6 – Wawasan LK

Opini

“Agama Kristen Putih”

Tajuk di atas dikutip dari tulisan Johannes D. de Fretes (Om Nani) dalam bukunya “Kebenaran Melebihi Persahabatan” (KMP). Buku yang diresensi salah satu anggota Redaksi pada pengeposan (posting) lalu (14/04/09) di bawah judul “Latuharhary: Semangat Zaman”.

“Agama Kristen Putih” yang semula merupakan bendera bagi operasi penjajahan politik ekonominya, juga berperan dalam brain washing supaya kolonialisme Belanda diterima sebagai “Takdir Ilahi” dan Belanda sebagai unsur budaya superior. Untung sekali nilai hidupnya bersumber pada Tuhan sehingga penghayatan praktis dari agamanya tidak menimbulkan frustasi.

Berkat sistem gotong royong masohi dan pela maka politik diskriminasi dari agama “Kristen Putih”nya tidak mengganggu kerukunan hidup beragama di Maluku. Suku bangsa ini diasingkan dari mata pencaharian yang tradisonal. Belanda membangun suatu mekanisme yang distimewakan untuk turut meneguhkan kolonialisme di Nusantara ini. (KMP hal.43)

Begitu penjelasan lanjut Om Nani ketika beliau sebelumnya seakan mentabaoskan “Merdeka” berarti dikembalikan kepada yang punya (pusaka). Pattimura mati di tiang gantungan. Mayatnya dipertontonkan dalam kurungan besi untuk menakuti rakyat Ambon. Begitulah kekejaman Belanda. Pusat-pusat kebudayaan dan tempat-tempat upacara  adat dihancurkan. (KMP hal. 43).

Demikian kutipan resensi dimaksud seperti dimuat pada pengeposan lalu itu.

Bartels dan Tamrin

“Agama Kristen Putih” yang disebutkan Om Nani sebagai brain washing itu, menarik untuk disimak “kelanjutannya”—hari-hari ini—melalui pendapat antropolog asal Amerika Dieter Bartels. Setidaknya itu yang penulis tangkap dari tulisan Bartels “Tuhanmu Bukan Lagi Tuhanku” (TBLT; lihat penjelasan di akhir tulisan—pen).

Coba kita simak apa kata Bartels.

…Saat Gereja Protestan Maluku (GPM—pen) menjadi mandiri dari Gereja Reformasi Belanda pada tahun 1935, para pemimpin gereja baru, yang adalah penduduk asli, melanjutkan serangan sporadis terhadap adat yang telah dilakukan oleh pendeta kulit putih dan ada ketegangan terus-menerus antara kalangan Kristen dan pemimpin adat di desa-desa…

Secara  umum, pemangku adat yang mendapatkan jabatannya karena keturunan mempertahankan kebiasaan dan juga posisi mereka dengan klaim pemisahan “gereja” dan “negara.” Masalah ini diselesaikan dengan menyamakan kewajiban terhadap leluhur dengan kewajiban terhadap penguasa, mengutip perkataan Yesus dalam Perjanjian Baru, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah…”[20]

…Setelah Perang Dunia II beberapa pendeta Kristen muda diberi kesempatan belajar di sekolah teologi ternama di Eropa dan Amerika Serikat. Setelah para pendeta ini memperoleh posisi pemimpin di gereja, mereka berusaha untuk mencapai standar yang dapat diterima secara universal untuk agama Protestan sehingga mereka berusaha untuk “memurnikan” Kristen Maluku dengan membersihkan pemujaan leluhur dan setiap kebiasaan yang berlawanan dengan ajaran Kristen. Namun, pada tahun 1970-an, kaum elit adat masih berdiri teguh di tempatnya, terutama untuk hal yang menyangkut adat yang sangat penting untuk hubungan sosial internal atau eksternal.[21]

…Saya masih ingat sekali perbincangan dengan seorang pemimpin gereja paling berpengaruh yang mengatakan bahwa gereja ingin membersihkan “adat yang buruk” seperti pemujaan leluhur tetapi menjaga “adat yang baik” seperti pela.

Saya menjelaskan bahaya memisahkan pela dari landasan yang sangat mendasar dengan menghilangkan pemujaan leluhur, dan saya menyatakan bahwa saat leluhur sudah tidak ada, jembatan yang menghubungkan Kristen dengan Muslim akan hilang sehingga keduanya akan berada dalam konfrontasi langsung.

Pada masa selanjutnya itulah yang terjadi: Gereja memusnahkan leluhur, menyamakannya dengan kekuatan setan. Di dalam jemaat ditanamkan perasaan bersalah yang hebat. Mereka disebut bukan Kristen jika memuliakan nenek moyang. Gereja juga “membaptis” upacara-upacara adat. Daripada menentang mereka, seperti telah dilakukan sebelumnya, gereja menerima mereka tetapi mengharuskan mereka melakukan dalam konteks Kristen, didominasi oleh doa-doa Kristen.[22]

…Gereja sangat berhasil melakukan Kristenisasi upacara-upacara pakta perjanjian pela, dalam kekerabatan yang hanya melibatkan desa-desa Kristen, dengan cara-cara yang jauh mengurangi kepentingan leluhur. Secara tidak langsung, menurunnya peran adat di desa-desa Kristen juga menghapuskan dasar umum interaksi dengan anggota pela dari kalangan Muslim yang mengarah pada semakin jauhnya jarak sosial antara Kristen dan Muslim dalam kekerabatan antar kepercayaan.

Pengalaman yang semakin lama semakin dikelilingi oleh imigran Muslim menjadi alasan kuat mengapa warga desa Kristen lebih memusatkan pada Kekristenan. Mereka yang pada masa penjajahan dan pasca penjajahan dengan keras menolak perintah gereja untuk meninggalkan leluhurnya, sekarang mereka malah lebih dekat kepada Tuhan karena ketakutan terhadap dominasi Muslim yang semakin kuat. Orang-orang Kristen yang lahir di kota telah kehilangan sebagian besar adat dan selalu lebih menekankan kepercayaan Kristen mereka.

Faktor penting lain dalam hal keampuhan gereja menghancurkan adat adalah perubahan generasi pemangku adat. Generasi yang lebih muda, pasca kemerdekaan, bertumbuh dengan perhatian kepada adat yang lebih longgar dibandingkan dengan generasi tua. Mereka kurang bersedia untuk mendengarkan orang tua mereka dan mereka tidak terlalu dipaksa. Pengaruh barat lebih kuat mempengaruhi pikiran mereka dan mereka ingin disebut modern. Kekristenan diasosiasikan dengan budaya barat dan modern; leluhur adalah momok masa lalu.

Dari kutipan Bartels di atas, perlu penulis tegaskan seyogyanya para pembaca budiman membaca secara utuh seluruh tulisan beliau. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari anggapan seolah penulis “sekadar mencomot” satu dua pikiran Bartels lantas mengalamatkannya ke gereja, GPM dalam hal ini.

Pasalnya, di awal tulisan itu Bartels jelas sekali memposisikan dirinya. Posisi berbeda dengan sosiolog Tamrin Amal Tomagola, misalnya, yang menuduh adanya provokator di balik kerusuhan berkepanjangan di Maluku memasuki abad ke-21 itu. Bartels, sebagai seorang antropolog, mentitikberatkan pada penyebab internal.

Kutipan berikut dari bagian awal tulisannya, akan lebih menjelaskan posisi Bartels.

Dalam makalah ini, saya ingin memfokuskan pada beberapa penyebab internal yang kemungkinan mengarah pada situasi saat ini. Untuk itu, saya secara jelas membatasi analisis ini pada konflik Muslim-Kristen etnis Ambon di Maluku Tengah[4] yang merupakan kelompok etnis dominan di Maluku, bahkan sejak Belanda menjadikan Ambon pusat kekuasaannya pada awal abad ke-17, jauh melebihi pengaruh kesultanan Muslim Ternate dan Tidore yang sangat kuat di Maluku Utara[5].

Pertama saya akan memberikan tinjauan historis umum tentang hubungan orang Ambon Muslim-Kristen dan menguraikan berlakunya sistem kekerabatan pela, dan bagaimana pentingnya sistem ini berperan dalam mengikat kesatuan etnis masyarakat Ambon melintasi batas-batas agama.

Kemudian saya akan membahas beberapa faktor yang mungkin merupakan penyebab melemahnya pela dan sistem kepercayaan tradisional yang akhirnya membawa kehancuran bagi kesatuan etnis. Beberapa penyebabnya bersifat internal, seperti Islamisasi dan Kristenisasi yang terus-menerus, lainnya berkaitan langsung dengan kebijakan Indonesia yang dimulai pada tahun 1970. Selain itu saya juga berusaha untuk melihat sepintas ke masa depan budaya dan masyarakat Ambon yang masih belum pasti.

Jelaslah pula bahwa tidak saja “Kristenisasi” tapi juga “Islamisasi” disebutkan Bartels sebagai “beberapa penyebab bersifat internal”. Di samping “kebijakan Indonesia” yang kita mafhumi (ketahui) bersama tak lain  adalah UU No.5/1979 perihal penghapusan pemerintah negeri adat digantikan pemerintah desa. Undang-undang yang pernah disinggung oleh blog ini (pengeposan 15/03/09, rubrik “Dari Redaksi”—pen).

Bagi penulis sendiri, perbedaan sudut pandang  antara Bartels dan Tamrin justru “saling melengkapi”. Seperti dikatakan Bartels sendiri. Sebesar apapun hasutan dari luar untuk menyulut peperangan yang terjadi saat ini antara dua kelompok agama, pertumpahan darah tidak akan terjadi jika tidak ada lahan yang subur untuk mendukung tumbuhnya pertikaian. Jadi, sebaliknya, menurut hemat penulis, tanpa bibit unggul yang ditebar di lahan sesubur apapun tak bakal menuai apa-apa.

Malah “faktor provokator”—seperti yang disebut-sebut Tamrin itu—bagi penulis pada gilirannya akan membawa pada pertanyaan “unik”. Pertanyaan yang jawabannya dapat dieksplorasi lebih lanjut dengan merujuk ke “kenyataan objektif” di dalam masyarakat itu sendiri.

Semisal pertanyaan terkait pembantaian dengan korban terbesar dunia abad ke-20: “Siapakah yang diuntungkan hari-hari ini dengan pergantian kekuasaan berdarah-darah pada 1965 di Indonesia?” Indonesia yang hari-hari ini sangat komsumptif, pengutang tak-lunas-lunas. Pasar (masih lebar) terbuka terbesar satu-satunya di dunia, tak berproduksi signifikan dan strategis, tak mampu berdiri di atas kaki sendiri. Kekayaan alamnya ajek tersedot ke luar negeri, miskin tak-makmur-makmur, jurang kaya-miskin luar biasa lebar. Hukumnya mulur-mengkeret seturut uang dan kuasa, religiositas (kesalehan) sebatas lahiriah karenanya korup dan kekerasan adalah hal “biasa-biasa saja”—menjadi urusan “dunia”. Jati diri rentan terkikis lantaran tak sadar ideologi. Getol berprivatisasi ria sementara adidaya yang dipanuti, malah negaralah dewa penolong ketika swastanya memble bangkrut. Tak tercantum dalam BRIT (Brasil, Rusia, India, Tiongkok)—empat negara berpenduduk terbesar dunia yang bakal menonjol ekonominya pada 2050 menurut ramalan versi Goldman Sachs. Tak cukup pede (percaya diri) dengan bahasanya sendiri: bahasa pengantar negara berpenduduk nomor empat terbesar dunia (sampai, misalnya, bangga menggusur kata-kata cantik “Tionghoa” dan “Tiongkok” dengan kata “China” berikut lafalnya secara Inggris: “cai-ne”). Dan seterusnya, dan seterusnya.

Atau pertanyaan serupa terkait tulisan ini: “Siapakah yang diuntungkan hari-hari ini dengan konflik berkepanjangan di Maluku memasuki abad ke-21?”

Gereja dan Pemerintah Negeri Adat

Adalah Pemerintah Negeri Adat Kariu (PNAK) melayangkan surat penangguhan pembangunan (bukan pelarangan pembangunan—pen) gedung gereja baru (lagi) kepada panitia terkait. Alasan PNAK pun sangat gamblang: keamanan dan kondisi masyarakat (lihat pengeposan 15/3/09—pen). Faktor keamanan yang sangat dipahami betul oleh setiap orang Kariu dewasa yang tinggal di Leamoni Kamasune. Faktor yang selalu saja hadir berpuluh-puluh dekade terakhir bahkan (ironinya) pascakembali dari Tihunitu—sampai saat ini.

Lalu, ketika pembangunan gereja terus berlanjut tanpa hirau PNAK yang sah secara adat dan hukum RI, maka apa yang dikemukakan Om Nani “dilanjutkan” Bartels di atas seolah menjelaskan duduk perkaranya. Perkara lama, persoalan lama ketidakseiringan kedua  institusi itu.

Dua institusi yang oleh orang Ambon atau setidaknya bagi orang Kariu disebut sebagai “Bapa deng Mama” (Bapak dan Ibu). PNAK itu diibaratkan sebagai Bapak dan Gereja itu sebagai Ibu—dalam sebuah rumah tangga. Dengan sendirinya, Bapa adalah pemimpin rumah tangga dan Mama adalah pendamping sang pemimpin. Keputusan-keputusan terlebih yang penting dan strategis sifatnya ada di tangan Bapa. Maka sangat masuk akal setiap kebijakan sang Mama, Gereja, yang melangkah jauh keluar melewati kewenangannya sebagai pelayanan kerohanian masyarakat sepatutnya dimusyawarahkan ke sang Bapa. Semisal, pembangunan gereja baru (lagi) di Leamoni Kamasune.

Pemahaman “Bapa deng Mama” inilah, sejatinya adalah hakekat dari adat istiadat di Maluku, Leamoni Kamasune khususnya. Hal yang sejajar dengan pendapat Bartels, bahwa pemujaan  kepada leluhur sebagai landasan kekerabatan pela. Yang bagi penulis, adalah juga penghormatan kepada yang lebih tua, kepada kakak, kepada orang tua, kepada Bapa Raja sebagai Kepala Negeri Adat sekaligus Kepala Adat.

Otokritik Eka Darmaputera

Tulisan ini, tentu saja bukanlah dalam koridor  keimanan meski yang dibicarakan adalah gereja. Sehingga ketika penulis mengutip pemikiran Eka Darmaputera, seorang pendeta yang melayani sampai akhir hayatnya di Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat (GKI Jabar) Jl. Bekasi Timur, Jakarta Timur, adalah dalam koridor yang sama. Eka, dalam tulisan ini, penulis tempatkan sebagai jauhari (cendekiawan) teolog Kristen Protestan sejajar dua tokoh sebelumnya politisi Johannes D. de Fretes (Om Nani) dan antropolog Dieter Bartels. Ketiganya adalah tokoh-tokoh kelas dunia, di mata penulis.

Malah, penulis sebut sebagai “otokritik” (kritikdiri) dari Eka, lantaran tulisannya yang penulis kutip (lihat penjelasan di akhir tulisan—pen) berikut ini.

…Satu hal sudah jelas, orang yang terlampau sibuk dengan urusan dalamnya sendiri, organisasi yang terlampau sibuk dengan urusan dapurnya sendiri, lama kelamaan akan menjadi seperti katak di bawah tempurung. Katak tersebut hanya mengenal dunianya yang sempit itu, seolah-olah itulah satu-satunya persoalan yang paling besar dan utama di dunia ini.

Katak itu jadi amat terkejut ketika tempurung itu dibuka orang. Ternyata dunia ini jauh lebih luas! Persoalan-persoalan yang ada jauh lebih luas dan rumit! Matahari itu begitu menyilaukan mata!

Sayangnya, sering kesadaran ini sudah terlambat. Bahaya-bahaya besar segera menyergap sebelum ia sempat bersiap. Kematian sudah menyongsong sebelum dirinya siap menolong. Alangkah sayangnya.

Sekarang saya ingin berbicara tentang keadaan umum Gereja-gereja di Indonesia. Dengan segala hormat dan penghargaan atas segala sesuatu yang telah diperoleh melalui usaha-usahanya selama ini, saya melihat keadaannya tak jauh berbeda dengan apa yang diungkapkan di atas. Dengan segala cinta saya yang tulus kepada Gereja, saya merasa berkewajiban untuk menyampaikan hal ini.

Bahwa tidak jarang sikap hidup Gereja-gereja kita juga seperti katak di bawah tempurung itu. Menutup diri terhadap persoalan dunia luar yang lebih luas, dan membiarkan diri terlarut dalam persoalan dalam yang tak habis-habisnya. Membesar-besarkan persoalan yang kecil, sebaliknya meremehkan persolan yang besar. Ini memang dapat dimengerti. Kalau gereja memang hanya bekerja memuaskan selera anggota-anggotanya, sampai kapankah ia pernah akan terpuaskan?

Bukan saya hendak mengatakan bahwa persoalan itu tidak penting. Atau memberi kepuasan kepada anggota-anggota gereja itu tidak perlu. Saya tidak mengatakan hal itu. Tetapi, soal yang besar ialah bahwa Gereja sering lupa apakah sebenarnya tugas pokoknya berada di dunia ini. Ia tidak lagi menghayati hakikat dirinya sebagai pelaksana misi Allah untuk dunia ini, sebagai penyalur kasih Allah untuk dunia ini.

Banyak orang mengatakan begini: Kita toh baru berhasil mengusahakan apa-apa keluar, kalau urusan dalam sudah beres terlebih dahulu. Kita toh baru dapat memberikan apa-apa kepada orang lain, kalau kita sendiri sudah merasa berkecukupan. Karena itu sibuklah gereja memperluas gedung Gerejanya, memperbaiki struktur organisasinya, memperkuat posisi keuangannya, dan sebagainya.

Sekali lagi, bukan berarti bahwa yang dikemukakan itu tidak penting. Semua itu memang penting. Kalau di dalam kacau balau, bagaimana mungkin ia dapat keluar. Kalau di dalam lemah, bagaimana ia akan kuat keluar. Benar!

Tetapi, proporsi persoalannya sering tidak di situ. Yang sering menjadi kenyataan ialah, bahwa pelayanan ke dalam itu kemudian menjadi tujuan pokok, dan pelayanan ke luar jadi pekerjaan sambilan, jika ada waktu dan dana yang tersisa. Memperkuat diri ke dalam, tidak lagi menjadi alat untuk dapat melayani ke luar. Tetapi justru menjadi penghambat, penghalang, dan perintang.

Padahal, ketika pintu-pintu kita semua tertutup, maka membuka pintu-pintu itu akan mengundang angin yang segar untuk masuk. Jadi bukan ke dalam dulu baru baru ke luar, tetapi kedua-duanya saling mempengaruhi. Kita membina diri ke dalam, supaya dapat bertugas keluar. Tetapi sebaliknya juga benar, dengan meluaskan sasaran tugas kita keluar, pembinaan diri ke dalam akan lebih terangsang.

Bayangan yang mengganggu tentang kehidupan Gereja-gereja kita ialah: bahwa lama-kelamaan berkembang menjadi seekor laron betina. Yang bertugas hanya untuk bertelur. Karena itu badannya makin lama makin gemuk, sampai ia tak dapat bergerak lagi!

Tidakkah Anda akan menjawab: bahwa nyanyian-nyanyian yang terdengar itu memang menarik hati, bahwa upacara-upacara di dalamnya itu memang enak untuk dilihat, bahwa arsitektur gedungnya indah dipandang mata, bahkan kerukunan hidup anggotanya membuat orang iri hati? Tetapi sekali lagi, apakah gunanya Gereja itu untuk Anda? Jawabnya: dengan segala maaf, tapi saya tak merasa mendapat apa-apa dari Gereja itu.

Herankah kita jika orang menjadi iri melihat kita? Herankah Saudara-saudara jika orang tidak merasa rugi dan sayang melihat gereja dibakar atau dihancurkan? Karena Gereja hanya menjadi persekutuan eksklusif. Karena Gereja hanya berpikir tentang ketentraman anggota-anggotanya.

Yesus mengatakan, bahwa hanya orang bodohlah yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang (takaran atau ukuran untuk beras misalnya; 1 cupak = ¼ gantang—pen) Padahal, mestinya pelita diletakkan di atas kaki dian ( pelita—pen), supaya ia dinikmati oleh seluruh ruangan.

Tapi sayangnya yang bodoh itu yang sering kita lakukan. Kita menutup dian itu hanya untuk kita nikmati sendiri, tanpa sadar, pelita itu sebentar saja akan padam karena kekurangan udara.

Soalnya bagi kita, sekali lagi, ialah soal mendahulukan apa yang harus didahulukan, mengutamakan apa yang harus diutamakan. Bukan supaya Gereja terlampau gemuk sehingga sukar bergerak. Bukan juga supaya Gereja terlampau kurus, sehingga tidak mampu bekerja. Tetapi, supaya terang itu bercahaya di depan orang, supaya dunia melihat perbuatan kita yang baik, dan memuliakan Bapa di sorga.

Orang Kariu Berkata

Hari-hari ini jumlah masyarakat Kariu yang keluar untuk ber-masohi (gotong-royong) turun drastis, ketimbang awal pencanangan pembangunan gereja baru (lagi). Sumber Redaksi di Leamoni Kamasune menyebutkan,  bahwa dari sekitar 50-60 orang warga per sektor, kini tinggal 4-7 orang warga per sektor. Itu pun sudah termasuk dua anggota panitia yang bertanggung jawab atas teknik sipil pembangunan.

Dan selama proses pembangunan lalu itu, sumber Redaksi mencatat beberapa komentar orang Kariu. Atau mengutip istilah yang dipakai di blog untuk yang berkomentar: “orang Kariu berkata”.

“Panitia ni ator karja tar batul (Panitia ini mengatur kerja tidak betul). Katanya satu minggu cuma 4 hari (Senin, Selasa, Rabu, Kamis untuk 4 sektor jemaat secara bergantian pada minggu-minggu berikutnya—pen). Nyatanya, kadang Jumat juga Sabtu dong suru karja lai (mereka/panitia malah menyuruh kerja).”

Katong deng ekonomi stenga mati ni, musti tahang pembangonan greja basar ni. Bagemana?” (Kami dengan keadaan ekonomi setengah mati ini, mesti mendukung pembangunan gereja besar ini. Bagaimana?).”

“Panitia ni dong pintar (Panitia ini, mereka pintar). Sedia semen trus (terus). Warga dapa suru angka (disuruh mengangkut) batu, pasir. Katong musti karja trus (Kami mesti kerja terus). Kaseng dorang bilang (kalau tidak, mereka/panitia bilang ) semen jadi batu.”

Gereja?

Politisi, antropolog, teolog, tak ketinggalan warga Leamoni Kamsune pun sudah angkat bicara soal gereja. Lebih spesifik, soal pembangunan gereja baru (lagi) di NAK. Maka giliran institusi keagamaan ini dibubuhi tanda tanya besar. Gereja?

Maksudnya, di manakah posisi sebuah institusi keagamaan suatu negeri adat ketika ia terus menerus mengabaikan  pemerintah negeri adat yang sah di bawah aturan adat istiadat maupun perundang-undangan Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Tulisan ini pada dasarnya adalah sebuah upaya optimal bidang jurnalistik untuk memberi masukan pada gereja di NAK. Gereja yang tak mungkin lagi “berkelakuan baik” seperti era “Gereja Kristen Putih”-nya Om Nani. Masukan yang, mudah-mudahan, dapat membantu memberikan jawaban atas pertanyaan di atas itu: “Gereja?”

Catatan:

  1. TBLT dengan sub judul “Perang Saudara Muslim-Kristen di Maluku Tengah (Indonesia) Setelah Hidup Berdampingan dengan Toleransi dan Kesatuan Etnis yang Berlangsung Selama Setengah Milenium” karya Dr. Dieter Bartels. Tulisan utuh yang bisa diakses lewat mesin pencari Google di dunia maya dengan mengetik: Tuhanmu Bukan Lagi Tuhanku.
  2. Eka Darmaputera, tokoh nasional Kristen Protestan, biodata singkatnya bisa disimak pada blog ini pengeposan 15 Maret 2009. Kutipan dimaksud diambil dari tulisan beliau bertajuk “Seperti Pelita di Bawah Gantang” yang dimuat dalam bukunya “Hidup yang Bermakna”  Khotbah-khotbah tentang Kehidupan Kristen (Cetakan I 2006, Gunung Mulia, Jakarta).

Komentar dapat juga dikirim ke email Redaksi: kariu.apakabar@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: