7 – Kronik LK

7-Kronik Leamoni Kamasune-14 Juni 2009-I

Ibadah 4 Tahun Kembali dari Tihunitu

Pada tahun ini genap 4 tahun rayat (rakyat) Kariu kembali dari pengungsian di Tihunitu, Negeri Aboru. Untuk memperingati hari bersejarah pada 6 Juni 2005 itu, diadakan Ibadah di Gereja Ebenhaezer Negeri Adat Kariu, Sabtu, 6 Juni 2009 Pukul 19.00 WIT, dipimpin Pdt. Cak Tomasoa, STh.

Gereja nyaris penuh dan selama ibadah yang berlangsung relatif lebih khusuk itu, tampak sebagian jemaat matanya berkaca-kaca. Memang pada hari itu, merupakan akhir dari masa pengungsian yang cukup panjang, 6 tahun lebih terhitung 14 Februari 1999.

Sebagai informasi, Tihunitu bukanlah satu-satunya tempat pengungsian rayat Kariu selama kerusuhan. Tetapi Tihunitu adalah tempat pengungsian terbesar. Sebab begitu Kariu diserbu, rayat mengungsi dengan berjalan kaki melintasi kawasan pegunungan menuju Negeri Aboru, pesisir Selatan Pulau Haruku. Aboru adalah salah satu pela gandong Kariu bersama-sama dua negeri lainnya Hualoy (Seram) dan Booi (Saparua).

7-Kronik Leamoni Kamasune-14 Juni 2009-II

BLT dan Daftar yang Dirobek

BLT atau bantuan langsung tunai sebesar Rp 200.000 per jiwa merupakan program yang digagas pemerintah SBY-Kalla. Pemerintah yang saat ini tinggal “menghitung hari”. Apakah berlanjut dengan SBY-Boediono atau Mega-Prabowo atau Kalla-Wiranto.

Tetapi di Kariu, BLT 2009 telah dibagi-bagikan pada 20 Mei 2009 lalu.

Adalah Jen Latuconsina dan Nus Nirahua dari Kantor Pos Besar Kota Madya Ambon yang membagi-bagikan BLT tersebut di Kantor Raja. Pembagian didasarkan pada daftar nama resmi yang diterbitkan Pemerintah Provinsi Maluku.

Sempat pegawai Kantor Kecamatan Ince (Marthina) Salakory-Pattiradjawane, mantan Penjabat Kepala Desa Kariu, merobek-robek kopi daftar nama penerima BLT yang ditempel Pemerintah Negeri Adat Kariu (PNAK) di beberapa tempat di Kariu. Jen dan Nus pun sempat tak melanjutkan pembagian BLT lantaran “dicegah” oleh Ince.

Tetapi beberapa hari setelah Jen dan Nus kembali dari tugas yang sama di beberapa negeri lain Kabupaten Maluku Tengah, pembagian pun dilanjutkan. Pembagian BLT sisa berlangsung lancar dan tuntas.

Beberapa warga Kariu yang dihubungi terpisah oleh Redaksi, umumnya berkomentar bahwa apapun alasannya, yang dirobek itu adalah dokumen resmi dari Pemerintah RI.

2 Tanggapan to “7 – Kronik LK”

  1. Henriette M. Soeparto Says:

    Tolong dijelaskan syarat-syarat bagi penerima BLT. Siapa yang berwenang mengeluarkan nama-nama yang berhak menerima BLT. Kemudian instansi mana yang berwenang/bertugas untuk membagi-bagikan BLT? Dan setelah diajukan (oleh desa/negeri bersangkutan?) selang berapa lama sampai ke tangan para penerima BLT? Jumlah Rp. 200.000/orang dibagikan pada Mei 2009 lalu itu untuk jangka waktu atau berapa bulan? Danke lai

    Redaksi:

    Pertanyaan-pertanyaan yang bagus. Terima kasih, sekalian sebagai koreksi atas warita Redaksi. Tertulis BLT Rp 200.000/jiwa seharusnya Rp 200.000 per Kepala Keluarga (KK) atau dalam istilah BLT “RTS (Rumah Tangga Sasaran)”.

    Sesuai ketentuan pemerintah Rp 200.000 tersebut ternyata untuk jatah bulan Januari dan Februari 2009. Berarti BLT itu per bulan adalah Rp 100.000/RTS. Sekaligus pencairan dua bulan ini mengakhiri program BLT. Pertimbangan pemerintah, seperti yang dikemukan Koordinator Belanja Pemerintah Pusat RAPBN 2009 Harry Azhar Azis tahun lalu. “Pengaruh kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) bersubsidi bagi masyarakat miskin mereda dalam dua bulan ke depan tersebut.” Seperti diketahui, program BLT adalah salah satu solusi atas dampak kenaikan BBM beberapa waktu lalu. Selanjutnya?

    Data di atas yang Redaksi kutip dari portal Pemerintah RI, menyebutkan bahwa Selain BLT dua bulan, Panitia Anggaran juga menyepakati pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) pada 2009 sebesar Rp1,75 triliun dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri sebesar Rp10,35 triliun. Jadi, usai BLT masih ada PKH dan PNPM, juga beras raskin (masyarakat miskin). Dua yang terakhir ini masih berjalan.

    Kembali ke pertanyaan awal Henriette M.Soeparto terkait syarat-syarat BLT. Dalam konteks BLT disebut sebagai “Kriteria”. Ada 14 kriteria untuk tahun 2009 itu.

    1. Luas lantai tempat tinggal kurang dari 8 M2/orang.
    2. Jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah, bambu, atau kayu murahan.
    3. Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu, rumbia, kayu berkualitas rendah, atau tembok tanpa diplester.
    4. Tidak ada fasilitas buang air besar.
    5. Sumber penerangan tidak menggunakan listrik.
    6. Sumber air minum dari sumur atau mata air tidak terlindungi, sungai, atau air hujan.
    7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar, arang, atau minyak tanah. 8. Hanya mengonsumsi daging, susu, atau ayam satu kali dalam seminggu.
    9. Hanya mampu membeli satu pasang pakaian baru dalam setahun.
    10. Hanya sanggup makan sebanyak satu atau dua kali dalam sehari.
    11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas atau poliklinik.
    12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan 0,5 hektar, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp 600.000 per tahun.
    13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga adalah tidak sekolah, tidak tamat sekolah dasar (SD), atau hanya SD.
    14. Tidak memiliki tabungan atau barang yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp 500.000.

    Di lapangan, kriteria-kriteria ini akan dipakai oleh para petugas BPS (Badan Pusat Statistik RI)—tentunya difasilitasi Kepala Desa/Raja dan sepengetahuan Kecamatan pula—dalam mengumpulkan data. Kemudian merekomendasikan daftar yang berhak menerima BLT di desa/negeri bersangkutan. Jangan lupa, bahwa program ini adalah program pemerintah pusat. Sehingga data/rekomendasi BPS dari akar rumput (grass root) ini akan diteruskan ke pusat (dalam hal ini BAPPENAS/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Kemudian BAPPENAS, sebagai instansi pemerintah pusat yang menganggarkan BLT, akan memberikan data final ke PT Pos Indonesia yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai pelaksana atau juru bayar BLT ke setiap RTS.

    Ke-14 kriteria tersebut bukan tanpa cela. Anggota Komisi XI DPR RI, Dradjad H Wibowo, misalnya, melontarkan kritik. “Beberapa kriteria itu tidak konsisten dengan kondisi kemiskinan yang ada saat ini. Sebagai contoh, orang yang telah memiliki listrik, bukan berarti memiliki kemampuan ekonomi yang layak. Selain itu, batas penghasilan Rp 600.000 per tahun, itu artinya kurang dari Rp 50.000 per bulan. Jika ditambah BLT Rp 100.000 per bulan, penghasilannya mencapai Rp 150.000. Itu pun masih sangat rendah.”

    Dengan penjelasan di atas, seperti disinggung Redaksi, daftar RTS penerima BLT (atau kartu BLT, atau apapun namanya) yang dimiliki para petugas Kantor Pos itu, adalah daftar resmi yang dikeluarkan pemerintah (pusat) RI. Merobek daftar BLT tersebut oleh seorang PNS (pegawai negeri sipil) apalagi pegawai Kantor Kecamatan, adalah pelanggaran dan dapat dituntut sesuai perundang-undangan negara RI yang berlaku.

    Terkait waktu seperti ditanyakan, seharusnya jatah Januari dan Februari 2009 diterima, ya logisnya awal Januari 2009. Tetapi, seperti diakui pemerintah sendiri, terjadi keterlambatan. Sehingga dijadwalkan paling lambat 31 Mei 2009 sudah terealisasikan. Hal yang sudah terlaksana di Kariu, misalnya.

  2. Henriette M. Soeparto Says:

    Tolong dipastikan lagi tempat pengungsian orang Kariu di Tihunitu (petuanan Aboru) itu. Seharusnya Tihinitu atau Tihunitu? Sekalian dicari makna atau arti kata tersebut. Danke lai

    Redaksi:

    Kalau melalui mesin pencari Google, maka pembaca akan menjumpai Tanjung Tihinitu di Negeri Aboru. Tetapi Redaksi yang mengkomfirmasikan dengan orang-orang totua di Kariu, mereka menyebut daerah pengungsian di petuanan Aboru itu sebagai Tihunitu—bukan Tihinitu.

    Dalam “Daftar Nama Kepala Keluarga dan Jumlah Jiwa Penduduk Desa Kariu Status Sebagai Pengungsi” yang dikeluarkan Pemerintah Desa Kariu, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Medio Maret 2003 (salah satu persiapan untuk kembali dari pengungsian), juga tercantum Tihunitu-Aboru sebagai salah satu Lokasi Pengungsi.

    Kalau disimak kata “Tihunitu”, orang Kariu memaknainya atau mengartikannya sebagai “kolam air” (tihu) dan “setan” (nitu). Jadi Tihunitu itu berarti “kolam air setan”.

    Keterangan orang Kariu ini ternyata dekat dengan apa yang disinggung (secara tidak khusus) oleh James T. Collins dalam makalahnya “Language death in Maluku, The Impact of the VOC”. (Makalah yang diunduh/download dari http://www.kitlv-journal.nl Sebuah makalah tamu/invited paper yang disampaikan pada “Symposium 400 jaar VOC: wat valt er te vieren?” diselenggarakan oleh editorial board dari Marinjo and Blimbing, di Amsterdam, 13 April 2002. Prof. Collins saat itu bekerja pada Institute of the Malay Worlds & Civilization, Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor, Malaysia.)

    “Tihu” dicatat Collins (simak Appendix 1 No.59–dari 100 kata-kata, kosakata Bahasa-bahasa Hoamoal, di Seram paling-barat dan pulau-pulau sekitarnya) sebagai Bahasa Piru (di Pulau Seram) yang dalam Bahasa Inggris berarti “lake, tidal pool” dan Redaksi terjemahkan “danau”, “telaga”, atau “kolam pasang.” Kata yang sama dalam Bahasa Manipa (Pulau Manipa—sisi barat Pulau Seram) “talaga” serta dalam Bahasa Luhu (di Pulau Seram) “talága”. Redaksi berani tambahkan pula di sini , bahwa Bahasa Ambon pun “talaga”.

    Sedang “nitu” dicatat Collins (hal. 264) sebagai Bahasa Ambon yang dalam Bahasa Inggris bermakna “spirit, soul of the dead”. Redaksi terjemahkan di sini sebagai “roh, arwah, jiwa orang mati”.

    Sehingga dari apa yang dipaparkan Collins itu serta dari keterangan orang Kariu sendiri, Redaksi mencoba merangkumnya dan memberanikan diri menyebutkan bahwa tempat pengungsian di petuanan Aboru itu “Tihunitu”. Bermakna “telaga roh/arwah orang mati”.

    Tetapi Redaksi tetap membuka kesempatan bagi penafsiran, pemaknaan lain sama sekali ataupun pendapat yang melengkapi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: