Tentang Buku-e IPR (1)

Pembaca Budiman blog AKLK (Apa Kabar Leamoni Kamasune),

Selamat Datang di pengeposan (posting) 14 Desember 2010.

Kami yang atas dasar sebuah kuasa penuh dari Redaksi AKLK, dengan ini bertindak untuk dan atas nama Redaksi AKLK, menginformasikan hal-hal berikut.

Bahwa, sejak hari ini, 14 Desember 2010, blog Apa Kabar Leamoni Kamasune telah berubah formatnya menjadi sebuah buku elektronik (buku-e), diberi nama: Buku-e IPR.

Buku-e IPR

Dengan tajuk  atau judul dan sub judul, seperti tampak pada wajah depan Buku-e IPR dalam iklan di bawah in.

Ingin Pro Rakyat? Ingin Berantas Korupsi? Mulailah dari Desa (Kariu), Pak SBY“–dikutip dari tajuk 14-Wawasan LK (Leamoni Kamasune-14 September 2009).

NAK: Wajah Suram Sebuah Desa Indonesia“–dikutip dari sub judul 41-Kronik LK (Leamoni Kamasune-14 November 2010).

Maksudnya, blog ini sejak hari ini kiranya dapat dipandang sebagai sebuah buku-elektronik atau buku-digital. Berisi kumpulan opini (rubrik Wawasan) maupun berita (rubrik Kronik) seputar Negeri Adat Kariu (NAK) atau Leamoni Kamasune. Terkumpul dalam rentang waktu hampir dua tahun seperti rincian tanggalnya–yang juga tampak pada wajah depan Buku-e IPR dalam iklan di bawah ini–hasil pengeposan rutin tiap bulan.

Artinya pula, Redaksi AKLK lewat kami sejak hari ini dan ke depannya tidak lagi menurunkan tulisan baru. Maksudnya, tidak lagi ada tulisan baru pada rubrik Wawasan maupun Kronik. Dengan kata lain, kedua rubrik tersebut (Wawasan dan Kronik) sejak pengeposan hari ini tak akan muncul lagi.

Lamun (namun), berbeda dengan buku dalam format cetak bukan elektronik.

Redaksi AKLK lewat kami, tetap akan menanggapi komentar terkait tulisan dalam buku elektronik,  Buku-e IPR ini; langsung, atau pun tidak langsung. Termasuk warita (berita) dari NAK yang dianggap perlu untuk mendapat bidasan (respons) Redaksi AKLK. Tentunya, bila ada komentar dan/atau warita yang masuk. Juga, bila ada kebutuhan memuat tulisan, artikel (tidak harus ditulis Redaksi AKLK) khususnya terkait iklan Buku-e IPR.

Selanjutnya Redaksi AKLK berpesan pada kami, bahwa terkecuali tanggapan atas komentar pembaca, maka bidasan warita NAK dan tulisan terkait iklan Buku-e IPR, rencananya di taruh di Halaman A-LAMPIRAN BUKU-E IPR (PERBARUI/UPDATED).

Halaman dimaksud ini diawali dengan “Tentang Buku-e IPR (1)”, tulisan yang sedang Pembaca Budiman simak ini, pengeposan 14 Desember 2010.

Dengan begitu, batasan atawa definisi buku-e seperti yang dimaksud Wikipedia Indonesia khususnya menyangkut formatnya, sudah tentu tidak terpenuhi, setidaknya belum saatnya. Redaksi AKLK sedang berupaya ke arah itu.

Tentang kami sendiri

Kami sendiri, dengan begitu, seperti disinggung di atas boleh dikata sebagai “penunggu” dari blog AKLK. Bertindak untuk dan atas nama Redaksi AKLK. Sebutannya: a/n (atas nama) Redaksi AKLK “Penunggu” Buku-e IPR.

“Penunggu” dari sebuah blog yang (sementara) “tidak diasuh” redaksinya—kecuali, seperti disinggung di atas.

Ini kesepakatan kami dengan Redaksi AKLK. Kesepakatan yang tentunya tidak bersifat permanen; sewaktu-waktu bisa ditinjau kembali.

Tentang perubahan drastis ini, Redaksi AKLK hanya menitip pesan singkat pada kami, “terkendala teknis”.

Sebuah komentar dan Penutup

Pada pengeposan kali ini, hanya ada sebuah komentar tetapi tidak ada warita NAK  yang masuk; termasuk tak ada hal terkait iklan Buku-e IPR.

Komentar dari Pieter Herry Nahusona(tertanggal 7/12/2010) sudah ditanggapi Redaksi AKLK. Silakan cari di sisi/kolom kanan tampilan blog ini lalu klik Halaman

Dari Redaksi 14 Februari 2010  atau cari dan klik Arsip

Februari 2010 atau klik

https://kariuxapakabar.wordpress.com/2010/02/

—kemudian klik “1 komentar” di akhir tulisan.

Ada sedikit catatan dari Redaksi AKLK.

Mengapa komentar Bung Pieter ada di pengeposan Februari 2010 tampilan depan? Itu lantaran beliau menulis komentar pada pengeposan dimaksud (2/2012) tampilan depan. Sementara waktu/saat komentarnya itu sendiri ditulis adalah di bulan Desember 2010. Sehingga tanggapan Redaksi AKLK pun di pengeposan (2/2010) tampilan depan tersebut.

Sama seperti pada pengeposan ini (12/2010) tampilan depan ada sebuah komentar dari Bung Simon GP. Padahal waktu/saat Bung Simon menulis komentarnya itu adalah pada bulan Januari 2010, tapi komentar itu ditulisnya di pengeposan ini (12/2101) tampilan depan.

Sebagai penutup, Redaksi AKLK menitip pesan yang “itu-itu juga” dan kami pun ikut nebeng:

Begitu do (dolo, dulu)
Selamat Membaca,
Danke Lai (Terima Kasih ya), Amatoo (Dah) 
a/n Redaksi AKLK “Penunggu” Buku-e IPR

 

 
iklan Buku-e IPR iklan Buku-e IPR iklan Buku-e IPR iklan Buku-e IPR iklan Buku-e IPR

BACALAH BUKU-E IPR INI

INGIN PRO RAKYAT?

INGIN BERANTAS KORUPSI?

MULAILAH DARI DESA (KARIU), PAK SBY! *

NAK: Wajah Suram Sebuah Desa Indonesia**

Buku-e IPR

Kumpulan Tulisan Blog Apa Kabar Leamoni Kamasune

https://kariuxapakabar.wordpress.com

14 Februari 2009-14 November 2010

Penerbit: Redaksi Apa Kabar Leamoni Kamasune

14 Desember 2011

  * AKLK 14 – Wawasan LK  
** AKLK 41 – Kronik LK 
iklan Buku-e IPR iklan Buku-e IPR iklan Buku-e IPR iklan Buku-e IPR iklan Buku-e IPR

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Satu Tanggapan to “Tentang Buku-e IPR (1)”

  1. simon gp Says:

    Saya suka tulisan-tulisan Redaksi. Hanya saja Redaksi tidak pernah mengemukakan siapa penulis/para penulis dibalik “Redaksi” itu.

    Sehingga banyak tulisan yang perlu mendapat tanggapan tetapi Redaksi selalu menutup diri. Mungkin Redaksi sendiri tidak mengenal NAK secara dekat dan hanya memandangnya dari jauh.

    Komentar Redaksi AKLK (untuk pengeposan 14 Januari 2011)

    Terima kasih Bung Simon GP, bahwa Bung suka tulisan-tulisan kami. Sayangnya Bung Simon tidak menyebut tulisan mana yang disukai. Seperti halnya tidak disebutkan tulisan mana yang menyebabkan Bung Simon sampai pada tengara di atas “tidak mengenal…dst”

    Redaksi agak heran, kenapa Bung Simon harus menunggu kejelasan identitas penulis sebelum menanggapi tulisan penulis dimaksud. Bukankah “isi” lebih penting ketimbang “bentuk”?

    Dan bukankah dengan perkembangan teknologi, para redaksi media “on line”, tidak lagi harus menuntut sidang pembacanya melampirkan kopi KTP ketika menulis sebuah Surat Pembaca. Pembaca tinggal tulis dan klik. Bisa dimuat, bisa tidak. Jadinya, identitas pembaca menjadi relatif–lantaran lewat email yang tidak perlu otentik. Jadinya pula, sebagai pembaca kenapa kita mesti minta kejelasan identitas sang redaksi.

    Dan dengan menyoalkan hal ikhwal sang penulis, bukankah kita sedang mengabaikan persoalan gawat integritas diri yang sedang melanda masyarakat Kariu saat ini. Atau lebih tepatnya integritas diri (baca: jujur, satu kata dan perbuatan terlebih di dalam Dia) para “elite” Kariu.

    Dan dengan segala kerendahan hati, maaf, apa lagi yang perlu dikenal dari NAK, jika junta militer Soeharto di masa lalu telah memporakporandakan adat istiadat orang Ambon melalui UU No.5/1979?

    Menjadikan negeri sama seperti desa di Jawa. Menjadikan salah satu sebab kalau bukan sebab utama, kerusuhan berkepanjangan, perlu 6 tahun lebih (!!!) rakyat Kariu kembali dari pengungsian di Tihunitu. Menjadikan negeri bahkan pascareformasi tak sepenuhnya kembali ke adat, lantaran UU No.32/2004 semangatnya sama dengan UU No.5/1979 yang membuat Raja NAK adalah “macan ompong”. Menjadikan negeri sangat “terbuka” untuk investor asing/luar NAK yang ingin menyedot kekayaan alam (baca: koral di pantai) kita–lantaran adat istiadat, “sasi” misalnya, telah roboh. Menjadikan negeri adalah ajang politik nasional saat pemilu yang sarat “money politics” itu digelar. Dan seterusnya…

    Maaf, jang kurang hati e, Bung Simon. Katong orang Ambon, orang Kariu ni, su musti taru “sombar” dar paitua yang kas ilang akang adat tu, di nyiru busu-busu lalu buang akang di kusu-kusu vor matahari jua; dong ni biking katong baku loko satu deng laeng, lebe jahat lai dar “zaman Vlaming”.

    Sementara di sisi lain, negara dengan UU dan perda turunannya–seperti disinggung secara tak langsung di atas–malah ikut “membentuk” integritas diri yang berantakan itu. Penegak hukum (baca: polisi) dan juga Gereja yang seharus berperan strategis, justru tak sigap untuk tidak mengatakan ikut “larut”.

    Pada saat komentar ini ditulis, Camat Firman Tappa seperti halnya pendahulunya Wernehen telah dipindahkan dari Kecamatan Pulau Haruku. Jadi telah dua orang camat terpental dari Pulau Haruku persis 2 tahun Raja NAK. Dan keduanya memiliki rekam jejak “pajekong” (korup) terkait raskin NAK. Tentu saja bukan semata gara-gara NAK mereka digeser. Tapi yang jelas salah seorang “elit” Kariu ikut bersekongkol dengan kedua camat itu untuk urusan raskin.

    Jadi Bung Simon, silakan saja berkometar (lebih spesifik) atas buku elektronik ini: mendukung PNAK tanpa reserve.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: