33 – Kronik LK

33-Kronik Leamoni Kamasune-14 Juli 2010-I

Rampung Sudah PNPM-M 2009 NAK

Tanggal 30 Juni 2010 lalu merupakan tenggat (batas waktu) selesainya proyek PNPM M (Progam Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri) anggaran 2009 untuk Negeri Adat Kariu (NAK). Demikian yang ditetapkan Raja NAK, lewat surat tertanggal 20 Juni 2010.

Seperti pernah diwaritakan dalam blog ini—Simak 25-Kronik Leamoni Kamasune-14 Maret 2010—proyek dimaksud adalah Proyek Penampung Air Hujan (PPAH). Sebuah proyek pembangunan sistem pengairan tadah hujan di petuanan Kariu-gunung bernama Seihutu, Selatan dari Leamoni Kamasune. (Simak G1-Leamoni Kamasune dalam Gambar-Juni 2010).

Proyek senilai Rp 350 juta yang terdiri dari 11 bak fibre kapasitas l.000 liter penampung air berlokasi masing-masing di 11 walang atau Rumah Tani/RT (3×3 m). Serta satu bak induk penampung air hujan (3x6x2 m) di Rumah Induk /RI (6×8 m). Jadi total sekitar 11.000 liter air hujan tadahan dari ke-11 Rumah Tani dan 36.000 liter dari Rumah Induk—sebagai cadangan.

Direncanakan masing-masing walang akan melayani lahan perkebunan seluas 1 ha. Sehingga total luas perkebunan yang akan dicakup oleh proyek pengairan tersebut adalah 11 ha.

Tukang Malawang

Ada anekdot (cerita singkat menarik, lucu) di kalangan orang Ambon. Bahwa di Ambon itu banyak sekali tukang. Para ahli dalam berbagai bidang tertentu. Tetapi yang lebih banyak lagi adalah Tukang Melawang atau orang yang “ahli” melawan atau bersikap sangat tak patuh.

Surat ketetapan Raja NAK terkait tenggat di atas, ternyata berawal dari Tukang Malawang.

Adalah Bu Kakisina (BK), salah seorang unsur pengurus PNPM M dari NAK yang tiba-tiba mengambil alih pelaksanaan PPAH. Tentu saja berikut dana terkait. Ironisnya BK bukan dari pengurus inti PNPM M di NAK (Ketua, Bendahara, Sekretaris).

BK memang cukup sigap bila menangani teknis detail administratif. Hal yang membuatnya dipercayai Raja NAK. Khususnya untuk urusan awal PPAH ketika Ketua dan Sekretaris tidak cukup aktif.

Tapi mendadak sontak (sekonyong-konyong) situasi berbalik total.

BK malah sempat berujar ketus (keras dan tajam). Raja jangan ikut campur tangan!

Luar biasa. Tukang Malawang itu ternyata memang ada—di NAK! Jadinya, BK berjalan sendiri meninggalkan raja. Putuslah komunikasi: Raja-PNPM M.

Memang, proyek terus berlanjut bahkan hampir rampung. Sebelas RT dan sebuah RI lengkap dengan bak-bak penampung air hujan praktis sudah berdiri. Lamun macet, ketika dana proyek diperkirakan tinggal beberapa juta rupiah. Tinggal pekerjaan-pekerjaan kecil seperti satu dua kloset, dan lain-lain. Serah terima proyek pun tertunda.

Raja NAK lalu bertindak tegas. Menerbitkan surat ketetapan tenggat selesainya proyek PPAH tersebut.

Fasilitator Kecamatan

Sangat masuk akal, muncul sebuah pertanyaan sederhana.  Dimana gerangan sang Fasilitator Kecamatan (FK)? Dimana peran orang yang menduduki jabatan strategis dalam suatu  proyek PNPM M?

Pasalnya, FK sesuai namanya, sebagai fasilitator (pemberi kemudahan). FK  adalah orang yang ditunjuk dari provinsi. Bertanggung jawab atas dana dan pelaksanaan proyek.

Soalnya lagi, program pemerintah pusat yang satu ini menekankan pemberdayaan masyarakat desa agar bisa mandiri. Mengandalkan musyawarah mufakat di antara warga desa. Termasuk antara masyarakat desa dan pemerintah daerah. Di sinilah letak peran strategis FK.

Singkat kata, FK adalah perpanjangan tangan pemerintah daerah di tingkat desa. Gagal berhasilnya suatu proyek PNPM M setidaknya beliaulah yang paling tahu.

Sehingga pertanyaan berikutnya, apakah sepak terjang BK sepengetahuan FK? Terus terang Redaksi tidak bisa menjawab.

Yang pasti FK pada PPAH di NAK, seperti kebakaran jenggot menanggapi surat ketetapan tenggat selesai proyek tersebut. Berita yang menyebar di NAK, FK berang (marah) terhadap orang-orang Kariu yang duduk dalam kepengurusan PNPM M di NAK.

PNPM M 2010 NAK terancam batal

Sementara Raja NAK Bapa Emang (BE) yang dikonfirmasi Redaksi, berkomentar. Bahwa tanpa serah terima resmi PPAH, maka proyek PNPM M di NAK anggaran 2010, terancam batal.

Memang, BE sebelum menerbitkan surat terkait tenggat selesainya PPAH, telah secara lisan menegaskan: menolak PNPM M 2010!

Keputusan lisan BE yang satu ini membuat mereka yang terbiasa berpikir dalam “semangat proyek” (bukan masohi yang pro-rakyat) terperangah (takajo, terkejut).

Padahal BE yang, maaf, besar di Jawa (baca: Jakarta) puluhan tahun bekerja dengan para profesional, maaf lagi, tingkat dunia pula.  Sulit menerima mereka yang mengaku beriman tapi kesehariannya meludahi muka Allah dengan melanggar 10 perintahNya.

Redaksi menangkap sinyal kuat dari Raja NAK. Keimanan itu tak teruji kalau orang hanya ‘berdiam’ di dalam gereja. Sebuah proyek dengan peluang besar untuk pajekong (korupsi), adalah salah satu ujian di hadapan Dia, Sang Penguji Sejati.

Buat apa sebuah proyek PNPM M. Sebagus apapun itu. Kalau Raja NAK yang sekaligus Kepala Adat dan juga Kepala Saniri tak memiliki sepotong pun kewenangan menghentikan praktik pajekong dalam proyek tersebut?

Keputusan lisan Raja NAK menolak PNPM M 2010 seyogyanya dipahami dalam konteks ini.

Kelanjutannya?

Sampai warita ini diunggah (upload), belum ada perkembangan baru menyangkut tuntasnya PPAH itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: