25 – Kronik LK

25-Kronik Leamoni Kamasune-14 Maret 2010-I

PNPM-M 2009 NAK: Proyek Penampung Air Hujan

Salah satu program pendanaan dari pemerintah pusat, PNPM-M (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri), untuk tahun 2009 bagi Negeri Adat Kariu (NAK),  akhirnya terealisasi juga. Namanya, Proyek Penampung Air Hujan

Raja NAK yang dihubungi Redaksi awal Maret 2010 lalu, mengkonfirmasikan hal tersebut.

Proyek tersebut bernilai Rp 350 juta. Jumlah yang relatif  jauh di atas angka saat pemrosesannya.

Pasalnya, ada beberapa negeri di Kecamatan Pulau Haruku (kecamatan bernaungnya NAK) yang oleh satu dan lain hal proposalnya bermasalah. Hal yang berbuntut terpangkas atau bahkan batal sama sekali pencairan dana dimaksud. Alokasi dana pun beralih ke NAK.

Padahal, awalnya—sejak nyaris setahun lalu—begitu tak menjanjikan. Raja NAK malah sempat menantang. NAK tidak usah ikut program dimaksud, kalau memang begitu merepotkan.

Redaksi pun ikut-ikut menengarai (mengisyaratkan) sebagai salah satu bentuk penerapan UU No.32/2004 yang membuat desa sangat bergantung pada “bos”-nya: kecamatan. Dan bisa jadi bukan sebuah kebetulan. Bahwa, khususnya bagi NAK, urusan dengan kecamatan relatif lancar pasca-pencopotan Camat Pulau Haruku awal tahun ini. (Simak 21-Kronik Leamoni Kamasune-14 Januari 2009).

Proyek Penampung Air Hujan

Jelaslah sudah, PNPM-M tahun 2009 untuk NAK adalah Proyek Penampung Air Hujan. Lokasinya di Seihutu dan Roa-Roal, bagian dari kawasan Kariu-gunung.

Secara teknis, air hujan akan ditampung di sebuah bak beton (bisa disebut  bak besar) ukuran 6 x 3 x 2 M (36 M3) atau kapasitas 36.000 liter. Dan agar cukup optimal upaya penampungan itu, digunakan atap rumah dengan talang sekeliling atap rumah yang akan mengalirkan air hujan ke bak tersebut.

Rumah dimaksud, disebut Rumah Induk (RI), berukuran 6 x 8 M.

Disamping bak besar tersebut masih ada 11 bak lainnya (sebutllah, bak kecil) terbuat dari fibreglass berkapasitas masing-masing 1000 liter. Jadi total kapasitas bak-bak kecil itu sekitar 11.000 liter.

Dan serupa seperti pada bak besar, ke -11 bak tersebut dipasok air hujannya dari masing-masing walang atau bedeng (rumah sementara bagi para petani penggarap) berjumlah 11 buah pula. Walang secara teknis dalam proyek ini disebut Rumah Tani (RT). Ukurannya 3 x 3 M.

Dalam operasional nanti, bak besar merupakan cadangan ketika air di bak-bak kecil habis.

Dan ketika musim kemarau berkepanjangan, air di bak-bak pun habis, pasokan air diharapkan dari sungai yang mengalir di sekitar lokasi proyek dimaksud. Hal yang seturut pengalaman, relatif jarang terjadi, karena jurah hujan di NAK dalam setahun relatif tinggi. Soalnya, pompa air tanah/pompa bor sebagai alternatif, sisi isapnya harus mencapai kedalaman 60 M lebih. Hal yang belum mungkin dilaksanakan saat ini.

Air Ditampung untuk Apa?

Pertanyaan sederhana. Air yang ditampung itu untuk apa? Jawabannya sederhana pula, ya untuk irigasi. Untuk pengairan. Untuk memasok air ke perkebunan.

Di sinilah, hakekat dari PNPM-M. Kemandirian rayat coba dirangsang bahkan difasilitasi oleh pemerintah.

Artinya, dalam program ini pada konteks NAK, pemerintah (pusat) menyediakan dana untuk pembangunan sarana perkebunan. Lalu pemerintah NAK diharapkan menyediakan kelompok-kelompok petani untuk diberdayakan menggarap perkebunan. Perkebunan yang telah disediakan sarana walang serta pasokan airnya itu.

Urusan selanjutnya perkebunan pun menjadi bagian tanggung jawab pemerintah NAK.

Makanya, pemerintah NAK lalu berinisiatif. Diharapkan 2-4 orang Kariu akan menggarap 1 ha lahan perkebunan. Sehingga ada sekitar 22-44 orang Kariu akan menggarap sekitar 11 ha lahan perkebunan.

Dengan kata lain diharapkan ada 11 kelompok petani Kariu (masing-masing 2-4 orang) yang akan memanfaatkan ke-11 walang atau RT (masing-masing dengan kemampuan pasokan 1000 liter air dari bak kecil) dan 36.000 liter air di bak besar.

Makanya juga, pemerintah NAK menyedikan kloset di setiap walang/RT dan RI. Serta sebuah ruang pertemuan di RI. Yang terakhir ini untuk efektifitas pemerintah NAK dalam menjalankan tugas koordinasi. Baik walang/RT maupun RI berdinding papan, beratap seng, dan berlantai semen.

Makanya juga, pemerintah NAK mencanangkan penekanan perkebunan itu untuk berbagai tanaman. Ada kacang tanah/ijo, jagung, patatas (ubi jalar), kasbi (singkong), nanas, pepaya, termasuk tananam untuk bumbu masak. Bahkan peternakan seperti ayam (untuk memulai disediakan 20 ekor).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: