41 – Kronik LK

41-Kronik Leamoni Kamasune-14 November 2010-I

ADD untuk NAK: maslahat  atau mudarat

Salah satu sumber pemasukan keuangan Pemerintah NAK (Negeri Adat Kariu) dari  Pemerintah Republik Indonesia adalah yang namanya Anggaran Dana Desa (ADD).

ADD ini berlaku bagi desa-desa di seantero Indonesia. Untuk tahun anggaran 2010 ini, khususnya di Kabupaten Maluku Tengah, tiap desa atau negeri termasuk NAK akan menerima Rp 20 juta. Dibagi atas 2 tahap, masing-masing tahap Rp 10 juta. Demikian antara lain data yang Redaksi peroleh dari sebuah sumber terpercaya.

Lamun (namun), ADD itu tidak otomatis diberikan pada desa/negeri bersangkutan. Malahan bisa  jadi negeri bersangkutan tidak memeroleh ADD. Pasalnya, ada prosedur tertentu yang harus diikuti, yang bila tak dipatuhi ADD pun nihil.

Pemerintah NAK melalui salah seorang pengurus perangkat NAK, singkat cerita, berhasil mencairkan ADD tahap I untuk NAK. Uang sebesar Rp 10 juta itu lalu masuk ke rekening NAK di salah satu bank pemerintah di Pulau Ambon.  Sesuai prosedur pula, ADD hanya bisa diambil untuk dimasukkan ke Kas NAK, setelah ada persetujuan atau tanda tangan dari 2 orang: sang pengurus dimaksud dan Raja NAK.

Dan masih sesuai ketentuan pemerintah, ADD itu diperuntukkan bagi  pengurusan administrasi desa maupun pengembangan kelompok-kelompok masyarakat serta pengembangan ekonomi masyarakat. Salah satunya untuk membiayai honor para anggota Saniri NAK.

Maslahat  atau mudarat

Sumber Redaksi itu menyebutkan, Pemerintah NAK pascaPenyerangan Raja di Rumah sedang menimbang antara maslahat (manfaat, faedah) dan mudarat (kerugian, kesia-siaan) dari ADD tahap I untuk NAK itu.

Redaksi langsung bisa memahami apa yang tengah dipertimbangkan Pemerintah NAK itu.

Soalnya, dari apa yang Redaksi saksikan pada 2009 lalu, sebagian besar anggota Saniri NAK seng karja mar dapa kepeng (tidak kerja tapi dapat uang) alias “makan gaji buta”. Mereka itu praktis tidak duduk sama sekali bersama Raja NAK dalam membicarakan jalannya roda pemerintahan NAK. Apalagi berinisiatif (saja, belum bertindak!) dalam menyusun Peraturan Negeri dari NAK. Hal yang menjadi salah satu tugas utama Saniri sesuai adat dan juga Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Maluku Tengah.

Perkara “gaji buta” Saniri yang sudah Redaksi singgung dalam tulisan pengeposan bulan lalu (simak 40-Wawasan Leamoni Kamasune-14 Oktober 2010). Di samping Redaksi juga menyinggung Saniri NAK yang sejatinya batal demi hukum adat, lantaran dibentuk sebelum naiknya Pemerintah NAK.

Lamun, sesuai Perda yang tak berpihak pada perdesaan itu, Saniri itu dibentuk oleh kabupaten, ditetapkan oleh Bupati. Jadinya, Raja NAK tidak  mudah untuk menggantikan mereka yang tidak bekerja sekalipun.

NAK: wajah suram sebuah desa Indonesia

Dan bila Pemerintah Pemerintah NAK, misalnya, tidak mencairkan ADD dimaksud ke Kas NAK (membiarkan “aman” di bank ditunjuk pemerintah daerah di Ambon itu), bukan tidak mungkin akan terjadi lagi kasus “Raja diserang di Rumah Raja”.

Inilah wajah suram sebuah desa di Indonesia.

Sepotong bukti, mengapa Indonesia yang meski kaya raya alamnya sampai hari ini masih dililit kemiskinan juga korupsi yang menjadi-jadi.

Seorang  pemimpin adat dari turunan sah leluhurnya yang ingin memajukan kawasan yang didirikan para leluhurnya itu, malah tidak dibantu pemerintah.  Justru  sebagian “elit desa” yang jelas-jelas pajekong (korup), dibiarkan  membangkang, melawan adat.

41-Kronik Leamoni Kamasune-14 November 2010-II

Lelucon “de Vlaming jilid 3” (I): bunyi mercon “dipelintir” bunyi tembakan

Seperti diketahui, Negeri Adat Kariu (NAK) diapit oleh Negeri Pelauw di sisi Barat dan  Dusun Ori di sisi Timur. Keduanya, negeri dan dusun ini, tengah memersiapkan diri menyambut hari Hari Raya Idul Adha atau lebih populer dikenal sebagai Lebaran Haji bagi pemeluk agama Islam.

Wajarlah bila sesekali terdengar bunyi mercon. Tetapi, warita (kabar) yang sampai di Ambon bahkan Jakarta: NAK bakal diserang! Bakal berkobar kerusuhan lagi! (Istilah Redaksi, “de Vlaming jilid 3!). Bunyi mercon itu “dipelintir” menjadi bunyi senjata api, untuk “membuktikan” situasi terakhir di NAK!

Dari beberapa sumber yang berhasil Redaksi peroleh, isu tersebut ternyata cuma lelucon semata. Disebar justru oleh orang Kariu sendiri.

Motifnya? Apalagi, kalau bukan “UUD” alias “ujung-ujungnya duit”.

Pasalnya orang yang diduga kuat penebar lelucon itu adalah salah seorang dari anggota perangkat NAK, yang sudah kebelet (seng tahang lai/tak tahan lagi) honornya belum juga keluar. Sementara sudah santer beredar kabar (seperti diwaritakan di atas) ADD telah cair dari pemerintah daerah. Padahal si penebar lelucon itu adalah salah seorang di antara mereka yang seng karja mar dapa kepeng“—seperti warita di atas.

Iyo nyong, pi di Jawa sana, seng karja tada tangan sa dapa kepeng! (Iya bocah, pergilah ke Jawa sana, tidak kerja menengadah tangan saja dapat uang!).

41-Kronik Leamoni Kamasune-14 November 2010-III

Lelucon “de Vlaming jilid 3” (II): Raja NAK tiba di NAK: sangat, sangat, dan sangat aman!

“Aman Pak, tidak terjadi apa-apa Pak,” begitu jawaban Raja Negeri Adat Kariu (NAK) Bapa Emang (BE), Herman Pattiradjawane kepada Gubernur Maluku Karel A Ralahalu di telepon genggam sesaat akan meninggalkan Jakarta menuju NAK.

Dan memang, dari sebuah sumber Redaksi sangat terpercaya, begitu BE tiba di NAK Kamis (18/11/2010) jelang siang, NAK sangat, sangat, dan sangat aman! BE langsung beraktivitas seperti biasanya.

Raja NAK, menurut sumber itu,  telah beberapa saat meninggalkan NAK untuk menghadiri perkawinan putera sulungnya di Jakarta.

Lelucon di atas terbukti: semata lelucon!



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: