Dari Redaksi-14 Mei 2009

oleh kariuxapakabar

Kariu Baru (4)

Pembaca budiman, Selamat Datang di blog kami pengeposan 14 Mei 2009. Seperti pernah disinggung pada pengeposan sebelumnya, kali ini pun masih dengan tajuk yang sama “Kariu Baru”—bernotasi “4”. Artinya, pada pengeposan ini, visi Pemerintah Negeri Adat Kariu (PNAK) kembali mengemuka.

Keputusan Pengadilan Adat terkait ganti rugi berupa uang tunai yang dipatuhi oleh pihak yang dikenai sanksi. Atau, tulisan salah satu anggota Redaksi mengenai “Gereja Kristen Putih”. Adalah satu dua contoh, betapa jalan menuju “Kariu Baru” itu di satu pihak memang tak mulus. Tetapi di pihak lain, ayunan langkah(-langkah) “kecil” adalah nyata adanya.

Ketidakseiringan gereja dan pemerintah adat rupanya bukan hal baru. Politisi Johannes D. de Fretes (dalam bukunya “Kebenaran Melebihi Persahabatan”) telah menyebutkan gereja yang pernah menjadi bagian dari proyek penjajahan Belanda. Antropolog Dieter Bartels (dalam tulisannya “Tuhanmu Bukan Lagi Tuhanku”), yang menyebutkan gereja sebagai salah satu dari faktor internal memperlemah adat istiadat. Dan teolog Eka Darmaputera seakan melontarkan otokritik bagi gereja. Lalu warga Kariu sendiri “ternyata” ada yang tak kuasa menahan ketiadakikhlasannya ketika berpartisipasi dalam pembangunan gereja baru (lagi) itu

Harapan Redaksi, seperti halnya Leamoni Kamasune yang tengah melakukan langkah-langkah kecil, pengeposan kali ini juga merupakan langkah serupa.

Begitu do (dolo, dulu)
Selamat membaca.
Danke lai. Amato

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: