhan yang jumlahnya satu. Tetapi sesungguhnya, Ketuhanan Yang Maha Esa berarti Sifat-sifat Luhur/Mulia Tuhan yang mutlak harus ada.

    Jadi yang ditekankan pada sila pertama dari Pancasila ini adalah sifat-sifat luhur/mulia, bukan Tuhannya.

    Dan apakah sifat-sifat luhur/mulia (sifat-sifat Tuhan) itu? Sifat-sifat luhur/mulia itu antara lain: cinta kasih, kasih sayang, jujur, rela berkorban, rendah hati, memaafkan, dan sebagainya.

    Redaksi AKLK

    Sekali lagi terima kasih Bung Prihandoyo Kuswanto atas komentar di atas untuk melengkapi komentar pertama.

    Tanggapan kami, ini sebuah masukan bagus bagi kami dan berharap hal yang sama juga bagi khalayak umum termasuk di dalamnya para munsyi (ahli) Bahasa Indonesia lainnya terkait sila pertama Pancasila itu.

    Artinya, semoga respons dari publik dan para munsyi itu akan memerkaya pemahaman kita atas sila pertama itu. Terlebih Soekarno telah memberikan “kata-kata kunci” di sila yang kini menjadi sila pertama itu: bertuhan secara kebudayaan, Ketuhanan yang berkebudayaan.

    Dan di atas semua itu, kongko-plus (obrolan bermakna) lewat dunia maya semacam ini, lebih memerteguh keyakinan kita pada Pancasila sebagai dasar negara sejati; tidak seperti yang saat ini (meminjam Kiki Syahnakri) tertransplantasi demokrasi liberal yang sulit dibantah sebagai produk (meminjam Prof Sofian Effendi untuk ‘amandemen’ UUD 1945) UUD 2002–menjebabkan negara tercinta ini bisa jadi satu-satunya di dunia dengan 2 konstitusi yang diametral satu sama lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: