17 – Kronik LK

17-Kronik Leamoni Kamasune-14 November 2009-I

Pengobatan 457, Paket Mandi 175, Perpus, Gereja Rp 2,5 juta

Dalam rubrik Kronik Leamoni Kamasune-14 Oktober 2009 terbetik rencana Perwama Ina (Persatuan Wanita Maluku Indonesia) menggelar Baksos (Bakti Sosial) di beberapa negeri Pulau Haruku dan Pulau Saparua. Rencana mulia itu terlaksana sudah.

Di Negeri Adat Kariu (NAK), Baksos berlangsung pada 26 Oktober 2009. Total 457 orang mengikuti Baksos Pengobatan. Rinciannya, 396 orang menghadiri Pengobatan Umum (PU) dan  61 orang Pengobatan Gigi (PG). Baksos Pengobatan mengambil tempat  di Gedung Puskesmas Pembantu NAK.

Lalu Baksos Paket Mandi/PM (handuk, sabun, odol, sikat gigi, shampo) diberikan kepada 175 siswa Sekolah Dasar (SD) NAK. Baksos ini berlangsung di dua ruang kelas SD terpisah. Hal terakhir ini, keterpisahan ruang, menurut Ketua Panitia Baksos ke-7 Perwama Ina Ibu Ece Soeparto-Pattiradjawane, menyebabkan pelaksanaan PM tidak didahului seremonial pembukaan. Upacara singkat yang biasa mendahului Baksos PM, seperti halnya di negeri-negeri lain.

Tetapi di kesempatan berikutnya, Ketua Umum DPP Perwama Ina Ibu Willy Tuapattinaya menyerahkan dua buku Kamus Inggris-Indonesia dan Kamus Indonesia-Inggris karya John M Echols dan Hassan Shadily. Penyerahan sebandung (sepasang) buku ini kepada Kepala Sekolah SD merupakan simbol dari  penyerahan sepaket buku-buku untuk mengisi perpus (istilah pelajar/mahasiswa), Perpustakaan SD. Buku-buku beragam topik, seperti atlas, ilmu pengetahuan, dll.

Masih dalam program Baksos Perwama Ina ke-7 ini, uang tunai sebesar Rp 2,5 juta diserahkan kepada Gereja Ebenhaezer NAK.

Sesuai rencana, rombongan Perwama Ina yang ditambah para tenaga medis asal Kota Madya Ambon, menginap di rumah-rumah penduduk Dusun Ori. Kecuali Ibu Ece yang berdarah Kariu, laiknya kebiasaan orang Ambon, menginap di Rumah Raja NAK.

Baksos di negeri-begeri lain pun terlaksana sesuai rencana. Awalnya dimulai di Negeri Pelauw, tetangga sisi Barat NAK, pada 24 Oktober 2009. Baksos PU dihadiri 329 orang dan PG 25 orang, total 354 orang. PM untuk 891 siswa SD. Dan Masjid Negeri Pelauw menerima Rp 2,5 juta.

Dilanjutkan di Dusun Ori, tetangga sisi Timur NAK, pada 25 Oktober 2009. Dan sesuai rencana pula, Khitaan Massal diikuti 14 anak. Dan PU 106 orang, PG 30 orang, total Baksos Pengobatan 136 orang. Sementara PM diberikan pada siswa SD, total 426 siswa. Masjid Dusun Ori juga menerima Rp 2,5 juta.

Setelah di NAK, mengakhiri Baksos Perwama Ina ke-7 di Pulau Haruku, dilanjutkan Baksos di Pulau Saparua. Yang sesuai rencana hanya di Negeri Haria dan Negeri Porto.

Di Negeri Haria Baksos berlangsung pada 27 Oktober 2009. Pengobatan dihadiri total 552 orang, rinciannya PU 480 orang dan PG 72 orang. PM diberikan kepada 250 siswa SD. Salah satu gereja Negeri Haria menerima Rp 2,5 juta.

Seluruh rangkaian Baksos Perwama Ina ke-7 berakhir di Negeri Porto pada 28 Oktober 2009. Baksos Pengobatan dihadiri total 468, dengan PU dikunjungi 402 orang dan PG 66 orang. Sebanyak 240 siswa SD menerima PM.  Salah satu  gereja Negeri Porto juga menerima Rp 2,5 juta.

Blog (salah satu) jurnalis warga Leamoni Kamasune ini, turut menyampaikan terima kasih kepada Perwama Ina atas kerja akbar dan mulia tersebut. Dan kepada Ibu Willy Tuapattinaya yang akan mengakhiri masa baktinya sebagai Ketua Umum DPP Perwama Ina periode 2005-2010 kami sampaikan: “Selamat dan Sukses.”

17-Kronik Leamoni Kamasune-14 November 2009-II

Sebuah Bincang-Bincang ala Hotel Berbintang

Tak pelak (salah) lagi, acara “Bincang-Bincang Mencari Peluang dalam Tekanan/Kesulitan Ekonomi” di Kantor Raja NAK 9 November 2009, secara kualitas adalah bincang-bincang ala hotel berbintang kota metropolitan.

Soalnya, dari mulai pembicaranya Bapa Toto Soeparto (suami Ibu Ece), pensiunan Humas (Public Relation) Pertamina Pusat. Beliau yang memiliki track record atau ‘jam terbang’ mumpuni (berkeakhlian tinggi) bidang terkait. Terus pemililihan topik yang aktual, situasi terkini NAK.

Sampai, yang tak kalah penting, orang Kariu sendiri, para peserta acara. Yang terakhir ini ternyata sebuah bukti lagi. Bahwa bukan saja perdesaan adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Warga perdesaan, rayat Leamoni Kamasune khususnya, siap mendukung NAK sebagai salah satu tulang punggung dimaksud.

Para peserta, yang berjumlah 27 orang (termasuk Jemie Schaduw, Perutusan Persekutuan Anak-Anak Kariu di Belanda; sengaja mampir NAK dari kuliah kerjanya di Papua) itu umumnya cerdas-cerdas. Kelihatan benar ketika berlangsung tanya jawab maupun saat penyampaian saran dan usul.

Ibu Boya Werinussa misalnya, berucap di sesi saran dan usul bahwa salah satu kendala adalah dana. Hal yang ditengarainya akibat tidak berjalannya (salah satu unsur adat—Red) masohi atau gotong royong. Semuanya, kata Ibu Boya, serba sewa atau tenaga harus dibayar.

Bayangkan, Ibu rumah tangga di sebuah desa kecil jauh dari Kodya Ambon pula, seolah membenarkan seorang intelektual tingkat nasional Arief Budiman. Arief yang menyinggung gotong royong dalam konteks masa depan Indonesia. (Simak rubrik 18-Wawasan Leamoni Kamasune-14 November 2009).

Juga seolah menyokong apa yang ditulis salah satu anggota Redaksi, bahwa orang modern itu bukan soal hidup di kota atau desa. Tapi seperti yang diungkapkan Eka Darmaputera mengutip Alex Inkeles dalam tujuh pokok ciri manusia modern. (Simak rubrik 16-Wawasan Leamoni Kamasune-14 Oktober 2009; tulisan yang bersambung pada rubrik wawasan pengeposan November ini bertajuk serupa “Os Tau Apa?” Bagian Kedua).

Sebuah Pendidikan

Apa yang digagas, digelar dan dipandu Bapa Toto dalam bincang-bincang itu, tak lain adalah sebuah  pendidikan.

Menarik bahwa antara bincang-bincang itu dengan tulisan dua bagian “Os Tau Apa?” punya keserupaan persoalan. Yaitu, sama-sama prihatin atas perilaku atawa integritas rayat Leamoni Kamasune.

Keduanya juga sampai pada “solusi” (pemecahan) yang sama: pendidikan. Padahal tidak ada “kesepakatan” sebelumnya antara sang penulis yang anggota Redaksi blog ini dengan Bapa Toto.

Meski, ada perbedaan. Dan perbedaan itu—seperti dibahas dalam tulisan “Os Tau Apa?”—menyangkut pilihan pendekatan yang berujung ideologi.

Sang penulis yang perlu menimbang lontaran gagasan perubahan strukturalnya Arief Budiman. Pendekatan yang mengaplikasikan pendidikan pada pascaperubahan struktural. Pascaperubahan sendi-sendi masyarakat menuju masyarakat sosialistis.

Padahal Indonesia itu, dengan Pancasila dan UUD 1945, sejatinya adalah sosialis ketimbang kapitalis. Dan salah satu ciri menonjol (kalau bukan mendasar malah) dari Pancasila adalah gotong royong atau masohi itu.

Sehingga ketika Bapa Toto Soeparto tampil dengan bincang-bincangnya di Negeri Adat Kariu, Leamoni Kamasune, pada hakekatnya, adalah paralel, untuk tidak mengatakan mengamini  tulisan dua bagian “Os Tau Apa?” itu.

Sebetulnya, apa yang disampaikan Bapa Toto itu, tak lain adalah pendidikan berbasis (setidaknya salah satu dari) tujuh pokok ciri manusia modern Eka-Inkeles dimaksud. Upaya pendidikan yang ditempatkan pascaperubahan sendi-sendi masyarakat. Perubahan yang tak lain adalah pemberlakukan kembali adat (walau tertatih-tatih) di NAK.

Sehingga, sekali lagi, apa yang diprihatinkan Ibu Boya Werinussa soal masohi, tak lain adalah jeritan orang desa, rayat negeri.

Jeritan orang Ambon di negeri, yang menyaksikan ulah penguasa yang seng suka akang adat. Tagal adat biking para kapitalis serakah seng bisa seenaknya ambil harta pusaka petuanan negeri, laut maupun darat. Lalu Gereja yang, seperti oto-kritiknya Pdt. Eka Darmaputera (alm), “…Gereja-gereja kita seperti katak di bawah tempurung,” entah sadar atau tidak, berada satu kubu dengan kaum pengakumulasi kapital itu. Buntutnya malah berseberangan dengan (satu atau lebih unsur) adat yang justru menegakkan  kearifan lokal.

Jadi katong orang Ambon mestinya seng usa bingong lai. Mengapa katong pung adat istiadat dihilangkan secara paksa tapi legal (UU No.5/1979) selama 3 dasawarsa oleh Suharto. Sang presiden yang pro-abis kapitalisme itu. Diametral betul dengan Sukarno.

Dan pascareformasi, UU No.32/2004 memang sudah mengembalikan adat yang hilang oleh Suharto itu. Tapi masih “better than never.” Soalnya UU terakhir ini ternyata tak berpihak pada perdesaan. (Simak tulisan-tulisan terkait di blog ini, sebelumnya).

17-Kronik Leamoni Kamasune-14 November 2009-III

Bincang-Bincang itu

Pembukaan acara bincang-bincang itu diawali doa, lalu diberi arahan oleh Raja NAK, Bapa Emang (BE). Tiga butir arahan atau “sinyal” yang sangat jelas. Ekonomi semakin sulit; NAK harus dibangun oleh orang Kariu sendiri di semua bidang; Serta, butir ketiga, kurangnya sumber daya manusia (SDM).

Bincang-bincang dengan moderator Sdr. Agus Pattiwaellapia (Majelis Jemaat) itu, berlangsung sekitar Pk.17.30 – 21.00 WIT. Menggembirakan, bahwa dalam acara yang langka ini tak satu pun peserta meninggalkan acara sebelum usai.

Bapa Toto membagi bincang-bincangnya itu atas 4 topik. Ditambah contoh para petani/pengusaha kecil NAK yang berhasil.

Pertama, Pengembangan atau Persyaratan Kemampuan Pribadi. Topik ini terbagi tiga. Pengenalan dan Pengembangan Diri; Etika Pribadi dan Etika Bisnis; serta Semangat Melayani Sebagai Dasar Kegiatan.

Di topik ini secara umum dapat disebutkan bahwa ini adalah persyaratan warga sebagai pribadi dalam kehidupan bermasyarakat. Lantas ada sederetan perilaku atau integritas.

Antara lain, berpikir positif. Jangan merasa dirinyalah paling malang. Lebih baik memberi daripada menerima. Lebih banyak mendengar daripada berbicara. Termasuk hal-hal terkait integritas, seperti jangan biasakan mencaci-maki. Jangan meludah atau  merokok di bukan tempatnya.

Menarik, hal terakhir ini menuai protes para lelaki perokok. Pasalnya Bapa Toto melarang merokok selama acara berlangsung. Tetapi hasil musyawarah, para lelaki itu mengalah.

Topik kedua, menyoal Wadah, Sarana atau Mitra Usaha. Intinya, bagaimana berinteraksi dengan pihak ketiga. Beragam contoh seperti  Koperasi, Usaha Kecil Menengah (UKM), PKK. Wadah-wadah yang memang sudah atau sedang berjalan di NAK.

Topik ketiga, Lingkungan Alam yang Memengaruhi. Mencakup penghjauan, pelestarian pantai, pemanfaatan lahan tidur. Pemanfaatan dan pengelolaan sampah plastik dan non plastik. Pembuatan pupuk orgnik (lubang Biopori).

Terkait pelestarian pantai, tiadanya talit (tanggul) menyebabkan terkikisnya pantai Areng NAK. Sementara batu-batu koral yang dibawa gelombang laut dari dasar laut ke pantai, malah menjadi komoditas. Sebagian rayat rutin mengumpulkan bau-batu itu untuk dijual.

Topik keempat, Contoh Peluang yang Memungkinkan dan Syarat-Syarat. Di sini Bapa Toto menyebutkan komoditi pertanian seperti kasbi (ubi kayu/singkong). Berpotensi memiliki nilai tambah setelah diolah menjadi tepung tapioka atau kripik. Juga peternakan seperti sapi dan ayam.

Kemudian ada usaha-usaha yang memungkinkan di NAK. Seperti, makanan dan kue. Tebu yang dibuat jus air tebu. Atap dari daun sagu. Kerajinan tangan, dll.

Di samping, pergelaran acara-acara yang bisa mendatangkan dana lewat mitra sponsor. Seperti lomba memancing di pantai, festival layang-layang, jalan sehat, dll.

Hal menarik lain, di NAK ternyata ada para petani/pengusaha kecil yang berhasil. Artinya, walau jumlahnya relatif sedikit, toh ada. Seperti Cada Pariury dan Jopie Nahusona yang petani tomat. Anton pedagang pisang molen dan tahu. Mon Pattiwaellapia pengusaha mebel.

Saran Usul Masukan; Kesimpulan

Para petani/pengusaha itu umumnya mengharap peningkatan produksi baik segi peralatan maupun pendanaan. Termasuk perlunya sebuah traktor mini untuk membantu penggarapan lahan. Juga dari segi pemasarannya.

Hal lainnya, muncul saran untuk menghidupkan lagi pasar di NAK. Seperti sebelum kerusuhan yang berupa “pasar kaget”. Malah lebih baik lagi kalau pasar rutin.

Moderator Agus Pattiwaellapia menulis Kesimpulan Umum.

Antara lain, 1) Hasil bincang-bincang ini akan diteruskan ke Persekutuan Anak-Anak Negeri Kariu baik di Jakarta (se-Jabodetabek) maupun di Belanda (lewat Sdr. Jemie Schaduw). 2) Diminta dukungan doa dari masyarakat Kariu di mana saja berada.  3) Diharapkan masyarakat tidak putus asa. Tetap berjuang menentang tantangan hidup ini.

17-Kronik Leamoni Kamasune-14 November 2009-IV

Patahnya Jembatan Kecil  dan Papalele Batu Koral

Jembatan kecil itu, akhirnya patah juga akhir Oktober 2009 lalu. Beban akumulatif  truk-truk yang mondar-mandir mengangkut batu-batu koral asal  pantai NAK, diduga kuat penyebabnya.

Jembatan yang teletak di jalan utama (selebar hampir 5 meter) memasuki NAK dari pantai. Beberapa puluh meter dari tanggul bibir pantai. Melintas di atas got besar hanya sekitar 2 meter. Betul-betul sebuah jembatan kecil.

Tetapi, penyebabnya yang diduga kuat itu, bukan perkara kecil. Coba saja.

Pertama, Batu-batu koral itu secara alamiah dan terus menerus diboyong gelombang laut ke pantai NAK.

Kedua, koral yang seakan tak habis-habisnya itu, memancing naluri papalele (dagang) sebagian rayat Kariu.

Mereka lantas mengumpulkan koral itu di depan/dekat rumah masing-masing, menunggu pembeli dari negeri terdekat. Begitu terjadi transaksi, truk-truk membawanya pergi.

Orang-orang Ambon (sejak dulu kala) biasanya membawa hasil-hasil tanaman hak miliknya (duren, duku, gandaria, dll) di negeri untuk di-papalele di pasar. Tetapi bukan koral asal pantai.

Kebiasaan papalele koral khas rayat NAK ini, menonjol pascakerusuhan. Kemiskinan lalu menjadi “kambing hitam”. Padahal ada sekian banyak rayat NAK miskin lainnya, mengolah tanah, berkebun, tanpa perlu ber-papalele koral.

Ketiga, jadinya, papalele koral ini sebuah bukti lain lagi bahwa ada masalah dengan integritas  rayat Leamoni Kamasune. Hal yang menjadi ulasan salah satu anggota redaksi dalam dua pengeposan berturutan ini (simak rubrik wawasan Oktober dan November 2009).

Keempat, integritas sebagian rayat NAK yang tak terpuci ini, jelas berdampak buruk pada kelestarian lingkungan pantai NAK.

Redaksi belum melihat atau mendengar sikap Gereja NAK yang jelas soal ini. Satu lagi sebuah misal. Bagaimana religiositas (kesalehan) seseorang, sebuah masyarakat dipertaruhkan menghadapi isu warga dunia modern abad ke-21: pelestarian lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: