3 – Wawasan LK

Komentar (Singkat) Buku

Latuharhary: Semangat Zaman

Judul: Kebenaran Melebihi Persahabatan

Penulis: Johannes Dirk de Fretes

Penyunting: Loke  Pattiradjawane, René L Pattiradjawane, Febrina Johanna Siagian

Penerbit: PT Harman Pitalex didukung oleh PT Kubuku

Cetakan: I , Juni 2007

Tebal: 237 halaman


Kata resensi dimaknai JS Badudu sebagai pembicaraan mengenai buku (biasanya kupasan atau komentar mengenai buku baru yang baru terbit). Tapi di harian Kompas edisi Minggu 12/4/2009, misalnya, rubrik ulasan buku berikut kolomnya tak menggunakan kata resensi. Rubrik tersebut—sehalaman penuh, dikurangi iklan—diberi tajuk “BUKU” dan sub-rubriknya berjudul “BUKU BARU”.

Di sub-rubrik ini, yang tulisannya relatif pendek, menurut penulis tak lain adalah resensi seperti yang dimaksud Badudu. Sekaligus juga iklan atas buku baru tersebut.

Berbekal pemahaman di atas, penulis menulis mengenai bukunya Johannes Dirk de Fretes (Om Nani) “Kebenaran Melebihi Persahabatan” (KMP). Artinya, walau menyadari KMP kini bukan buku baru lagi, tulisan ini tak lain adalah juga komentar singkat  sekaligus sebuah iklan: buku ini wajib dibaca orang Ambon!

Alasannya, ada dua. Maksudnya, (hanya) ada dua peristiwa yang penulis angkat dari seluruh buku itu—sebagai alasan. Pertama, ‘pemburuan daging manusia’ Ambon—oleh Kempetai Jepang maupun masyarakat Indonesia sendiri. Dan, kedua, pertemuan Om Nani dan Ir. Manusama, Presiden RMS (Republik Maluku Selatan).

Pemburuan dan rasa“minoritas”

Sementara itu keluarga Aipassa dan Nanlohy dilaporkan hampir mati. Robert Akyuwen dipukul hingga tulang-tulangnya jadi pasir. Laporan-laporan yang keluar dari tahanan Kempetai ini menyebabkan Nono Tanasale akhirnya menyerahkan diri kepada Kempetai.

Sementara itu para tahanan Bapati telah dipindahkan ke Tanjung Priok, markas Kempetai Kaigun yang paling kejam di Jakarta. Di sana mereka diinterogasi, dipukul, dan disiksa. Latuharhary antara lain kena pukulan keras di kepala yang berakibat cukup berat di kemudian hari. Ketika pada suatu saat Kempetai hendak memukulnya lagi dengan sebatang kayu, Kaihatu melompat dan menahan kayu itu. Akibatnya Kaihatu dianiaya sampai tewas …

Begitu antara lain tertulis di sub Bab 2 “Masyarakat Maluku di Zaman Jepang” (KMP hal.52).

Lalu, Om Nani memotret bulan-bulan menjelang proklamasi kemerdekaan, gilirannya ‘rakyat biasa’ yang mengancam.

Ketegangan memuncak dengan munculnya peristiwa Rengasdengklok yang bermaksud memaksa Soekarno-Hatta untuk menandatangani Proklamasi kemerdekaan bangsa. Saya mendapat penjelasan situasi dari Wim Latumeten. Kami berdua mufakat … Wim Latumeten hendak mendatangi Latuharhary dan mendesak agar jangan keluar rumah. “Ambon-Ambon sudah diorganisir dan hendak berusaha untuk mengembalikan Belanda ke Indonesia dan menyabot Proklamasi Kemerdekaan.”

Kabar yang tersiar sejak bulan Juli dengan hangat ini, membuat keadaan sampai di pelosok Jakarta sangat tegang terhadap keluarga-keluarga Ambon. Seolah-olah terjadi kelanjutan dari permusuhan dengan Jepang, yang lebih berbahaya daripada “Ambon bagero bantu Sekutu ya.”

… Di belakang stasiun Jatinegara (stasiun terbesar timur Jakarta di jalan menuju jalan raya ke Bekasi waktu itu—pen) orang-orang Ambon tidak berani lagi keluar masuk gang tempat tinggalnya. Kecurigaan inilah yang menurut cerita Wim, dibawa Wikana untuk menarik perhatian Bung Karno, sebagai motivasi untuk mempercepat Proklamasi. “Pelopor-pelopor” sudah siap menyerang (sebutan ini diberikan oleh keluarga Ambon kepada rakyat yang mengancam).

Demikian, antara lain yang dikisahkan di pembukaan Bab 3 “Masyarakat Maluku di Kota Proklamasi” (KMP hal.57).

Kisah-kisah di kedua bab itu, membuat penulis, jujur saja, takajo (terkejut)! Kaget bahwa orang Ambon yang terkenal sebagai tukang ‘baku pukul’, temperamen ‘panasan’, ternyata pernah menjadi bulan-bulanan Kempetai.

Lebih kaget lagi, pascakekuasaan Jepang melemah, mendekati proklamasi kemerdekaan, ketakutan yang mencekam itu berlanjut! Sang pengancam ironisnya malah sesama rakyat: “Barisan Pelopor”.

Dan, inilah, menurut hemat penulis, salah satu bagian yang membuat buku Om Nani menarik. Lantaran bukan semata mengisahkan ‘pemburuan daging manusia’ itu, namun upaya menaruhnya pada sebuah perspektif sejarah.

Di sub Bab 2 “Kolonialisme Belanda Runtuh”, misalnya, dengan bagus digambarkan pergolakan rakyat Indonesia pascamenyerahnya Belanda pada Jepang, melalui saluran-saluran kedaerahan atau suku—khususnya Maluku. Sejarah Maluku yang, istilah Om Nani, “minoritas” dengan “lembaran hitam”-nya. Hal yang setidaknya bagi penulis, mencairkan keterkejutan tadi.

Masyarakat Maluku juga bergolak melalui saluran kedaerahan dan kesukuan. Tetapi suku yang berposisi “minoritas”. Rasa “minoritas” ini timbul bukan saja karena jumlah anggota suku ini kecil atau karena daerahnya minus sehingga kaum lelaki terpaksa mencari sesuap nasi di tanah orang. Tetapi juga “minoritas” karena diistimewakan dalam sejarah penjajahan. Sebaliknya “mayoritas” yang nampak dalam pergerakan Indonesia Merdeka adalah mayoritas kebudayaan dan agama, yang mengidentifikasikan diri dengan kekuatan politik Indonesia merdeka.

Memang di Maluku orang mengalami dominasi dan superioritas kebudayaan dan agama hanya dari penjajahan. Itulah sebabnya kompleks anti mayoritas dari minoritas kerukunan hidup beragama seperti di Maluku rupanya tergantung dari kualitas dan kesanggupan spiritual umat beragamanya, sehingga tidak terjadi kompleks minoritas agama.

Oleh propaganda politik dari mayoritas tadi, maka dilahirkan rasa anti-minoritas yang dikaitkan dengan minoritas anti kemerdekaaan. Jepang sendiri menyambut gembira suasana anti-minoritas ini dan menggunakannya untuk tujuan perangnya. Apalagi banyak nama dari suku Maluku ini terdaftar dalam laporan gerakan bawah tanah. Kadang-kadang saya berpikir orang Maluku dari generasi sebelumnya betempur sambung menyambung dengan semangat merdeka atau mati melawan Belanda, “Kok bisa anti kemerdekaan?”

Betapa “hitam” lembaran hitam dari sejarah Maluku itu, sehingga dapat berada dalam kondisi seperti itu. Dalam keadaan itu masyarakat Maluku memasuki zaman Jepang 1942. Kami sebagai suku bangsa memikul “cap” seperti “minoritas kolonial” (istilah yang mengacu pada suku Ambon) …

Sebagian besar masyarakat Maluku menghadapi “momentum raksasa” ini dengan introspeksi “ke dalam”. “Ke lembaran hitam sejarah kami, ke dalam diri kami”. Dalam momentum demikian kami tidak lagi memberikan prioritas kepada diri kami, melainkan kepada seantero masyarakat Maluku serta anak cucunya yang hendak menjalankan hidup, suatu kehidupan baru dengan keyakinan akan “Indonesia baru”

Sebutan ‘sebagian besar masyarakat Maluku’ dari kutipan di atas, menurut hemat penulis, tak lain adalah penjelasan mengenai salah satu kutub dari ‘polarisasi’ masyarakat Maluku saat itu.

Artinya, di satu pihak ada orang-orang Ambon yang dicap kaki tangan sekutu (musuhnya Jepang), dan antikemerdekaan (musuhnya rakyat) serta secara objektif memang ada. Seperti pasukan KNIL  Ambon yang membantu Sekutu atau pasukan Ambon dari Tarakan yang dijuluki ‘Ambon Anjing NICA’ oleh pers berhaluan republik.

Tapi di lain pihak, di ‘kutub’ satu lagi ada pula—itu tadi—‘sebagian besar masyarakat Maluku’ yang anti penjajahan (pro kemerdekaan). Mereka yang mendirikan Jong Ambon, Sarikat Ambon, atau API (Angkatan Pemuda Indonesia). Mereka yang seakan melanjutkan semangat anti penjajahan. Yang dikatakan oleh Om Nani, seperti disinggung di atas, “orang Maluku dari generasi sebelumnya betempur sambung menyambung dengan semangat merdeka atau mati melawan Belanda”.

Semangat yang pada hakekatnya adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Maluku—setidaknya sejak zaman kolonialisme Eropa-Barat di Maluku abad ke-16. Zaman yang juga mencatatkan  ‘pemburuan daging manusia’ Maluku ketika terjadi pembantaian kaum lelaki atau dikirim ke Pulau Jawa sebagai budak. Ketika, puluhan ribu pohon pala dan cengkeh dimusnahkan. (simak KMP hal. 42).

Orde Kakehan dimusnahkan. Baileo-baileo dirusak, hasil-hasil kebudayaan dibuang ke laut. Belanda membuat suatu sistem pendidikan di mana pemuda disalurkan menjadi matros (pelaut), serdadu atau petugas kolonial lainnya. Persekutuan Patasiwa-Patalima dicerai-beraikan sehingga hilang unsur dinamiknya.

“Agama Kristen Putih” yang semula merupakan bendera bagi operasi penjajahan politik ekonominya, juga berperan dalam brain washing supaya kolonialisme Belanda diterima sebagai “Takdir Ilahi” dan Belanda sebagai unsur budaya superior. Untung sekali nilai hidupnya bersumber pada Tuhan sehingga penghayatan praktis dari agamanya tidak menimbulkan frustasi.

Berkat sistem gotong royong masohi dan pela maka politik diskriminasi dari agama “Kristen Putih”nya tidak mengganggu kerukunan hidup beragama di Maluku. Suku bangsa ini diasingkan dari mata pencaharian yang tradisonal. Belanda membangun suatu mekanisme yang distimewakan untuk turut meneguhkan kolonialisme di Nusantara ini. (KMP hal.43).

Begitu penjelasan lanjut Om Nani ketika beliau sebelumnya seakan mentabaoskan “Merdeka” berarti dikembalikan kepada yang punya (pusaka). Pattimura mati di tiang gantungan. Mayatnya dipertontonkan dalam kurungan besi untuk menakuti rakyat Ambon. Begitulah kekejaman Belanda. Pusat-pusat kebudayaan dan tempat-tempat adat dihancurkan. (KMP hal. 43).

Karena itu, sangat masuk akal, mengapa Om Nani mengawali bukunya dengan “Omong-omong Dengan Mr. Latuharhary” (judul Bab 1). Latuharhary yang dengan sadar memaknai, menghayati, dan mempraktikkan anti-penjajahan bersasar (mengarah) pada kemerdekaan. Dalam posisi sebagai orang Ambon, bagian dari Maluku, bagian dari sebuah nasion yang bernama Indonesia, bagian dari dunia yang—waktu itu—sedang bangkit melawan penjajahan.

Meester menandaskan bahwa penjajahan Belanda (imperialisme) mempunyai nafsu mencari keuntungan ekonomis di Indonesia. “Ini sangat nampak pada masa lampau Maluku,” katanya. Sebab itu ia menganjurkan agar saya (Om Nani maksudnya—pen) mempelajari sejarah penjajahan di Maluku. Dengan demikian saya bisa memahami apa yang telah dilakukan Belanda di sana berabad-abad lamanya, dan mengapa sampai Maluku berada dalam keadan seperti sekarang ini.

“Ini sangat penting,” katanya. Sebab banyak orang Maluku tidak sadar mengenai daerahnya. Tidak banyak yang mengerti bahwa mereka dengan sengaja dipisahkan dari tata kehidupan dan kebudayaannya. Tidak banyak yang memahami permasalahan sosial dan ekonomisya.”

“Hanya beberapa gelintir orang yang dari masa ke masa memberontak dan memprotes keadaan seperti itu, seperti Tehupeiory yang membentuk Ambonese Studiefonds (1909), kemudian Om Lo (dr. Tamaela) serta kawan-kawan di Stovia dengan Jong Ambon

Kutipan di atas (KMP hal. 22), adalah semacam uraian lebih lengkap atas cukilan obrolan mereka berdua berikut ini.

Meester bercerita, dalam kongres-kongres anti penjahan di luar negeri dibicarakan berbagai aksi yang harus diambil oleh bangsa yang terjajah. Resolusi-resolusi yang dicetuskan sangat tajam …

Ia mengatakan, semangat inilah yang harus kita tanamkan di kalangan orang Maluku, terutama para pemudanya. Selain itu jangkauan dari permasalahan ini adalah timbulnya rasa kebangsaan, bukan melulu rasa kedaerahan saja. Inilah yang dinamakan “Semangat Zaman”. (KMP hal.21-22).

Penulis terkesima. Pikiran menerawang ke konflik berkepanjangan di Maluku persis memasuki abad ke-21. Omong-omongan Latuharhary ini kok relevan betul, seakan baru kemarin diucapkan. Apa perlu kita memlintir iklan sebuah pabrik rokok yang dulu pernah intens tampil di layar kaca—mana…ekspresinya?—dengan “Mana…semangat zamannya?”

Om Nani – Ir. Manusama

Penulis berani pastikan, dengan ‘semangat zaman’ yang sama plus perspektifnya atas orang Ambon yang ‘minoritas’ itu, Om Nani mengemban tugas negara (lewat Duta Besar Soetopo Joewono) untuk bertemu Ir. Manusama, di Belanda.

Yang sangat menarik, menyimak jawaban Om Nani atas pertanyaan Manusama: “Apakah Tuan setuju, dengan alasan untuk memproklamasikan RMS?”

Bagaimana mungkin kegelisahan dan kesulitan suatu kelompok manusia dapat dijadikan alasan untuk menentang ombak sejarah yang demikian dahsyatnya seperti yang terjadi sejak tahun 1945 ketika dimulai perjuangan-perjuangan bangsa yang terjajah?

…RMS adalah suatu fenomena terlambat yang merupakan penghalang, yang memutar kembali lonceng sejarah Maluku. Berarti juga memutarbalikkan sejarah Indonesia. Proklamasi RMS merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab karena olehnya terputus begitu saja hubungan kemanusiaan dan kebudayaan dengan suku-suku dari daerah lain.

Relasi dengan orang-orang Kei, Tanimbar, Tobelo, Ternate, Bugis, Jawa dan sebagainya, yang keseimbangannya justru hendak dicapai dengan Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat terhalang oleh adanya RMS. (KMP hal.158-159).

Sebagai penutup komentar singkat atas buku KMP ini, menarik pula untuk menyimak awal dan akhir pertemuan dua tokoh orang Ambon yang berseberangan ideologinya itu.

Akhirnya diatur, kami akan bertemu di rumah Manusama yang terletak di kota Rotterdam pada pukul 10.00 pagi. Saya akan datang seorang diri, sesuai permintaan Manusama …Di dalam lift yang berhenti pada lantai tiga, Ir. Manusama telah menunggu. Dia mengulurkan tangannya dan mengatakan, “Selamat datang Meneer de Fretes.” Ketika kami memasuki flatnya, ia katakan bahwa istrinya ingin berkenalan dengan saya. Isterinya berkata, “Saya mengharapkan Tuan makan siang dengan kami.” Saya setuju. Terlebih kalau masakannya “Ayam asam pedis”.

Di alinea-alinea penutup sub Bab 7 “Pertemuan dengan Ir. Manusama (Presiden RMS)”, Om Nani menulis: Saya katakan juga, “Otonomi akan menjadi suatu masalah yang sangat penting dalam arti bahwa menghayati kemerdekaan bagi manusia seharusnya tersedia kebebasan untuk mengembangkan identitasnya dan bakatnya untuk disumbangkan kepada kehidupan kebangsaan.”

Manusama tersenyum lebar, “Saya sangat bersimpati dengan jalan pikiran Tuan de Fretes dan sangat menyetujui suatu perkembangan ke arah itu.”

Pertemuan saya dengan Manusama berlangsung sampai sore. “Diskusi kita baik sekali dan saya berterima kasih atas kedatangan Tuan,” katanya ketika kami berpisah. Lalu dia mengantar saya ke stasiun.

Ya, baru saja berlalu, sebuah ‘kebenaran melebihi persahabatan’.

Dan, dengan meniru salah satu kiat efektifitas iklan—repetitif (pengulangan) yang intens—maka sekali lagi, KMP wajib dibaca orang Ambon!

Catatan:

Latuharhary di sini adalah Mr. Johannes Latuharhary, Gubernur Provinsi Maluku pertama, Meester-nya diperoleh di Belanda.

JS Badudu dalam bukunya Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, 2005.

Sebutan Om (paman) sengaja penulis gunakan karena penulis adalah pangkat-anak/keponakan terhadap beliau (Nani). Di samping penggunaan Om, terasa lebih akrab.

Istilah pemburuan daging manusia penulis pinjam dari seorang novelis yang menanggapi teror dan pembunuhan 1965.

Kakehan dijelaskan Om Nani dengan mengutip artikel “Kepahlawanan dan Manifestasinya dalam Masayarakat Maluku Sepanjang Sejarah” oleh I.O. Nanulaitta dalam buku “Pemikiran Biografi, Kepahlawanan dan Kesejarahan”, Dep. P dan K 1980/1981. Berikut ini rangkuman penulis atas informasi tersebut.

Kakehan adalah sebuah lembaga persekutuan rahasia di negeri-negeri kelompok patasiwa-hitam, wilayah Seram Barat. Kakehan bersifat keagamaan dan ketatanegaraan, dikuasai oleh suatu dewan eksekutif dengan keanggotaannya khusus lelaki. Para lelaki itu malah jelang usia remaja. Soalnya, sebelum mencapai 12 tahun para orang tua sudah harus menyerahkan anak-anak lelakinya pada Mauwen, imam kepala dari kepercayaan rakyat waktu itu.

Mereka kemudian digembleng selama 3 bulan di sebuah, Rumah Kakehan. Letaknya jauh di tengah hutan dan informasi selebihnya merupakan rahasia. Setelah lulus dan diinisiasi (diresmikan) sebagai anggota Kakehan itu, sumpah setia serta keteguhan memegang rahasia segala sesuatu terkait Kakehan merupakan syarat mutlak. Maut, bagi yang melanggarnya. Jadilah, Kakehan sebuah tanda tanya besar. Apa sebenarnya, tujuan serta yang terjadi di Rumah Kakehan?

Nanulaitta tampaknya menduga penggemblengan Kakehan adalah upaya untuk mempertahankan “cinta kebebasan dan kemerdekaan”. Hal terkenal dari rakyat di kawasan itu. Tapi yang pasti bagi Nanulaitta, pemuda-pemuda Kakehan merupakan pejuang-pejuang rakyat, menjadi pahlawan-pahlawan perang. Masyarakat menjadi militan, menentang dan memerangi pengaruh apa saja yang datang dari luar.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: