2 – Kronik LK

Kronik Leamoni Kamasune-14 April 2009-I
Peringatan 14 Februari 1999

Memperingati 10 tahun Kariu rata deng tana 14 Februari 1999, Pemerintah Adat Negeri Kariu, PNAK, memprakarsai dua acara. Acara hening sejenak dan Kebaktian.

Sehari sebelumnya, Jumat (13/2/) di-tabaos-kan lewat pengeras suara Kantor Raja.

Dari warita (warta) yang dihimpun Redaksi, kedua acara tersebut berlangsung sederhana dan khidmat. Respon antusias khususnya dari korban dan keluarga korban.

Pada acara pertama, Pk. 06.30, secara serempak masing-masing keluarga di rumahnya melakukan doa dan hening sejenak. Dipimpin kepala keluarga atau yang dituakan.

Acara kedua, Pk.17.00-18.30 di Rumah Raja. Kebaktian sederhana dipimpin Ibu Nelly Takaria. Dilanjutkan semacam ramah tamah. Acara bako bagi diselingi santapan sederhana, kasbi rabus (singkong rebus) dan teh manis. Mereka yang menjadi korban, ringan, cacat tetap, bahkan keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, ikut bako bagi cerita.

Menarik, peringatan ini awalnya dilakukan rutin sekembali dari Tihunitu. Malah tanggal 14 setiap bulannya. Kemudian, entah mengapa, sejak 2007, tak ada lagi. Peringatan 14 Februari pun tidak. Sehingga, tak heran, rencana memperingati (kembali) hari memilukan ini menuai kontra.

PNKA, mencoba menjelaskan. Ini adalah bagian dari sejarah Kariu. Memperingatinya, adalah juga hak paling dasar dari negeri. Sudah banyak petuah positif, ketika orang menengok dan menimbang sepotong sejarahnya sendiri.

Lamun (namun), Ibu Elena (bukan nama sebenarnya—Red) sempat marah besar pada Raja NAK. Pasalnya beliau, yang anaknya terserempet peluru waktu itu, merasa tidak diajak dalam acara Kebaktian. Padahal Raja NAK sengaja menahan diri gara-gara munculnya ketidaksetujuan itu. Maklum, peristiwa ini bagaimana pun bukan perkara sederhana.

tabaos: berteriak keras atau lantang; di-tabaos-kan : diteriakkan dengan keras atau lantang; sebutan ini kerap dikaitkan dengan Marinyo.

Marinyo : sebuah jabatan dalam struktur pemerintahan adat bertugas sebagai juru bicara raja; ia berkeliling negeri men-tabaos-kan pengumuman raja/pemerintah negeri; didahului dengan tiupan kuli bia (kerang) atau pukulan tifa kecil—beberapa kali; kini, Marinyo di samping ber-tabaos melalui pengeras suara di Kantor Raja juga kadang sesuai kebutuhan berkeliling dengan pengeras suara genggam (toa)

rata deng tana : rata dengan tanah; sebuah ungkapan lama orang Ambon untuk menggambarkan keadaan yang hancur lebur tak menyisakan satu pun bangunaan kecuali puing-puing reruntuhan; seperti dampak dari Perang Dunia ke-2 pada beberapa tempat di dunia waktu itu; termasuk Kota Ambon

bako bagi : saling berbagi; mungkin padanannya dalam bahasa Inggris—kerap muncul di percakapan kita sehari-hari dalam Bahasa Indonesia—istilahnya share/sharing

Tihunitu : nama tempat di petuanan negeri (“pela gandong”) Aboru; tempat pengungsian pertama dan yang terbesar bagi warga Kariu; ditempati sejak 14 Februari 1999 sampai kembali lagi ke Leamoni Kamasune, menandai berakhirnya status warga Kariu sebagai pengungsi, pada 6 Juni 2005; masa yang bersamaan dengan dunia memasuki milenium baru, seribu-tahunan baru bercirikan teknologi canggih: telepon genggam, tv-parabola, internet, dst

petuanan : dalam Bahasa Indonesia, dikenal istilah “pertuanan”; salah satu maknanya “kedaulatan” ; jadi “petuanan negeri” bisa bermakna “kawasan/daerah kedaulatan negeri” , atau secara singkat, “kawasan/daerah negeri”.

Kronik Leamoni Kamasune-14 April 2009-II

Meninggal Abis Makang “Bibi”

Pada Minggu (15/2) pagi sekitar Pk. 06.00 WIT, seorang warga Kariu meninggal dunia. Ibu Riri-Saija (32 tahun), asal Aboru, nyawanya tak tertolong lagi abis makang ikang (setelah memakan ikan) beracun. Warga Kariu menyebutnya ikan “Bibi”. Berukuran setelapak tangan orang dewasa, berciri perut kembung.

Diketahui belakangan, bahwa suaminya Jopie Riri, entah kelelahan karena tak memperoleh ikan, menangkap juga ikan dimaksud. Kebanyakan warga menghindar menangkapnya. Pasalnya, tak hanya telurnya terkenal sangat beracun, dagingnya pun mengandung racun.
Diperkirakan Jopie pulang ke rumah menjelang dini hari antara Pk. 01.00-02.00 WIT. Langsung berangkat tidur, menyusul ke-6 anakya yang sudah tertidur lelap (Tertua satu SMP, bungsu masih balita). Kabarnya, sang isteri kemudian menanak ikan tersebut. Menyantapnya seorang diri—tentunya.

Hanya dalam hitungan jam, badan Ibu Riri-Saija mulai terasa kaku. Sempat, Jopie dibangunkan untuk menghubungi Mantri Pede (Frederik Pattiradjawane). Meski langsung ditangani, tak banyak bisa diperbuat sang Mantri yang sehari-harinya adalah Pegawai Negeri Sipil Puskesmas Kecamatan, di negeri Pelauw. Racun bekerja terlalu cepat.

Amarhum Ibu Riri-Saija dimakamkan di pemakaman negeri, Senin (16/2) pagi. Upacara pemakaman dipimpin Pendeta M. Tomasoa, STh, dihadiri pula Raja NAK dan perangkat negeri lainnya.

Kronik Leamoni Kamasune-14 April 2009-III

Pengadilan Adat Pertama Digelar

Tentu saja dalam sejarah Leamoni Kamasune, ini bukanlah pengadilan adat pertama. Tapi sejak kembalinya Pemerintah Adat Kariu pada 2008 lalu, ini yang pertama

Dengan segala keterbatasan, disertai angka hati, Bapa Emang (BE), Raja NAK menggelar sebuah sidang pengadilan adat (PA). BE mengambil posisi sebagai “hakim kepala”.

PA ini bermula dari laporan yang diterima BE di Kantor Raja, Sabtu (14/3), dari seorang lelaki warga Kariu. Sebut saja lelaki itu Boby (bukan nama sebenarnya, termasuk semua nama baik orang maupun tanah terkait perkara dalam warita ini—Red).

Menurut Boby, 20-an bibit pohon kelapa setinggi 30-40 cm dipotong (dibabat) orang. Boby menuduh Charles dan Donald sebagai pelakunya. Bibit-bibit itu ditanam  di atas sebidang tanah, sebut saja tanah-X, seluas 75 x 50 m2.
Tanah-X inilah yang menjadi titik pangkal pertikaian. Soalnya, Boby mengklaim (menyatakan) sebagai milik ayahnya, Jozeph. Sementara Charles  juga mengklaim sebagai milik ibunya, Miranda.

Ironinya, Jozeph dan Miranda juga Bianca (ibunya Donald) adalah kakak beradik dari enam saudara kandung. Yang selain Jozeph dan Jery, lainnya sudah almarhum. Maka, ini jelas adalah pertikaian antar-sepupu. Perebutan sebidang tanah, yang pastinya dimiliki tete (kakek) mereka sendiri, Fabiola. Ironi lainnya, dua lelaki bersaudara yang masih hidup itu, Jozeph dan Jery, tak sepaham soal tanah-X.

Angka sumpa, sasi

Sebelum menggelar PA, BE melakukan pemeriksaan-silang, Minggu (15/3) sore. Pemeriksaan terhadap pelapor dan yang dilaporkan, berikut saksi-saksi. Walau, lagi-lagi terjadi ironi, Boby sebagai pelapor tak hadir.

Saksi-saksi sebagian besar adalah sedarah dari tete Fabiola. Sebagian lagi, dua orang saksi, bukan anggota keluarga dimaksud. Yang seorang dihadirkan karena pernah menggarap di tanah-X. Seorang lagi, lantaran tanah keluarga bersangkutan berbatasan dengan tanah-X. Salah satu hasil pemeriksaan-silang yang menonjol, adalah pengakuan Charles dan Donald atas tuduhan Boby.

Sidang PA pun digelar pada hari Selasa (17/3), bertempat di Kantor Raja NAK. Total jenderal sembilan orang yang hadir—di luar BE. Termasuk anak-ayah Boby-Jozeph, juga Febri anaknya Jerry (tak bisa hadir lantaran sudah berumur dan berdomisili tidak di Kariu). Serta Wellington yang ikut menyaksikan dalam kapasitas sebagai anggota Saniri Negeri dari Soa dimana keluarga besar tete Fabiola tergabung. Dan, masih saja terjadi ironi lagi, dua saksi yang bukan anggota keluarga tete Fabiola itu tak hadir.

BE duduk merapat bibir meja. Tepat di bibir meja seberang, ke-8 orang itu duduk sebaris menghadap BE. Anggota Saniri Wellington di baris belakangnya. Ditengah-tengah meja ada sebuah Alkitab
PA diawali dengan angka sumpa (mengangkat sumpah) yang diucapkan sekalimat demi sekalimat oleh BE. Kemudian akan diucapkan ulang pula sekalimat demi sekalimat yang diucapkan BE itu secara bersama oleh ke-8 orang itu.

Menarik, bahwa Bobby dan Jozeph tak ikut mengucapkan sumpah. Tak jelas, apakah sebandung (sepasang) ayah-anak ini tiba-tiba ngeri. Rasa taku (takut) lantaran angka sumpa macam begini bagi orang Ambon, punya nilai kesakralan tersendiri. Atau, sengaja membangkang. Dan (pura-pura) lupa sedang diangkat sumpah oleh seorang Raja Pemerintah Negeri merangkap Kepala Adat yang sah. Sah secara adat maupun hukum negara RI, sesederhana apa pun PA yang digelar. Apakah ini sebuah potret lain lagi, dampak sirnanya adat sejak 1979 itu?

BE tampaknya tak terpengaruh tindak sebandung ayah-anak itu. Angka sumpa jalang trus (mengangkat sumpah berjalan terus) hingga selesai. Singkat cerita, BE pun memutuskan sasi tutup atas tanah-X tersebut. Artinya, tidak seorang pun diijinkan memasuki apalagi menggarap tanah-X itu. Dengan catatan, sambil menunggu masing-masing pihak—pelapor dan yang dilaporkan—melengkapi bukti-bukti pendukung untuk memperkuat sikap mereka.
Pertanyaannya, bagaimana sekiranya pelapor melanggar sasi tutup itu?Lepas sepekan PA digelar, pihak yang dilaporkan tampaknya tak akan bereaksi lagi. Mereka akan menyerahkan pada ketentuan adat bila sasi tutup dilanggar pelapor. Sangsi adat yang diyakini akan jauh lebih berat. Sebuah sinyal bagus, perlahan tapi pasti, tegaknya adat dalam kekinian. Semoga.

angka hati : angkat hati; sebuah ungkapan orang Ambon untuk “mengangkat hati” pada Allah; khususnya ketika akan melakukan suatu pekerjaan “lurus” yang kompleks; atau berada pada situasi kompleks dan/atau dengan daya antisipasi terbatas; atau situasi sulit “maju kena-mundur-kena” bahkan nyawa pun taruhannya; atau situasi ketika nalar, akal sehat, tata krama, budi pekerti, terjungkir-balik, relasi antar-manusia pun direndahkan menjadi relasi-uang, nyaris seperti “zaman edan”-nya ungkapan orang Jawa

sasi tutup : sebuah ketentuan adat terkait petuanan; ketentuan untuk tidak memasuki, mengambil hasil apalagi menggarap suatu area tertentu baik di darat maupun lautan; ketentuan yang berlaku pada jangka waktu tertentu sampai dibatalkan lagi dengan sasi buka; sebuah lagi kearifan lokal yang kini populer sebagai mempertahankan pelestarian lingkungan

Kewang : salah satu perangkat pemerintah adat; pelaksana pemaksa ketentuan adat sasi tersebut; semacam “polisi adat” untuk menjamin terlaksananya ketentuan sasi
Soa : sebuah kumpulan keluarga-keluarga dari fam-fam (marga-marga) tertentu dalam sebuah negeri, telah ada sejak dulu, diturunkan para leluhur; jumlah soa termasuk nama soa bisa berbeda dari satu negeri ke negeri lainnya; dengan kata lain, soa adalah komunitas berikutnya setelah keluarga yang disatukan oleh kriteria fam, berdasarkan ketentuan yang telah diatur para leluhur;

Kepala Soa : pemimpin dari sebuah soa; para Kepala Soa ini secara bersama merupakan para pembantu raja laiknya para menteri terhadap presiden; dan atas persetujuan Kepala Soa pribadi-pribadi yang telah disepakati oleh musyawarah Soa bersangkutan akan diutus untuk duduk sebagai para wakil Soa tersebut dalam Saniri Negeri

Kepala Soa Jaga Bulan; Kepala Soa yang bertugas sebagai penjabat raja, ketika raja sedang tidak berada di tempat; penjabat ini otomatis bergantian setiap bulannya secara rutin di antara para Kepala Soa

Saniri Negeri : lembaga adat ini yang terdiri dari wakil-wakil para Soa, merupakan lembaga yang membantu raja dalam menyiapkan/membuat peraturan negeri; dan sesuai Peraturan Daerah di provinsi dan kabupaten Maluku pasca-kembali-ke-adat memasuki abad ke-21, Saniri Negeri diposisikan sebagai mitra raja; mitra yang seyogyanya dimaknai seperti diamanahkan para leluhur orang Ambon: raja menduduki posisi tertinggi, sebagai Kepala Negeri sekaligus Kepala Adat; amanah para leluhur dalam bentuk—kini disebut sebagai—kearifan lokal, yang akan “bekerja dengan caranya sendiri” untuk mencegah raja bertindak otoriter, tak memihak atau bahkan menindas rakyat; “demokrasi” yang sedang tren saat ini seharusnya berkaca pada kearifan khas Maluku yang satu ini; bukankah ketidakhadiran adat selama 3 dasawarsa telah memberikan andil cukup signifikan pada kerusuhan Maluku memasuki milenium baru; bahkan tercatat 12.082 keluarga di Provinsi Maluku, nyaris satu dasawarsa masih berstatus pengungsi (Kompas, 27 Maret 2009, hal.1 & 15); malah kabupaten tertentu di Provinsi Maluku masih berlaku UU No.5/1979–karena praktis UU No.32/2004 belum ada perda tingkat kabupaten.

Kronik Leamoni Kamasune-14 April 2009  IV

Raja Pelauw Berjamu Raja Kariu

Dalam rangka pengamanan dan untuk menyukseskan Pemilu 9 April 2009, tiga serangkai pejabat tertinggi Provinsi Maluku—Gubernur, Kapolda, Pangdam—menggelar tatap muka dengan para raja/lurah dari beberapa kabupaten. Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), dan Kota Madya Ambon (Kodya Ambon). Pertemuan digelar di Gedung Wanita kawasan Batu Gadja Kodya Ambon, pada Selasa, 31 Maret 2009.

Raja NAK, Bapa Emang (BE) turut hadir. Bahkan, memanfaatkan jeda di sela-sela pertemuan untuk menyapa dan membuat janji bertamu dengan Raja Negeri Pelauw Effendy Latuconsina. Bapa Raja Effendy (BRE) menyambut gembira tawaran BE.

Maka sore harinya sekitar Pk. 16.30, terjadilah sebuah pertemuan “monumental”. Raja Negeri Pelauw berjamu (menerima jamu/tamu) Raja Negeri Kariu di kediaman BRE, kawasan Kebon Cengkeh, Kodya Ambon. Pertemuan informal dua raja dari mataruma prentah Latuconsina dan Pattiradjawane ini seakan menyambung lagi tali silaturahmi. Sebuah hubungan emosional yang pernah terjalin di antara Raja Negeri Pelauw Duba Latuconsina (ayahanda BRE) dan Raja Negeri Kariu Sie (Martin) Pattiradjawane (paman, kakak ayahanda BE). Hubungan yang berimbas pada rakyat di kedua negeri waktu itu.

BE sempat menceritakan masa kecil sampai remaja di Kota Ambon. Bahwa keluarga paman BRE, Djit Latuconsina (adik kandung Duba) yang juga tinggal di Kota Ambon, dekat dengan keluarga ayahanda BE, Manus (Hermanus) Pattiradjawane. Bahkan salah satu anak lelaki Djit, Sofjan Latuconsina, pernah sekelas di Sekolah Rakyat dengan adik lelaki BE, Empie. Dan kunjung mengunjung di waktu Lebaran dan Natal adalah hal lumrah saat itu.

BRE menimpali, bahwa Ibu Mans Muskita (anak dari pasangan Gubernur I Maluku Latuharhary dan Jet Pattiradjawane), isteri alm. Brigjen (Purn) Jos Muskita, bila ke Kariu kerap menginap di Pelauw. Atau bila ke Ambon, bermalam di cottage milik Wan Latuconsina (kakak kandung BRE) di kawasan Teluk Baguala, dekat Pantai Natsepa.

BE mengemukan, bahwa silaturahim yang tengah dibangun kembali ini akan membawa dampak positip bagi kedua negeri. Bahkan, bukan tidak mungkin, ke negeri tetangga lainnya yang dikenal sebagai aliansi Hatuhaha (aliansi bebrapa negeri di Pulau Haruku: Pelauw, Kalilolo, Rohmoni, Kabau, dan Hulaliu). Aliansi yang akhir-akhir ini tengah berada pada ketidakharmonisan di antara satu dua anggotanya.

BRE, yang baru sembuh dari gangguan kesehatan, menyambut gembira gagasan BE. Mereka berdua, di akhir pertemuan yang hangat dan berarti itu, sepakat mempertahankan serta mengembangkan kontak yang sudah terjalin kembali ini.

Kronik Leamoni Kamasune-14 April 2009-V

Raker Raja-Raja se-Maluku Tengah

Selama dua hari tak berturutan, Rabu (25/3) dan Jumat (27/3) di kantor Kabupaten Maluku Tengah, Masohi, Pulau Seram, diadakan raker raja-raja: “Rapat Kerja Pemerintahan Negeri se-Maluku Tengah”. Pada hari Kamis (26/3), bertepatan libur nasional Hari Raya Nyepi (Saka 1931), ada “selingan”. Pembentukan “Majelis Latupati Kabupaten Maluku Tengah” (lihat warita selanjutnya—Red).

Tak seluruhnya, dari para raja 166 negeri dan lurah 4 desa yang tergabung dalam kabupaten yang dipimpin Bupati Abdullah Tuasikal itu, mengikuti raker. Negeri Banda salah satuya, tak bisa hadir. Bisa jadi terkendala transportasi terkait geografisnya.

Bapa Emang (BE), Raja Negeri Adat Kariu (NAK), ikut raker tersebut. Beliau ke Masohi… Mungkin, menarik untuk menyimak sejenak perjalanan BE.

Pertama-tama beliau, dengan menjinjing koper kecil, pakai ojek motor ke negeri Pelauw (karena angkot yang lewat di depan Rumah Raja NAK dari arah negeri Hulaliu belum diperbolehkan melintasi Pelauw ke pelabuhan Wairiang di negeri Kalilolo). Ini hanya butuh sekitar 5 menit. Lalu BE naik speed menyeberang laut arah utara ke pelabuhan Lestetu, negeri Tihulale, pantai selatan Pulau Seram.Yang ini sekitar 15 menit. Lanjut lewat darat dengan angkot, menyusuri pesisir selatan Seram, ke arah timur. Barang 3 jam BE tiba di Masohi. Langsung memesan hotel-kecil. Jadi, total hampir 4 jam perjalanan. Lumayan lama.

Begitu kurang lebihnya pola transportasi sebagian orang-orang Ambon sejak dahulu kala. Malah “parah”-nya lagi, zaman dulu belum ada angkot, apalagi motor tempel. Tapi ada yang tak berubah … tanpa jaket pelampung—sampai sekarang!

Hari pertama (25/3), setelah pembukaan dan pengarahan oleh Pak Bupati, dilanjutkan “pembekalan” atau materi dari berbagai pejabat terkait. Berturut turut: Kepala Kepolisan Resot (Kapolres) Maluku Tengah AKBP Eko Widodo; Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) Maluku Tengah Letkol (Inf) Gabriel Lema; Sekretaris Daerah (Sekda) Maluku Tengah Drs. A.R. Sukur. Dan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Maluku Tengah La Alwi, SH.

Hari kedua dan terakhir raker (27/3), masih diisi penyampaain materi dari berbagai pejabat terkait lainnya. Berturut-turut dari: Kepala Kesejahteraan dan Pengembangan (Kesbang) Lingkungan Masyarakat (Limas) Maluku Tengah Drs. A. Karepesina; Kepala Badan Pembangunan Daerah (Bapeda) Maluku Tengah Ir. I. Umarella; Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Drs. A. Namakule. Dan Kepala Bagian Pemerintahan Dr. A. Wattiheluw, M.Si.

Kronik Leamoni Kamasune-14 April 2009-VI

Terbentuk: Majelis Latupati Kabupaten Malteng

Seperti disinggung di atas, di tengah-tengah raker dimaksud, pada hari Kamis (26/3), para raja bermusyawarah lantas berhasil membentuk: Majelis Latupati Kabupaten Maluku Tengah (Malteng). Secara aklamasi terpilih Ketua dan Sekretaris, masing-masing Raja Negeri Ruta dan Raja Negeri Makariki.

Kedua negeri yang terletak di pesisir selatan Pulau Seram ini, seakan merupakan ikon (simbol) dari kerukunan beragama sekaligus—yang kini sedang “tren”—kesetaraan gender (kesejajaran kelamin/seks dari sudut sosial—Red). Ruta adalah negeri salam (Islam) sementara Makariki adalah negeri sarani (Nasarani). Ruta dipimpin Bapa Raja, dan Makariki oleh Mama Raja.

Lagi, kearifan lokal khas Maluku yang tetap aktual memasuki abad ke-21. Menarik, bahwa Makariki bukan pertama kali rajanya perempuan. Mie Wattimena—pangkat sepupu Raja Makariki sekarang—adalah Mama Raja Makariki yang kemudian menikah dengan Raja Kariu Sie Pattiradjawane.

Kembali ke majelis Latupati. Rupanya sejak 2002 semasa kerusuhan masih berkecamuk, para raja sudah berinisatif membentuk Latupati. Dan baru pada 2008, terbentuk Majelis Latupati Provinsi Maluku dengan Ketua Raja Negeri Mamala. Mamala adalah negeri salam di jazirah Leihitu Pulau Ambon.

Berarti, Majelis Latupati Kabupaten Maluku Tengah adalah Latupati pertama tingkat kabupaten di Provinsi Maluku. Memang direncanakan pembentukan majelis serupa untuk kabupaten-kabupaten lainnya. Malah di tingkat kecamatan pun ada majelis dimaksud. Sehingga kebutuhan komunikasi dalam konteks adat di antara negeri-negeri yang kebetulan tercakup sebuah kecamatan tak perlu ke tingkat kabupaten apalagi provinsi.

Tetapi, berbekal pembelajaran (learning) berharga dan sangat mahal dari kerusuhan lalu. Seyogyanya, perangkat adat Latupati ini melulu difaedahkan dalam konteks dan semangat adat. Hanya vor rayat (untuk rakyat). Nafsu kekuasaan tertentu yang tak berpihak rakyat kecuali memperkaya diri sendiri. Era pemerintah-pembangunan-nepotisme yang memonopoli cengkeh dan jeruk, misalnya. “Gaya” macam begitu mestinya terganjal Latupati yang sejatinya pro-rakyat.

Atau, indikasi kuat maksud-maksud tar bae (tidak baik) pemaksaan eksplorasi pertambangan. Hal yang seperti ditengarai Eliza Kissya—Kewang kondang sejak pra-kembali-ke-adat—waktu tanah leluhurnya yang berkandungan emas, negeri Haruku, diserang saat kerusuhan. (www.sekitarkita.com wawancara Ruth Indiah Rahayu dengan Eliza Kissya—Red). Yang begini ini, seyogyanya menjadi salah satu tugas Latupati dalam hal menjaga kelestarian tanah leluhur.

Mamala 18 Mei 1958 : salah satu tradisinya kondang negeri Mamala adalah “baku pukul menyapu”, berkelahi dengan sapu lidi; para lelaki yang bertarung, badannya bergaris-garis, membengkak, darah merembes keluar akibat sabetan lidi. Lamun semua luka-luka itu lenyap seketika begitu diolesi Minyak Mamala; acara serupa pada Minggu, 18 Mei 1958—yang diadakan khusus untuk menyambut kunjungan pribadi seorang pejabat waktu itu (karenanya tak se-“lengkap” di bulan Syawal)—meninggalkan kenangan pahit; lantaran bersamaan pada hari yang sama Kota Ambon diserang pesawat pembom B-26 Invander dengan pilot Allen Pope, warga AS yang ternyata agen intelejen AS CIA; penyerangan pada berbagai fasilitas dan obejek: Lapangan Udara Laha (Bandar Udara Pattimura, sekarang) dan Gereja Pusat (GPM Maranatha, sekarang) yang tak begitu rusak parah, tetapi tangki bahan bakar di Gudang Arang terbakar berhari-hari; juga sebuah kapal kargo yang sedang merapat di pelabuhan (Jos Soedarso, sekarang) ikut terbakar; B-26 itu kemudian jatuh tertembak pilot Mustang AURI Ignatius Dewanto; Pope selamat, ditangkap, diadili, dan dijatuhi hukuman mati; oleh kepiawaian Sukarno, pemerintah AS “terpaksa” memberikan berbagai kompensasi bebasnya Pope; mulai dari dicabutnya baik embargo senjata maupun dukungan terhadap pemberontak, beli beras dengan rupiah, sampai pembuatan jalan “bypass” (Cawang-Tanjung Priok) di Jakarta.

Kronik Leamoni Kamasune-14 April 2009-VII

Bara di Negeri Leluhur

Bara, atau lengkapnya Bara R. Pattiradjawane adalah salah seorang juru masak Ibukota yang sedang naik daun. Seleb, kata “anak gaul”—maksudnya termasuk celebrity.

Adalah stasiun televisi swasta Trans-TV yang setiap Sabtu pagi menayangkan acara masak-memasak bertajuk “Gula-Gula” dengan Bara sebagai pemandu tunggalnya. (Sudah tiga sabtu ini, sejak 28 Maret, Bara di Pulau Ambon dan sekitarnya). Tak terhitung sudah, berpuluh bahkan beratus minggu acara ini berkibar. Berbarengan, tayangan resep-resep baru tersebut mencagun (muncul) di tabloid mingguan “Wanita Indonesia” setiap Sabtu pula. Bara pun rajin menulis dan menerbitkan buku-buku resep.

Tak syak lagi, gara-gara Bara, mereka yang ber-fam Pattiradjawane dalam berbagai urusan publik kerap disapa “Apanya Bara?” Hal yang dialami paman Bara sendiri, Pendeta Dr. Freddy Pattiradjawane. Salah seorang anggota jemaatnya mengajukan pertanyaan serupa.

Memang, kalau ditelusuri, leluhur Bara adalah mataruma prentah dari fam Pattiradjawane di negeri adat Kariu (NAK) alias Leamoni Kamasune. Soalnya, buyut atawa ayah dari kakeknya Bara adalah Raja NAK Jacob Amos Pattiradjawane. Ribet?

Nanti kita kembali setelah yang satu ini. Jumat (27/3) sekitar Pk.09.00 WIT, speed yang mengangkut Bara dan rombongan awak audio-visual Trans-TV dari Tulehu, Pulau Ambon, mendarat di pantai Kariu. Andre Pattiradjawane, operator speed Kariu yang pas berada di situ, menemani Bara dan rombongan. Untung ada Andre. Soalnya, Kariu relatif senyap pada jam-jam tersebut.

Setelah menaiki beberapa anak tangga beton di bibir pantai, terbentang jalan lurus selebar 5-meteran memasuki NAK. Beberapa langkah, persis di sisi kiri jalan berderet makam para leluhur Bara. Rombongan sempat berhenti sejenak. Di makam tua ini berjejer pertama-tama Mama Sa (Henriette Louise) Pattiradjawane-Reasoa, istri Raja Jacob yang disinggung di atas. Kemudian Raja Jacob sendiri, serta dua bersaudara yang dimakamkan bersama. Raja NAK Arend (Johannes Frans) Pattiradjawane, ayahanda Raja Jacob, dan H.A. Pattiradjawane, Dokter Djawa (istilah waktu itu untuk mantri cacar terdidik di Pulau Jawa—Red).

Rombongan kemudian mengunjungi kolam “Air Oruku”. Kolam yang meski relatif dekat dengan pantai, airnya jernih dan layak minum. Pasalnya, pasokan airnya berasal dari gunung di belakang NAK. Kolam inilah sumber air minum untuk warga Kariu. Tidak heran, musim kemarau panjang pun tak bepengaruh apa-apa.

Menurut Andre, rombongan sempat mampir di Rumah Raja sebelum kembali ke Ambon sekitar Pk. 11.00 WIT. Sayang, Bapa Emang (BE), Raja NAK sedang dinas ke Seram. Tapi, Rumah Raja yang menempati kintal (tanah) raja sejak dulu, ternyata cukup “menarik” bagi para awak stasiun televisi swasta Ibukota yang sering menayangkan panorama indah berbagai pelosok Nusantara ini. Tembok-tembok dan pilar-pilar bekas bangunan lama yang hancur waktu rata deng tana itu masih ada. Kamera pun ditembakkan ke situ.

Jadi, kombali ka carita Bara pung tete nene moyang (kembali ke cerita kakek nenek moyangnya Bara). Buyut Bara, Jacob Amos Pattiradjawane itu, punya 12 orang anak. Delapan lelaki dan empat perempuan. Nah, salah satu anak lelaki itu, adalah kakeknya Bara, Arend (Jacob) Pattiradjawane. Arend yang menikahi wanita Manado Len (Rosa) Walandauw, memiliki 7 orang anak. Tiga lelaki dan empat perempuan. Salah seorang anak lelaki, Loke (Jacob) Pattiradjawane (mantan pewarta Antara—Red), tak lain adalah ayahanda Bara.

Lalu, hubungan Bara dengan BE, Raja NAK sekarang? Oh, itu dari kakek. Soalnya, ayahnya BE, Manus (Hermanus) Pattiradjawane adalah adik kandungnya Arend. Jadi BE itu pamannya Bara, tak langsung. Pangkat Om, begitu…

Kronik Leamoni Kamasune-14 April 2009-VIII

Pangkat Sidi: 14 Muda-Mudi Kariu

Minggu, 5 April 2009, adalah salah satu hari terpenting bagi muda-mudi di negeri-negeri sarani seluruh Maluku. Khususnya mereka yang tergabung pada gereja-gereja di bawah payung organisasi Gereja Protestan Maluku (GPM). Soalnya, pada hari Minggu itu, secara serempak masing-masing gereja tersebut mengadakan Kebaktian Peneguhan Sidi Baru. Peneguhan menyusul katekisasi, pelajaran teologi dasar Kristen Protestan yang telah mereka peroleh dari gereja bersangkutan.

Gereja Ebenhaezer Negeri Kariu pun, tak terkecuali. Kali ini meneguhkan “pangkat sidi” bagi 14 orang pemuda-pemudi. Mereka itu adalah: Nyongris Noya, Gilian Pariury, Feby Tupalessy, Marklin Salaka, Aris Pattiradjawane, Brian Lawalata, Elvira Ferdinandus, Josina Leatomu, Maria Riri, Renhat Riri, Reskiana Tomasoa, Yuliana Pattiradjawane, Hari Pattiradjawane, dan Manuel Nahusona. Umumnya mereka adalah siswa kelas tiga-SMA, usia 18-an tapi bisa juga lebih dari itu.

Dengan “pangkat sidi” itu, mereka diwajibkan mengambil bagian dalam salah satu ritual penting Kristen Protestan, Perjamuan Kudus. Dan itu akan mereka laksanakan pertama kalinya dalam, orang Ambon menyebutnya, Greja Basar (Gereja Besar), Kebaktian Jumat Agung, 10 April 2009, bertepatan Hari Wafat Tuhan Yesus Kristus. Lalu hari ke-3 pada Minggu, 12 April 2009, mereka akan ikut dalam Kebaktian Paskah.

Kebaktian merayakan Hari KebangkitanNya. Yesus Kristus yang telah menuntaskan tugasNya, memenangi kematian. Menggenapi rencana Allah sebagai Juru Selamat umat manusia. (Lihat warita selanjutnya—Red).

Pesta dan daging kusu

Dengan begitu, peneguhan sidi dalam tradisi orang Ambon sarani menempati posisi cukup penting. Tak heran, mereka yang anggota keluarganya mendapat pangkat sidi merayakannya. Setidaknya yang terjadi di Leamoni Kamasune.

Sebuah pesta disiapkan. Rumah dibenahi bahkan kalau perlu tenda dipasang berikut sound system. Juga, tentu saja, menyiapkan makanan. Lantas tamunya? Ya, katong deng katong sa (kita dengan kita saja) di Kariu. Saling berkunjunglah, maksudnya.

Untuk urusan pengisi perut pesta satu ini, di Kariu, ada hidangan khusus: daging kusu. Kusu, sebutan orang Ambon, untuk sejenis hewan berbau tak sedap. Bobou kusu ee (bau kuskus nih), begitu sindiran orang Ambon merespon bau tak nyaman.

Inilah, satu lagi “pekerjaan rumah” BE. Kebiasaan manusia menyantapnya malah lekat sebagai tradisi, di satu pihak. Lalu populasinya yang sudah diatur secara legal, di pihak lain. Dua hal yang merupakan tantangan tersendiri bagi BE.

Kusu : kuskus, begitu sebutan dalam Bahasa Indonesia, atau cuscus dalam bahasa Inggris; hewan jenis mamalia (menyusui) ini termasuk dalam kelompok binatang berkantong atau marsupial—seperti halnya kanguru dan koala; termasuk hewan noktural yaitu mencari makan di malam hari; kesenangannya, serangga, pucuk dedaunan, bahkan telur burung; dan suka menyendiri saat mencari makan; bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya tapi gerakannya relatif lamban; menurut warga, di hutan Kariu ada 2 jenis; mereka menyebutnya Kusu Puti yang berwarna putih, dan Kusu Siha berwarna keabu-abuan; menarik bahwa warga Kariu mencirikan kelamin, di samping melalui kantung, juga warna. Jadi Kusu Puti, adalah jantan, tak berkantung. Sedangkan Kusu Siha betina, berkantung tentunya; warga Kariu mengidentifikasi ukurannya sebagai “lebih besar dari kucing tapi lebih kecil dari anjing (kampung)”; mengacu pada Tyas Melani Sari, kemungkinan besar 2 spesies kusu yang di Kariu ini adalah Phalanger Orientalis (nothern common cuscus) dan/atau Phalanger Intercastelanus (southern common cuscus); butuh klarifikasi lanjut termasuk identifikasi kelamin berdasar warna; mungkin di antara pembaca ada yang bisa membantu?sementara yang bertotol-totol hitam dasar warna putih, Spilocuscus Maculatus (common spotted cuscus), tak ditemukan di Kariu, tapi ada di Pulau Seram, seberang utara Kariu. Penduduk menyebutnya Kusu Potar, sang jantan. Dan Kusu Nela berkantung warna kekuning-kuningan, tak bertotol; penduduk mengaku ukurannya sebesar anjing; dan kalau mengacu Tyas, bisa jadi ini keluarga Kuskus Beruang

Hewan langka dan dilidungi : dari tulisan Tyas itu, meski diakuinya “daging kusu sangat digemari penduduk Maluku yang beragama Kristen”, yang pasti spesies ini telah terdaftar di IUCN (International Union for the Conservation Nature) sebagai hewan langka yang dilindungi undang-undang; (Di Indonesia, Lampiran PP RI No.7 Tahun 1999; Posted by melinuxid-2008/07/22—Red); warga Kariu yang diminta komentarnya atas kusu yang dilindungi itu, berkilah; bahwa saat tiba kembali dari Tihunitu (2005) setelah mengungsi 6 tahun lebih, di Kariu banyak kusu berkeliaran; “seng abis-abis…deng katong makang akang skali-skali sa,” akunya. (Tak ada habisnya…dan kita menyantapnya kan sekali-sekali saja); (referensi: Tugas Resume Mamalogi Marsupial yang Terdapat di Indonesia; Disusun oleh Tyas Melani Sari; Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman Samarinda, 2008; diunduh 10 April 2008)

Kronik Leamoni Kamasune-14 April 2009-IX

80 % Lebih Warga Kariu ke TPS

Sementara warga Ibukota Jakarta atau beberapa tempat lainnya di Indonesia yang mendatangi TPS (tempat pemungutan suara) berkisar di angka 50 persen, di Kariu jauh di atas itu. Sebanyak 425 orang dari 522 orang yang tercantum dalam DPT (daftar pemilih tetap) berpartisipasi. Berarti 80 % lebih atawa tepatnya 81,4 % tingkat partisipasi warga Kariu dalam Pemilu Legislatif 9 April 2009. Mereka yang pergi ke 2 TPS di dua lokal kelas Sekolah Dasar Negeri (SDN) , berlokasi tak jauh dari bibir pantai.

Lebih menarik lagi, setidaknya dari pengamatan Redaksi, sebagian warga Leamoni Kamasune paham “untuk apa mereka memilih”. Hal ini dapat dijelaskan dengan menyimak 3 orang caleg (calon legislatif) untuk DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia) yang meraih suara terbanyak.

Posisi pertama diduduki Petrus Leatomu (152 suara) dari PKDI (Partai Kasih Demokrat Indonesia), orang yang pernah berdomisili di Kariu. Kemudian posisi kedua Miranti Tuasikal (91 suara), isteri Bupati Maluku Tengah, dari PKB (Partai Kebangkitan Bangsa, partai yang ikut didirikan Gus Dur). Serta posisi ketiga ditempati Yuanita Pattiradjawane (59 suara) dari PDS (Partai Damai Sejahtera), yang leluhurnya dari Kariu.

Artinya, pertama, para caleg tingkat nasional ini dikenal oleh warga baik langsung maupun tidak langsung. Kedua, ketika mereka menjatuhkan pilihan, ada pertimbangan “emosional politis”. Maksud Redaksi, warga dengan fam-fam tertentu dan profesi tertentu (pegawai negeri, misalnya) sudah punya alasan tertentu pula saat mencontreng.

Tentunya, apa yang Redaksi tengarai di atas, adalah sebuah “komentar jurnalis” yang bisa diperdebatkan panjang lebar. Lamun, yang Redaksi ingin katakan, tingkat partisipasi warga Kariu yang tinggi itu bukan “asal berbondong-bondong” ke TPS.

Jadi harapan Redaksi, ini satu lagi “modal” untuk menuju Kariu Baru (lihat pengeposan perdana 14 Februari 2009—Red). Kesadaran politik warga, sesederhana apa pun itu, akan sangat membantu bersikap kritis atas jalannya roda pemerintah negeri. Apalagi, adat-istiadat orang Ambon yang arif itu, telah menyediakan perangkat yang relatif memadai.

Proyek-proyek yang singgah di Kariu dalam 3 tahun terakhir sejak kembali dari Tihunitu (tak termasuk gedung SD dan Gereja—yang masih mau dibangun baru lagi), Bagan Ikan contohnya, harus diakui tak membawa faedah optimal bagi warga Leamoni Kamasune. Bahkan sejak rumah-rumah sangat sederhana (RSS) yang ber-“s” banyak—sangat-sederhana-sampe-sono-sa-susa (sangat sederhana sampai tidur saja susah)—itu dibangun untuk ditempati sekembali dari Tihunitu. Yang tigaperempat dinding tripleknya rentan hujan. Yang kloset-jongkoknya bagaikan “bonus”, lantaran harus dipasang sendiri.

Kronik Leamoni Kamasune-14 April 2009-X

Pawai Kubur Terbuka

Di negeri-negeri tempat orang Ambon berasal, khususnya yang sarani, sudah merupakan tradisi sejak lama acara sidi yang berlanjut sampai Paskah.

Maksudnya, sudah merupakan suatu “rangkaian acara” begitu peneguhan sidi dilangsungkan. Karena akan berlanjut dengan Greja Basar atau Kebaktian Jumat Agung yang sekaligus berlangsungnya Perjamuan Kudus. Perjamuan pertama bagi mereka yang baru disidi itu. Kemudian pada hari minggunya, Kebaktian Paskah Pertama. Lalu berlanjut—ini yang membedakan dengan di Jakarta, misalnya—pada hari Senin, Kebaktian Paskah Kedua.

Nah, Pawai Kubur Terbuka (PKT), adalah salah satu di antaranya. PKT ini adalah acara Paskah khusus anak dan remaja. PKT ternyata menarik! Bayangkan, sekitar pukul 03.20 WIT dini hari, Minggu, 12 April 2009, di bawah penerangan obor, telah berkumpul para anak dan remaja ditemani orang tua juga guru-guru. Mereka menggunakan kostum seperti laiknya di era Tuhan Yesus dulu. Berjubah, berkerudung, dan seterusnya.

Mereka terbagi sesuai ke-3 “sektor jemaat” yang ada di Kariu, Sola Fide, Sola Gratia, dan Sola Scriptura. (Bermakna: Hanya oleh Iman, Hanya oleh Anugerah, Hanya oleh Firman; merupakan dasar teologi Kristen Protestan—Red)

Dari halaman sebuah rumah di belakang negeri itu, mereka berpawai keliling negeri. Sambil menyanyikan lagu-lagu rohani diiringi tifa. Betul-betul menarik! Apalagi bila tampak dari kejauhan. Redaksi membayangkan, arak-arakan bercahaya dalam kegelapan, bunyi tifa bertalu-talu di sela-sela suara khas campuran anak dan remaja yang melantunkan nyanyian gerejani-anak remaja. Bagaikan ular-berderik raksasa yang bersinar meliuk-liuk mengeluarkan suara merdu mengitari negeri. Sementara bintang-bintang yang berserakan jelas di langit Kariu, seakan ikut ambil bagian.

Kemudian pawai menuju ke Lapangan Gawang Mini tak jauh dari bibir pantai. Rombongan lalu membentuk formasi lingkaran sesuai sektornya mengelilingi tumpukan kayu. Ibu Welly Pattiradjawane-Pariury sebagai Ketua PKT merangkap pembawa acara, memanjatkan doa dilanjutkan sambutan singkat makna Paskah. Api unggun pun dinyalakan. Kebaktian dimulai. “… di tengah kesukaran ajaib benar anugerah pada salibMu…” syair salah satu lagu puji-pujian, yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Amacing Grace.

Kebaktian ditutup dengan doa oleh Daniel Kaliolan, waktu colo-colo trang (celup-celup terang, bermakna pagi buta yang berangsur terang—Red) sekitar Pk.05.00 WIT. Yang dewasa siap-siap untuk menghadiri Kebaktian Paskah Pertama Pk.09.00 WIT di Gereja Ebenhaezer Negeri Kariu.

Kronik Leamoni Kamasune-14 April 2009-XI

Industri Pertanian di Kariu?

Minggu (12/4) sore Bapa Emang (BE), Raja Negeri Adat Kariu (NAK) dan beberapa petani bertemu dalam sebuah forum—sudah ada sebelum berlakunya Perda kembali ke adat—yang disebut Musyawarah Desa (MD).

Pertemuan ini merupakan salah satu tahapan dari program pemerintah bertajuk PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri. Program bantuan dana tunai yang ditawarkan pemerintah pusat kepada seluruh kabupaten di Indonesia khususnya diperuntukkan bagi masyarakat di tingkat pedesaan.

Program ini bersifat “longgar”, bukan paksaan. Dan Kariu termasuk yang tidak memanfaatkan program ini pada 2008.

Lamun, bukan PNPM Mandiri yang akan Redaksi angkat di sini. Tapi program NAK sendiri yang diturunkan dari visi Kariu Baru menjadi salah satu misi: industri pertanian atau paling tidak cikal bakal industri pertanian.

Program inilah, oleh BE, disodorkan sebagai jawaban atas tawaran PNPM Mandiri. Program, seperti dijelaskan BE, dari skala kecil/individu menuju skala besar/kelompok. Setidaknya, sekali lagi, sebagai suatu cikal bakal industri pertanian.

Dengan begitu upaya secara bertahap ini diharapkan menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat sebagai alternatif sumber penghasilan yang dapat diandalkan. Dengan kata lain, persepsi mengenai petani sebagai sebuah profesi bagi kaum muda sekali pun, bakal tercermin dalam ungkapan: “menjadi petani berkecukupan, kenapa tidak?”

Partisipasi orang Kariu sejagat

Kalau sudah sampai di sini, seperti dibayangkan dengan semangat oleh BE, orang-orang Kariu akan kombali ka negeri (kembali ke negeri). Bukan dengan semangat heroik “ingin membangun negeri”, tapi yang realistis saja, “ingin hidup di negeri”—sebagai petani berkecukupan.

Sehingga, yang namanya partisipasi orang Kariu buat negerinya, jangankan dari Ambon atau Makassar, Surabaya, atau Jakarta, sejagatpun bukanlah hal yang mustahil. Tapi, di pihak lain, BE pun cukup realistis pula, sekarang. Warga yang sungguh-sungguh ulet mengandalkan pertanian untuk sumber penghidupannya, bisa dihitung dengan sebelah jari tangan. Anak-anak muda lulusan SMA bahkan perguruan tinggi, keluar dari negeri mencari “kehidupan yang lebih baik”. Sekali pun, maaf, sebagai tukang ojek motor atau penjaga toko serba ada di kota.

Selebihnya di negeri—kecuali yang PNS/pegawai negeri sipil—hanyalah para warga usia senja tak cukup produktif untuk menggarap lahan. Trauma peristiwa rata deng tana, adat yang diabaikan secara legal oleh negara, turut memupus kepercayaan terhadap kehandalan adat dalam menyongsong kehidupan lebih baik.

Media massa televisi yang “mengekspor” secara intens budaya konsumptif, instan, “idol-idolan” dari stasiun-stasiun yang berpusat di Jakarta, sulit untuk tidak mengatakan telah turut memberikan andil pada perilaku para remaja selepas SMP, di sebuah negeri.

Religiositas, kesalehan atas dasar keimanan yang seharusnya merupakan “benteng terakhir”, malah ikut ambruk. Tak sulit untuk mencari penyebabnya, lantaran telah “sama-sama dimaklumi” di antara para teolog progresif, bahwa para aktifis dan pemuka agama tak cukup tanggap menangkap “perubahan zaman”. Kemegahan bangunan ibadah menjadi lebih penting ketimbang keperkasaan religiositas di tengah-tengah, istilah sebagian warga Kariu, para “otak patah” ini.

Maka ketika Bapa Gubernur menyumbang sebuah pompa irigasi, BE menyambutnya antusias. Ini sebuah harapan. Alat pemindah air ini pun menjadi bagian program yang disodorkan ke PNPM Mandiri itu. Tak cuma itu, Bapa Bupati pun menjanjikan bibit bawang merah.

Bagaimana kalau PNPM Mandiri—yang telah mencuatkan tanda-tanda “tak semudah itu”—gagal total? Ya, harus jalan terus, jawab BE. Malah, BE menantang, mana os pung (ose, anda punya) partisipasi sebagai orang Kariu?

Lamun, BE pun sadar. Zamannya ini, zaman krisis finansial global. Tetapi bagaimana pun, selalu ada jalan keluar …BE mengakhiri penjelasannya. Beranjak, mengunci Kantor Raja, pulang ke Rumah Raja, tempat kediaman BE.

Pompa irigasi sumbangan Gubernur: dalam salah satu kunjungan Gubernur Maluku Karel A. Ralahalu ke NAK, beliau menyumbangkan sebuah Poma Irigasi; pompa Niagara bermotor Mitsubishi kapasitas 1.100-1400 liter per menit; setelah warga NAK bersama BE melengkapi solar, dan olinya, juga air pendingin, pompa berhasil dihidupkan serta bekerja dengan baik; selanjutnya tinggal dimanfaatkan untuk usaha pertanian warga

Komentar dapat juga dikirim ke email Redaksi: kariu.apakabar@gmail.com


Satu Tanggapan to “2 – Kronik LK”

  1. lennypattiata Says:

    Sangat baik tingkatkan lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: