Dari Redaksi-14 Okt 2009

oleh kariuxapakabar

Kariu Baru (9)

Pembaca budiman,   Selamat Datang di situs web kami, pengeposan (posting) tanggal 14 Oktober 2009.

Kali ini salah seorang anggota Redaksi menurunkan opininya seputar perilaku, mentalitas orang Ambon, orang Kariu khususnya. Tabiat yang kerap kita dengar dan alami. Perilaku yang bagi penulisnya sudah merupakan mitos  seperti ”susah diatur”,”merasa diri pintar”, dan—sejatinya tidak spesifik orang Ambon—”sikap apolitis” (sikap tak-berpolitik). Tulisan bertajuk ”Os Tau Apa?” (Anda Tahu Apa?), dengan sub-judul Sebuah Tawaran Menghilangkan Mitos, Bagian Pertama. (Simak rubrik 16-Wawasan Leamoni Kamasune-14 Oktober 2009)

Penulisnya bermaksud menawarkan karangannya itu sebagai sebuah upaya-inspiratif. Sebuah tawaran upaya yang dapat menginspirasikan orang (Kariu) untuk menghilangkan atau setidaknya meminimalkan mitos tersebut.

Almarhum Pendeta Eka Darmaputera yang pemikiran sempat mencagun (muncul) dalam blog ini, kembali disitir dari buku ringkasan disertasi doktoralnya. “Pancasila and The Search For Indentity and Modernity, A Cultural and Ethical Analysis.” Sitiran ketika opini anggota Redaksi itu menyoalkan manusia modern.

Pandangan sosiolog Dr. Arief Budiman  juga dikutip dalam opini tersebut, ketika sampai pada pembicaraan tentang perubahan, perubahan perilaku atau mentalitas dalam hal ini. (Simak di Prisma edisi No. 6,  Juni 1983—Red).

Wawancara yang salah satunya membuat Arief dikenal sebagai ilmuwan dengan pendekatan historis atau struktural. Berseberangan dengan para sosiolog lain dengan pendekatan ahistoris atau mentalitas. Perbedaan yang membawa pada perbedaan ideologi yang kerap kita dengar: sosialisme dan kapitalisme.

Tulisan tersebut masih berlanjut pada pengeposan akan datang dengan mencoba mengulas pemikiran Arief tersebut. Menimbangnya dalam konteks Leamoni Kamasune tentunya.

Pertanyaannya, apakah ulasan macam begini tidak ”ketinggian” untuk sebuah Negeri Adat Kariu? Ya, bisa juga dibilang begitu. Tetapi Redaksi, termasuk penulis opini ini, dalam kapasitas sebagai jurnalis warga berambisi ”menarik perhatian” para pengambil keputusan di pusat termasuk para cendekiawan nasional. Bahwa, bersandar pada para pakar perdesaan, tulang punggung pembanguan Indonesia ya di desa.

Dan bila sebuah desa, NAK, warganya telah terusir dengan kekerasan dari tanah pusakanya selam 6 tahun lebih ketika sebuah NKRI masih tegak berdiri, memasuki abad ke-21 pula, maka itu adalah ”kerugian sangat mahal” bahkan untuk Indonesia itu sendiri.

Tulisan, opini semacam itu, adalah secuil upaya Redaksi untuk mencegahnya berulang menjadi “zaman Vlaming” jilid ke-3!

Di rubrik “15-Kronik Leamoni Kamasune 14 Oktober 2009”, seperti biasanya, mencagun berita-berita seputar NAK.

Begitu do (dolo, dulu)
Selamat membaca.
Danke lai. Amato.

 

Ditulis dalam Tak Berkategori | SuntingTinggalkan sebuah komentar »

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: