35 – Kronik LK

35-Kronik Leamoni Kamasune-14 Agustus 2010-I

Raja Negeri Adat Kariu Diserang di Dalam Rumah Raja, dan Raja Tidak Bernafsu Memberikan Perlawanan Samasekali. Si Penyerang Adalah “Pangkat Anak” dari Mataruma Prentah

Pada Selasa, 10 Agustus 2010 sekitar Pk. 19.30 WIT, Alex menyerang Raja NAK, BapaEmang (BE), di dalam Rumah Raja.

BE sempat menerima bogem mentah di pipi kiri. Dan sebanyak dua kali leher BE dicekik, digoyang-goyang–bagai menggoyang pohon. Malah BE sempat terjatuh.

BE yang dari semula tidak bernafsu memberikan perlawanan samasekali, tetap bersikeras tak mau melawan (sebuah keputusan sangat bijak dan berkelas dari seorang Raja Adat—Red). Sementara Alex yang ber-”pangkat anak”, dari mataruma prentah itu terus menggila.

Poli Mantri bersama anaknya, Andre,  yang sejak BE dicekik sudah ada di lokasi pertikaian, kemudian masuk melerai. Tapi Poli dan Andre malah diserang Alex. Belakangan diketahui Alex di bawah pengaruh alkohol. Rayat pun terus berdatangan, ramai mengerumuni Rumah Raja.

Kemudian muncul Jonathan, juga untuk melerai–sambil mengingatkan, bahwa BE itu “pangkat Bapa”. Situasi nyaris tak terkontrol. Giliran Alex yang jatuh celentang kena tinju Jonathan. Dengan sudah payah Alex bangkit. Sang preman kampung itu sudah kesohor, dalam keadaan tanpa alkohol pun sengbisa bakupukul(tidak bisa berkelahi)

Jonathan tiba-tiba diserang Martin. Pukulan yang sebenarnya lemah.  Sementara,  Alex yang masih blingsatan (seperti cacing kepanansan)  jatuh tersungkur bersama sepeda motor dinas Raja NAK.

Saat hampir bersamaan, Ayah Jonathan tiba di Rumah Raja. Sang preman kampung ditenangkan. Awalnya masih ngotot. Begitu mengetahui siapa yang di hadapinya, sekecap terdiam.

Polisi dan Pengakuan Palsu, Kesaksian Palsu

BE lalu melapor ke Kepolisian Negara Republik Indonesia Sektor (Polsek) Pulau Haruku, di Negeri Pelauw, tetangga NAK di sisi Barat.

Singkat cerita. Jonathan dan Martin ditahan atas perintah Kapolsek (Kepala Polsek) Pulau Haruku Kapten (Pol) Andi Hasanudin, S.Sos.

Alasan polisi, Jonathan telah menggunakan senjata tajam untuk melukai Alex. Rupanya tangan Alex tersayat cukup dalam—darah masih mengucur. Hal yang didasarkan pada pengakuan Alex (yang kini malah sebagai pelapor, memerkarakan Jonathan), bahwa ada senjata tajam yang digunakan Jonathan. Dan polisi percaya pada pengakuan palsu Alex.

Alasan penahanan Martin, karena ia menyerang Jonathan.

Alex sendiri tidak ditahan. Karena berdasarkan pengakuan Alex, ia samasekali tidak menyerang Raja NAK—seperi dilaporkan BE. Pengakuan yang didukung kesaksian Poli Mantri, bahwa tidak benar Alex telah mengirim bogem mentah ke pipi kiri BE. Juga tidak benar, Alex mencekik leher BE dan menggoyangnya bagaikan menggoyang-goyang pohon—seperti diperagakan BE di hadapan Kapolsek Pulau Haruku Kapten (Pol) Andi Hasanudin, S.Sos.

Lagi-lagi, polisi percaya pada pengakuan palsu Alex soal tindak kekerasan pada Raja NAK  di Rumah Raja. Termasuk kesaksian palsu dari Poli Mantri—salah satu anggota Saniri NAK.

Polisi dan Bukti Baru

Jelang tengah malam, BE bergegas ke kantor polisi. Ada bukti baru.

Didekat sepeda motor yang rubuh bersama Alex itu rupaya tergeletak alat pemotong rumput. Dan di salah satu ujung dari pisau pemotongnya ditemukan darah manusia, segar. BE berasumsi kuat, ketika Alex rubuh bersama sepeda motor, tangannya tersayat pisau pemotong rumput.

BE melaporkan pada polisi temuan bukti baru itu. Salah seorang  anggota Polisi lalu ke Rumah Raja, memotret bukti tersebut.

Polisi dan Bebasnya Martin

Keesokannya, masih di pagi hari, dengan bantuan Stevi (anggota polisi, yang juga orang Kariu) Martin dibebaskan dari tahanan Polsek.

Muncul sejumlah tanya. Apa alasan pembebasan Martin? Sampai di mana kewenangan Stevi, hingga bisa membebaskan Martin?  Apa mentang-mentang orang Kariu? Atau Stevi hanya menjalankan perintah Kapolsek. Tapi, kembali lagi ke pertanyaan semula, apa alasan polisi membebaskan Martin.

Polisi dan Bebasnya Jonathan

BE bersama kedua orang tua Jonathan kembali mendatangai kantor polisi. Untuk menjenguk Jonathan sekalian menanyakan kelanjutan perkara.

Alex pun dihadirkan di kantor polisi. Alex masih bersikukuh, bahwa Jonathan menggunakan senjata tajam saat keributan kemarin itu. Ketika polisi memerlihatkan foto pisau pemotong rumput dengan darah yang menempel, Alex terdiam.

Polisi lalu menanyakan apakah Alex masih ingin melanjutkan perkaranya menuntut Jonathan. Alex malah menjawab, ingin mencabut perkaranya.

Lagi-lagi polisi menunjukkan keberpihakannya pada Alex.  Perkara Alex yang menuntut Jonathan, dicabut. Jonathan pun jelang sore, dibebaskan.

Seorang Kapolsek yang Mencoreng Wajah Polri

Maka selesailah peristiwa penyerangan Raja NAK di Rumah Raja.

Si penyerang tak pernah ditahan, bahkan setelah memberikan pengakuan palsu soal senjata tajam. Dan tentunya termasuk pengakuan palsu bahwa dia tidak pernah menyerang Raja NAK di Rumah Raja. Apalagi terhadap saksi kunci Poli Mantri yang memberikan kesaksian palsu pula.

Jonathan ternyata–diakui oleh Polisi sendiri–tidak terbukti menggunakan senjata tajam, kecuali kedunguan preman kampung itu sendiri  yang menyebabkan tangannya tersayat pisau pemotong rumput.

Kapolsek  Pulau Haruku Kapten (Pol) Andi Hasanudin, S.Sos telah menoreh sebuah rekam jejak kariernya yang tak terpuji di NAK.

Institusi terhormat Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), lembaga terhormat pengayom masyarakat, telah dicoreng wajahnya oleh tindakan Kapten (Pol) Andi Hasanudin, S.Sos yang membiarkan bahkan mendorong terjadinya kekerasan di NAK. Sebuah negeri yang rayatnya harus mengungsi 6 tahun lebih sewaktu kerusuhan, memasuki  abad ke-21 lalu.

Padahal, Maluku, dimana NAK bernaung di dalamnya baru saja menggelar  Sail Banda 2010. Sebuah kegiatan nasional bahkan regional untuk menunjukkan dan membuktikan pada dunia Maluku yang aman dan damai. Tak heran, Acara Puncak Sail Banda 2010, bahkan dihadiri Presiden SBY beserta Ibu Negara termasuk beberapa menteri dari kementerian terkait.

Kapolsek Kapten (Pol) Andi Hasanudin, S.Sos betul-betul telah bertindak ceroboh. Bermain-main dengan api dalam kariernya, hanya untuk berpihak pada seorang preman kampung. Terlalu mahal Pak Andi!

35-Kronik Leamoni Kamasune-14 Agustus 2010-II

Setelah Merobek Daftar Penerima BLT, Kini Merampas Raskin PNAK

Masih ingatkah pembaca, Ince alias Marthina Salakory-Pattiradjawane, mantan Penjabat Kepala Desa Kariu, pegawai Kantor Kecamatan Pulau Haruku? Perempuan yang merobek-robek daftar penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) masyarakat Leamoni Kamasune? Malahan Ince sempat “mencegah” proses pembagian BLT dimaksud. Luar biasa!

(Sekadar menyegarkan ingatan, silakan arahkan kursor mouse Anda ke alamat berikut: https://kariuxapakabar.wordpress.com/kronik-leamoni-kamasune-14-juni-2009/ lalu klik kiri. Tunggu beberapa saat. Bila dinyatakan gagal/belum tampil, lanjut dengan arahkan kursor ke sisi kanan pada halaman 7-Kronik Leamoni Kamasune-14 Juni 2009, klik kiri—Red).

Kini, jatah raskin (beras untuk masyarakat miskin) atau nama barunya rasdi (beras bersubsidi) untuk Pemerintah Negeri Adat Kariu (PNAK) tahun 2010, dirampas Ince.

Maksudnya, kewenangan atau hak untuk mendatangkan, menyimpan, serta mendistribusikan raskin kepada RTM (rumah tangga miskin)yang seharusnya ada pada PNAK, telah diambil alih secara sepihak oleh Ince tanpa sepengetahuan PNAK.

Tidak Kapok-Kapok: Ince dan Mantan Camat P. Haruku I.Wernehen, BA

Rupanya Ince tidak kapok-kapok. Arogansinya (kesombongannya) merobek daftar penerima BLT itu, lantaran didukung penuh oleh pejabat waktu itu, Camat Pulau Haruku I.Wernehen, BA.

Padahal Wernehen belakangan dilengserkan. Diduga kuat, mantan camat itu terlibat manipulasi uang sebesar Rp 249 juta setoran raskin dari empat negeri: Aboru, Samet, Haruku, Hulaliu.

Hal yang diberitakan oleh media Rakyat Tenggara Online (Silakan diakses dengan mengarahkan kursor mouse Anda ke alamat berikut http://rakyattenggara.com/detail.php?module=rubrik&option=1261493212&act=detailberita&id=1263572052 , lalu klik kiri, tunggu beberapa saat sebelum situs itu muncul; tapi disayangkan pada awal Desember 2011, situs ini tidak lagi bisa diakses—Red).

Uang ratusan juta itu pula yang tidak diterima Bulog (Badan Urusan Logistik)—sebuah BUMN/Badan Usaha Milik Negara yang mengurusi tata niaga beras. Menyebabkan Bulog mengambil sikap sepihak. Sebuah sikap aneh tapi menjadi “lumrah” di republik kacau balau ini. Bahwa untuk raskin 2010, khusus Kecamatan Pulau Haruku, setiap negeri harus bayar di muka dulu, baru didrop raskin.

Peluang inilah yang diambil Ince. Dengan modal sekian juta dari kantong sendiri (atau entah kantong siapa; yang jelas seorang PNS/pegawai negeri sipil telah menjadi saudagar; sebuah pelanggaran disiplin PNS), Ince merampas kewenangan raskin atawa rasdi PNAK. Persis ketika Raja PNAK bertanya kepada Camat Pulau Haruku Firman Tappa. Kami kesulitan menggandeng saudagar. Apa Bapak bisa meminjami Pemerintah NAK uang untuk menebus rasdi?” (Seperti yang pernah dimuat pada pengeposan lalu. Silakan arahkan kursor mouse Anda ke alamat berikut

https://kariuxapakabar.wordpress.com/33-kronik-leamoni-kamasune-14-juli-2010/34-wawasan-leamoni-kamasune-14-juli-2010/ lalu klik kiri; tunggu beberapa saat sebelum halaman itu muncul, selanjutnya idem seperti langkah-langkah serupa di atas—Red)

Camat Pulau Haruku Firman Tappa Diperiksa Kejari Ambon

Jika Wernehen kini adalah mantan Camat dengan dugaan manipulasi—ratusan juta rupiah. Maka pengganti Wernehen, Camat Pulau Haruku Firman Tappa juga punya dugaan yang sama.

Sebab Firman Tappa dua bulan lalu (14/6) ternyata diperiksa tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon.

Hal yang baru diketahui publik ketika Website Kejaksaan Republik Indonesia dalam salah satu rubrik Berita bertanggal 5 Agustus 2010 melansir warita bertajuk ”Tim Penyidik Kejari Ambon Periksa Camat Pulau Haruku”.

Dalam berita itu disebutkan, bahwa Camat Pulau Haruku Firman Tappa diduga telah melakukan penyimpangan dalam pengadaan beras miskin (Raskin) tahun 2009 serta dana ADD/N Negeri Maluku.

(Silakan diakses dengan mengarahkan kursor mouse Anda ke alamat berikut,http://www.kejaksaan.go.id/berita.php?idu=0&id=822&hal=4, lalu klik kiri, tunggu beberapa saat sebelum situs itu muncul—Red)

Tidak Kapok-Kapok: Ince dan camat P. Haruku Firman Tappa

Jadi, sekali lagi, Ince tidak kapok-kapok. Setelah mengintervensi kewenangan PNAK dengan bantuan Wernehen; yang kini mantan camat lantaran diduga memanipulasi uang setoran raskin.

Hal yang serupa dilakukan dengan Camat Pulau Haruku Firman Tappa; yang kini juga di duga melakukan penyimpangan dalam pengadaan raskin 2009 dan dana ADD/N (Anggaran Dana Desa/Negeri) Maluku.

Seperti disebutkan di atas, Ince telah merampas  kewenangan PNAK dalam urusan raskin. Adalah suatu kemustahilan, bila perampasan wewenang yang dilakukan Ince tidak diketahui oleh Camat Pulau Haruku Firman Tappa. Sulit untuk tidak mengatakan Camat Pulau Haruku Firman Tappa telah bersekongkol dengn Ince.

Raskin bukan di Kantor PNAK tapi di rumah Ince

Karenanya, tidak heran, Raja NAK tidak diinformasikan sama sekali oleh Camat Pulau Haruku Firman Tappa perihal raskin yang telah dirampas itu.

Maka pada 8 Agustus 2010, seperti sudah diduga, tanpa informasi dan komunikasi dengan Raja NAK, raskin jatah NAK sejumlah 774 karung @ 15 kg (=11.622 kg) tiba di NAK. Namun diturunkan bukan di Kantor PNAK tapi di rumah Ince. Luar biasa!

Sebuah pamer dominasi kekuasaan kecamatan atas pemerintahan negeri adat. Lagi-lagi sebuah bukti gamblang ketidakberpihakan pemerintah pascareformasi atas perdesaan, termasuk negeri adat.

Bocornya Draf Surat PNAK ke Kejari Ambon

Begitu raskin didrop, hari itu juga Ince langsung menjualnya kepada para RTM (rumah tangga miskin). Tapi mereka  hanya boleh membeli  maksimal 1 karung (15 kg) setiap RTM. Termasuk kepada PNS (pegawai negeri sipil) baik aktif maupun pensiunan

Padahal PNAK sebelumnya telah menetapkan, bahwa setiap RTM boleh membeli sampai maksimal 3 karung (45 kg). Dan PNS termasuk para pensiunan, sesuai ketentuan pemerintah, tidak boleh membeli raskin.

Daftar para RTM yang berhak menerima raskin pun sudah disiapkan PNAK. Jadi, Ince membagi secara warmus takaruang (main hantam kromo). Tanpa daftar RTM, suka-suka Ince saja. Makanya, mengapa beberapa waktu lalu Camat Pulau Haruku Firman Tappa langsung menetapkan 149 RTM untuk NAK tanpa konsultasi dengan PNAK.

Padahal jumlah RTM versi PNAK jauh di atas itu. Sehingga sulit untuk tidak mengatakan Camat Pulau Haruku Firman Tappa, telah sengaja mengecilkan jumlah RTM dari NAK. Dengan harapan, apalagi kalau bukan, untuk memerolah kelebihan raskin—yang bakal dibuang ke pasar umum. Yang terakhir inilah yang bakal membuat penuh pundi-pundi kedua pegawai kecamatan itu.

Dan kalau jatah untuk RTM pun cuma 1 karung, makin luberlah pundi-pundi mereka berdua.

Menanggapi arogansi Ince seperti disinggung di atas, PNAK bersama perangkat negeri lainnya, menyusun draf surat untuk mengadukan Ince ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon. Tentunya draf itu berisi poin-poin pelanggaran Ince. Baik dalam kapasitasnya sebgai PNS maupun seorang rayat NAK.

Namun entah bagaimana, surat pengaduan ke Kejari Ambon itu bocor. Draf itu sampai ke tangan Ince. (PNAK dan para anggota perangkat negeri menduga kuat Ketua Saniri Cada ada di balik kebocoran draf itu—Red).

Upaya Ince Menyingkirkan Raja NAK

Kenyataan paling gamblang bahwa draf surat itu bocor, adalah diserangnya Raja NAK di Rumah Raja.

Pasalnya, si penyerang, sang preman kampung itu, adalah adik kandung Ince. Raja NAK sendiri, sempat mendengar percakapan Alex dan Ince, sesaat sebelum Alex—yang dibawah pengaruh alkohol—memasuki Rumah Raja.

Bagi Redaksi, penyerangan itu adalah upaya Ince untuk menyingkirkan Raja NAK. Soalnya, dengan tindak kekerasan itu Ince berharap Raja NAK akan terpancing berkelahi. Dan bukan tidak mungkin, Alex akan babak belur. (Sampai hati Ince mengorbankan adik kandungnya sendiri. Alex yang kesohor di NAK tak mampu berkelahi).

Saat itulah polisi akan menangkap Raja NAK dengan tuduhan penganiyayaan. Seperti Jonathan yang ditahan lantaran dituduh melukai tangan Alex dengan senjata tajam  (tapi kemudian tuduhan batal, tak terbukti—simak warita di atas). Jika seandainya Raja NAK ditahan, maka urusan raskin, urusan manipulasi raskin berjalan tanpa hambatan.

Tapi Ince lupa, seperti banyak di antara kita lupa, bahwa Raja Adat adalah salah satu bentuk  ekspresi kearifan lokal di Maluku Tengah. Keimanan kita—entah kristiani atau islami atau apapun—yang masih sebatas kulit, sebatas permukaan, seperti yang diajarkan dan diteladankan Suharto selama 3 dasawarsa, akan lunglai tak berdaya di hadapan kearifan yang satu ini.

Maka skenario Ince pun gagal total. Raja NAK ternyata tidak memberikan perlawanan sedikit pun terhadap sang preman kampung itu. Justru preman kampung itu sendiri yang terluka.

Malah Kapolsek Pulau Haruku Kapten (Pol) Andi Hasanudin, S.Sos sebagai pejabat negara pengayom masyarakat, juga terkena tohokan (tusukan) Raja NAK. Beliau terpancing, dan tiba-tiba marah besar. Pasalnya, Raja NAK mengajukan pertanyaan enteng dan sederhana: “Apa yang Bapak lakukan bila ada orang yang mencekik Bapak di dalam rumah Bapak?”

Pascagagal Menyingkirkan Raja NAK

Pascagagal menyingkirkan Raja NAK, Ince langsung menjual raskin dengan maksimal per RTM adalah 3 karung. Hal yang semula ditetapkan PNAK.

Lamun, hitung-hitungan sederhana, Ince tetap saja akan memerolah banyak kelebihan. Jumlah yang lumayan bila dilempar ke pasar umum.

Daftar sepihak yang dibuat Kecamatan, 149 RTM; dibulatkan saja 150 RTM. Jika masing-masing RTM adalah 3 karung, total raskin yang dijual ke RTM di NAK: 3 x 150 karung = 450 karung. Sementara yang tiba adalah 774 karung. Berarti paling sedikit ada kelebihan (774 – 450) sama dengan  324 karung.


MEMO TERBUKA

Dari: Redaksi Apa Kabar Leamoni Kamasune, blog:  kariuxapakabar.wordpress.com  (email: red.kariuxapakabar@gmail.com)

Kepada: Tim Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon

Hal: Bahan masukan  terkait pemeriksaan terhadap Camat Pulau Haruku Firman Tappa.

Tembusan: Website Kejaksaan Republik Indonesia

Tanggal: 14 Agustus 2010


Dengan hormat,

Bila berkenan, mohon dapat menyimak laporan jurnalistik kami 35-Kronik Leamoni Kamasune-14 Agustus 2010-II di bawah tajuk “Setelah Merobek Daftar Penerima BLT, Kini Merampas Raskin PNAK.” Pada blog kami: kariuxapakabar.wordpress.com

Soalnya, dalam tulisan itu kami beberkan hal-hal yang mungkin berguna bagi keperluan penyidikan atas Camat Pulau Haruku Firman Tappa terkait program Raskin, khususnya penjualan Raskin periode 2010 di Negeri Adat Kariu. Termasuk rekannya Ince alias Marthina Salakory Pattiradjawane yang juga pegawai Kecamatan Pulau Haruku.

Mohon maaf bila kami menggunakan sarana Memo Terbuka yang dilekatkan pada blog kami ini. Ini semata sejajar dengan semangat jurnalis warga yang kami pegang, namun diusahakan tetap berintegritas tinggi.

Untuk pribadi yang bisa dihubungi, silakan dengan Mantri Pede (Saniri) 0852 4310 4299 dan/atau Bapa Olof (LPMN/Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Negeri) 0852 4392 0968.

Terima kasih.

Hormat kami,
Redaksi Apa Kabar Leamoni Kamasune
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: