Dari Redaksi-15 Mar 2009

oleh kariuxapakabar

Lagi: Kariu Baru

Pembaca budiman,   Selamat Datang di situs web kami, pengeposan (posting) tanggal 15 Maret 2009.

Nyaris sebulan, sejak pengeposan perdana 14 Februari 2009 bertepatan dengan satu dasawarsa Leamoni Kamasune rata deng tana (rata dengan tanah). Tidak ada dalih berlebihan ketika memilih tanggal itu. Kecuali mengamini visi Negeri Adat Kariu/NAK yang kami sebut sebagai Kariu Baru. Visi yang dicanangkan Bapa Emang/BE, Raja NAK. Dan ketika dinamai Kariu Baru—seperti ditulis dalam pengeposan perdana itu—kami melihatnya sebagi titik berangkat. Sebuah titik tolak dari bagian sejarahnya sendiri: kembali ke adat dan rata deng tana. Sejarah, yang menurut hemat kami seyogyanya dipahami seperti yang dipetuahkan para jauhari (cendekiawan) Eropa satu setengah abad silam. Bahwa kita harus menguasai masa lalu bukan masa lalu yang menguasai kita.

Jadi, dengan memperingati hari memilukan itu secara sederhana seperti yang diparakasai Pemerintah NAK, ada yang menarik. Justru pemerintah adat ini sedang merapatkan barisan bergandengan tangan bersama rakyatnya siap-siap melangkah menuju Kariu Baru.

Lalu?

Apakah dengan duduknya raja dari mataruma prentah dan visi yang membumi itu, serta merta ayunan langkah-langkah awal NAK ringan dan mantap? Media ini dengan terpaksa harus menjawab: tidak. Jangankan ayunan beberapa langkah. Metafornya, mo angka kaki satu  sa deng su susa paya (mau angkat satu kaki saja dengan susah payah).

Lo, kenapa?Ada beragam jawabannya. Setidaknya, dari pantauan media ini sejak naiknya BE jelang akhir tahun lalu. Tapi ada satu jawaban yang kami pegang. Bahwa, tagal (karena) melemahnya bahkan nyaris sirnanya adat istiadat dalam tiga dasawarsa ini sejak terbitnya undang-undang/UU No.5/1979. Tagal pemberlakuan sebuah hukum yang menggusur pemerintah negeri-adat untuk digantikan dengan pemerintah desa.

Nah, dengan jawaban di atas yang diposisikan sebagai sebuah sudut pandang, akan membayang-bayangi dua warita yang dilansir dalam pengeposan kali ini. Dua berita proyek yang sudah dijanjikan pada pengeposan perdana itu. “Pembangunan Gereja Baru (Lagi)” dan ”Terbengkelainya Bagan Ikan Mercy Corps”. Kebetulan kedua proyek tersebut adalah warisan pemerintah desa pra-BE.

Pembaca bisa menyimaknya di bawah rubrik “Kronik Leamoni Kamasune”.

Dengan begitu, dalam pengeposan kali ini ada tambahan sebuah rubrik “Kronik Leamoni Kamsune” melengkapi rubrik “Dari Redaksi”.

Selamat membaca.
Danke lai. Amato.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: