34 – Wawasan LK

Opini

Hilangnya Akal Sehat di Leamoni Kamasune

Raskin

Akal sehat negeri ini mungkin sedang terguncang hingga bergeser ke lutut. Atau hilang entah kemana. Jadilah banyak persoalan yang diselesaikan secara tidak masuk akal, menggelikan sekaligus menyedihkan.

Demikian kalimat-kalimat pembuka yang terdengar dari Kantor Berita Radio KBR68H pada program Tajuk, Jumat, 25 Juni 2010 Pk.09.00. Penulis kemudian mengunduh (to download) dari website mereka (http://www.kbr68h.com/; sayang kini tulisan baik itu tak bisa diakses).

Sekaligus, tajuk berjudul “Akal Sehat” itu, sebagai sumber inspirasi dan rujukan untuk keperluan penulisan ini.

Memang, akal sehat dimaksud diletakkan redaksi radio itu dalam menyoal orang-orang beratribut Front Pembela Islam atau kelompok serupa. Seperti dapat kita simak pada kutipan berikut dari dua alinea lainnya tajuk tersebut.

Lihatlah apa yang dilakukan orang-orang beratribut Front Pembela Islam FPI di Bayuwangi Jawa Timur Entah dimana akal sehat mereka, hingga berani mengusir dan membubarkan kegiatan sosialisasi kesehatan yang digelar beberapa anggota Komisi IX DPR. Entah dimana akal sehat mereka, bertindak kasar dengan alasan pertemuan itu adalah pertemuan eks anggota PKI.

Tindakan tanpa nalar semacam itu sudah tak terhitung banyaknya. Dan itu bukan monopoli FPI. Ada banyak kelompok serupa yang mengedepankan kekerasan, dan menyingkirkan akal sehat. Sudah sering kita mengulasnya.

Tapi bagi penulis, pengertian atawa definisi akal sehat seperti pada kalimat-kalimat pembuka tajuk di atas, bisa ‘diaplikasikan’ dalam berbagai segi kehidupan negeri tercinta ini yang sedang limbung dengan jati  dirinya sendiri: sang garuda. Salah satunya, program beras untuk rumah tangga miskin (RTM) atau raskin khususnya di Leamoni Kamasune. Coba kita tengok—dua butirnya saja.

Pertama, raskin yang berjumlah 15 kg per bulan per RTS/M (rumah tangga sasaran/miskin) untuk total 12 bulan.

Dimana akal sehatnya, memberi bantuan beras sejumlah itu yang sejatinya hanya pas-pasan untuk seorang dewasa setiap bulannya.

Dimana akal sehatnya memberi bantuan seolah bersikukuh pada prinsip ‘daripada tidak samasekali’. Seolah berlindung dibalik kebijakan bernama subsidi (sejak 2010 raskin berubah nama menjadi rasdi, beras bersubsidi—Red). Sementara banyak orang sudah paham dan akrab betul  apa makna metafor (kiasan): lebih baik memberi kail daripada ikan. Apalagi untuk rayat seperti di Leamoni Kamasune. Salah satu desa, korban terparah kerusuhan Maluku memasuki abad ke-21.

Dan 15 kg, itu pagu (plafon) tahun lalu. Kini di 2010, pagunya berkurang menjadi 13 kg. Lo, kok bisa?

Pemerintah pusat berkilah, pagu berkurang seiring menurunnya tingkat kemiskinan. Dari RTM 19 juta di tahun lalu menjadi 17,5 juta di tahun 2010. Demikian yang pernah terucap dari Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono Desember 2009 lalu di Semarang (http://nasional.kompas.com/2009/12/29/).

Dan dengan entengnya Pak Menteri menambahkan, kekurangan 2 kg itu diharapkan dari pemerintah daerah. Padahal sampai opini ini diunggah (upload), di Leamoni Kamasune seng ada kabar berita perihal kekurangan 2 kg itu. Malahan menurut Raja NAK (Negeri Adat Kariu), berdasarkan jatah yang ditetapkan pihak kecamatan untuk NAK (bukan dari data riil di NAK, bukan dari bottom ke up—Red), maka yang bakal sampai ke setiap RTM adalah 10 kg!

Lalu bagaimana dengan pemda seperti harapan Pak Menteri?  Entahlah.

Lalu bagaimana Pak Camat membenarkan pernyataan Pak Menteri soal penurunan tingkat kemiskinan. Ketika Pak Camat “main tembak” data RTM di NAK? Entahlah.

Lalu bagaimana komentar Pak Menteri sendiri? Entahlah.

Yang pasti, sepotong persoalan pengentasan kemiskinan lewat program raskin/rasdi di tingkat akar rumput, di sebuah desa, NAK, telah diselesaikan. Penyelesaian, meminjam KBR68H, secara tidak masuk akal, menggelikan sekaligus menyedihkan.

Hilangnya akal sehat di Leamoni Kamasune.

Kedua, rasdi ke ranah bisnis.

Dimana akal sehatnya, ketika sebuah program subsidi pemerintah untuk sebagian rakyatnya yang menjadi objek lantaran berpredikat miskin secara legal didorong ke ranah bisnis?

Dimana akal sehatnya bahwa alasan raskin/rasdi dibisniskan antara lain untuk menutupi ongkos angkut, kerusakan beras selama distribusi, juga honor petugas terkait termasuk profitnya sang saudagar?

Dimana akal sehatnya, ketika bisnis rasdi itu macet di tangan saudagar yang ternyata pejabat (kini mantan). Membuat Bulog memutuskan: negeri-negeri seantero Kecamatan Pulau Haruku (bernaungnya NAK) harus bayar di muka dulu kalau mau memeroleh rasdi!

Maka pertanyaan masuk akal Raja NAK untuk Pak Camat malah seolah jadi aneh. “Kami kesulitan menggandeng saudagar. Apa Bapak bisa meminjami Pemerintah NAK uang untuk menebus rasdi?”

Pak Camat menampik. Apakah beliau seorang sederhana yang betul-betul seng pung kepeng (tak punya uang)? Atau kuatir tergelincir menyusul seniornya yang kini mantan? Atau takajo (terkejut) mungkin bingung? Entahlah.

Hilangnya akal sehat di Leamoni Kamasune coba ditemukan kembali oleh Raja NAK. Penulis tidak tahu persis, apakah sang raja telah mendengar atau membaca tajuk KBR68H dimaksud. Khususnya kalimat berikut, bagian awal alinea penutupnya.

Sungguh. Negeri ini akan hancur tanpa akal sehat…

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: