31 – Kronik LK

 

31-Kronik Leamoni Kamasune-14 Juni 2010-I

Pasar Kariu Hadir Kembali

Salah satu ikon (lambang) kemakmuran Negeri Adat Kariu (NAK) sebelum kerusuhan adalah Pasar Kariu (PK). Pasar tradisional kebutuhan sehari-hari yang membentang di depan pagar Sekolah Dasar (SD) Negeri Kariu sepanjang sisi jalan-masuk utama dari pantai ke NAK. Pasar yang baik pembeli maupun penjual tak terbatas rayat Kariu. Tapi juga masyarakat negeri/dusun tetangga seperti Pelauw, Ori, Nama, Waimital, bahkan dari Seram diseberang lautan NAK datang berjualan. Kerusuhan membuat PK ikut mati.

Alhamdulillah (ungkapan untuk menyatakan rasa syukur — maknanya ‘segala puji bagi Allah’: KBBI/Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan/online—Red). Beberapa hari menjelang peringatan 5 tahun kembali dari Tihunitu, PK hadir kembali. Tepatnya, pada 2 Juni 2010. Atau 11 tahun lebih(!) sejak NAK rata deng tana (rata dengan tanah).

PK yang berukuran sekitar 16 x 6 m itu, lokasinya memang tidak di tempat semula. PK kini menempati lahan kosong di samping kanan (arah ke Timur) Gereja Tua yang sedang dibangun.

Namun sangat strategis. Karena berada di jalan utama dan satu-satunya yang melintasi negeri-negeri/dusun-dusun sepanjang pantai Utara-Timur Pulau Haruku. PK berada di jalur angkutan umum (angkot) yang regular melayani trayek Kailolo-Hulaliu pp (pulang-pergi). Trayek yang melintas dari Kailolo-Pelauw-NAK-Ori-Nama-Waimital-Hulaliu pp. Sementara pelabuhan Wairiang di Kailolo, seperti diketahui bersama, adalah pelabuhan yang disinggahi ferry regular dua kali seminggu dari pelabuhan Tulehu di Pulau Ambon tujuan Kulur, di Pulau Saparua pp.

Meski skalanya relatif kecil, PK menyediakan beragam sayur-mayur seperti umumnya pasar tradisional. Ada tomat, bawang merah, kacang panjang, kangkung, cili (cabe), lemong cina (jeruk nipis), dan lain-lain termasuk buah langsa (duku). Tak ketinggalan sagu-manta, tepung setengah basah olahan dari pohon sagu. Bahan dasar pembuatan makanan khas orang Ambon: papeda.

Juga seperti PK terdahulu sebelum kerusuhan, tak hanya dikunjungi dan dilayani orang Kariu. Tapi tukang jual ikan tetangga dari Pelauw dan Ori pun ikut serta. Bahkan Penjual sayur dari Nama juga datang. Sekali lagi, alhamdulillah.

Adalah Wadah Perempuan GPM (Gereja Protestan Maluku) Ebenhaezer Kariu yang punya gagasan dan mengkoordinasikan pelaksanaan PK pascakerusuhan ini.

Dan yang sangat menarik, pembuatan lapak-lapak tempat berjualan itu menerapkan sistem masohi. Artinya, rayat Kariu bergotong-royong, setidaknya dalam penyediaan atap lapak (dari daun pohon sagu) dan papan-papan bagi meja lapak.

Raja NAK, Bapa Emang (BE) sangat antusias mendukung kehadiran kembali PK dimaksud. BE ikut belanja di hari pertama pembukaan PK. Malahan BE belanja ke PK sedikitnya dua kali seminggu.

Kepada Redaksi BE berucap, setiap gagasan untuk memajukan perekonomian NAK patut didukung.  Dari siapa pun. Tak mesti ide dan pelaksanaannya dari Pemerintah NAK (PNAK). Apalagi ada unsur adat sangat prinsipil ditegakkan di situ seperti masohi.

Sebab, lanjut BE, inilah hakekat dari tegaknya kembali adat istiadat, tegaknya kembali PNAK. Malahan adanya PK, masih menurut BE, akan bersinergi dengan program pemerintah pusat  PNPM-M (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri). PNPM-M yang di NAK berupa Proyek Bak Penampung Air Hujan di Seihutu, arah Selatan NAK.

PK akan menjadi pemicu (trigger) perekonomian rakyat, ujar BE mengakhiri keterangannya,  untuk makin dipercepat realisasi perkebunan di Seihutu. PK akan diisi pula oleh hasil perkebunan dari NAK sendiri.

Tapi bagi Redaksi, semuanya itu tentunya tergantung pada masyarakat NAK. Dan last but not lease sangat tergantung pada GPM Ebenhaezer Kariu. Hal yang sudah terbukti dengan kehadiran kembali PK.

Gereja sebagai institusi yang berkutat di sisi keimanan seseorang, seharusnya mendukung PNAK tanpa cadangan/reserve.

Atau dalam kata-kata salah seorang pejuang Kariu semasa kerusuhan: “Gereja itu bisa lebih dari satu—seperti di NAK yang memiliki Gereja Pantekosta di samping GPM—tapi pemerintah negeri itu cuma satu. Karena itu, gereja tidak mungkin sejajar pemerintah negeri apalagi di atasnya.”

31-Kronik Leamoni Kamasune-14 Juni 2010-II

Ibadah Pengucapan Syukur 5 Tahun Kembali dari Pengungsian

Tepat 5 tahun lalu pada 6 Juni 2005, rayat Kariu kembali ke Leamoni Kamasune dari pengungsian di Tihunitu. Tempat pengungsian rayat Kariu semasa kerusuhan di petuanan gandong Negeri Aboru, pesisir Timur-Tenggara Pulau Haruku.

Tihunitu memang bukan satu-satunya tempat pengungsian bagi rayat Kariu semasa kerusuhan. Ada berbagai tempat, termasuk di Pulau Ambon. Namun Tihunitu adalah tempat pengungsian pertama dan terbesar ketika NAK rata deng tana pada 14 Februari 1999. Dan ketika seremonial (acara) kembalinya pun—dihadiri Gubernur Provinsi Maluku Karel Ralahalu—iring-iringan rayat Kariu adalah dari Tihunitu.

Untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, bertempat di Gereja Ebenhaezer Kariu pada Minggu, 6 Juni 2010 Pukul 09.00 berlangsung Ibadah Pengucapan Syukur.

Pendeta GPM Ebenhaezer Kariu M. Tomasoa yang memimpin ibadah, dalam kotbahnya antara lain menyitir hikayat di Perjanjian Lama. Bahwa seperti halnya Bani Israel yang kembali ke tanah airnya tidak ada yang bisa mencegahnya. Begitu pun dengan rayat Kariu.

Dan di bagian lain kotbahnya itu, Pendeta Tomasoa secara halus mengingatkan rayat Kariu lewat Kitab Kejadian. Bahwa setelah Adam dan Hawa memakan buah terlarang itu, maka turunlah penghukuman bagi umat manusia. Antara lain, para lelaki harus bekerja keras untuk mencari nafkah.

Rayat Kariu pun harus bekerja keras. Tidak boleh tinggal diam. Padahal di tempat lain, Pendeta Tomasoa seakan bersaksi, lahannya tidak sesubur di NAK.

31-Kronik Leamoni Kamasune-14 Juni 2010-III

Raja Baru Gandong Hualoy: Sulaiman Lussy

Kekerabatan antar-negeri di negeri-negeri atau desa-desa asalnya orang-orang Ambon secara umum disebut pela. Tak satu pun negeri lepas dari kekerabatan pela ini.

NAK pun tergabung dalam kekerabatan serupa. Secara organisatoris sudah lama dikenal dengan nama Perkumpulan BAKH (Booi, Aboru, Kariu, Hualoy). Di antara sesama rayat mereka saling bersapa “gandong”: bermakna kandung atau saudara kandung.

Nah, pada 14 Juni 2010, gandong Hualoy memiliki raja baru, Sulaiman Lussy. Bapa Raja Sulaiman yang memiliki satu anak dan aktivis pemuda gandong Hualoy ini dilantik oleh Bupati Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Soalnya, gandong Negeri Hualoy yang terletak di pesisir Selatan Pulau Seram, termasuk dalam Kabupaten SBB.

Raja Gandong Hualoy Sulaiman Lussy beserta Istri di dampingi mantan Raja Gandong Hualoy yang digantikan Jafar Hehanusa

Raja Gandong Hualoy yang baru Sulaiman Lussy beserta Istri

 

Bupati Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) di tengah-tengah para penari Cakalele

 

 

Di samping ritual adat dalam pelantikan tersebut, ada pagelaran drama-tari oleh mahasiswa gandong Hualoy.

Kecuali Raja Negeri Aboru yang berhalangan hadir karena alasan kesehatan dan diwakili Sekretaris Negeri Aboru, gandong lainnya ikut hadir. Raja Booi Pattiasina dan Raja NAK Herman Pattiradjawane.

31-Kronik Leamoni Kamasune-14 Juni 2010-IV

Rencana Acara “Panas Gandong” di Negeri Aboru

Usai acara pelantikan Bapa Raja Sulaiman Lussy, keempat petinggi gandong BAKH itu menyempatkan diri bermusyawarah. Mereka berencana menggelar acara adat “Panas Gandong”. Acara yang sudah lama tertunda, terlebih setelah kerusuhan melanda Maluku Tengah.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 2 jam itu, dicapai kesepakatan bahwa acara “Panas Gandong” kali ini akan diadakan di Negeri Aboru. Secara tentatif jatuh pada tahun ini atau paling lambat pada 2011.

Seiring tujuan utamanya untuk “memanaskan kembali” kekerabatan di antara keempat negeri gandong itu ada pula rencana menggelar semacam lokakarya atau seminar sehari.

Keempat petinggi BAKH itu sepakat bertemu lagi, untuk lebih mematangkan rencana akbar tersebut. Pasalnya, acara yang khas adat orang Ambon itu, tentunya akan menarik masyarakat masing-masing gandong—lokal maupun mancanegara—untuk hadir di Negeri Aboru. Ini bukan perkara kecil, dan butuh dana tak kecil pula.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: