Dari Redaksi

Kariu Baru (5)

 Pembaca budiman,   Selamat Datang di situs web kami, pengeposan (posting) tanggal 14 Juni 2009.

Empat bulan sudah, sejak pengeposan perdana 14 Februari 2009 bertepatan satu dasawarsa Leamoni Kamasune rata deng tana (rata dengan tanah). Serta 4 tahun lebih sejak rayat (rakyat) Kariu kembali dari pengungsian di Tihunitu (Negeri Aboru). Kembali ke tanah tumpah darahnya sendiri Leamoni Kamasune pada 6 Juni 2005. Menghabiskan enam tahun lebih—sekali lagi, enam tahun lebih—sebagai “pengungsi”!!!

Terkait empat tahun hari bersejarah itu, di samping peringatan Hari Pattimura (15/5), serta enam bulan Pemerintah Negeri Adat Kariu (PNAK) jelang akhir bulan lalu (terhitung pelantikan pada 25-26 November 2008), pengeposan kali ini mengangkat isu-isu tersebut. Disatukan dalam sebuah tulisan, disiapkan salah satu anggota Redaksi, bertajuk “Merdeka” Berarti Daerahnya Dikembalikan kepada yang Punya (Pusaka)-Bagian Pertama. Judul yang dipinjaman dari bukunya Johannes D. de Fretes  “Kebenaran Melebihi Persahabatan” (Hal.43, Cetakan Pertama). Buku yang resensinya dapat disimak pada pengeposan 14 April 2009.

Diberi embel-embel “Bagian Pertama”, berhubung tulisan tersebut masih bersambung pada bulan depan pengeposan medio Juli 2009. Pakar filsafat sekaligus pengajar di Universitas Indonesia Rocky Gerung dalam tulisannya “Ruang Sejarah” menjadi acuan pada tulisan Bagian Pertama ini, di samping de Fretes tentunya. Sementara antropolog Dieter Bartels dengan tulisannya “Tuhanmu Bukan Lagi Tuhanku” yang menyinggung sosiolog Tamrin A. Tomagola masih muncul. Dan direncanakan, pada Bagian Kedua,  Andi Erwing dalam tulisannya “Pembangunan Perdesaan (Ekskluasi Sosial Terhadap Pembangunan Perdesaan Akibat Kebijakan Yang Tidak Berpihak Pada Pembangunan Perdesaan)” akan diacu khususnya terkait UU No.32/2004.UU yang dalam penilaian Andi sejajar pengalaman Raja NAK: intervensi birokrat atas desa/negeri.

Seperti pada pengeposan sebelumnya, tulisan dimaksud dapat dijumpai pada rubrik “Wawasan Leamoni Kamasune 14 Juni 2009”. Kemudian berbagai warita (berita) dari Negeri Adat Kariu dapat disimak pada rubrik “Kronik Leamoni Kamasune 14 Juni 2009”. Sehingga dengan rubrik “Dari Redaksi”, blog ini masih mencagun (muncul) dengan tiga rubrik.

Tajuk atau judul rubrik “Dari Redaksi” yang sampai pengeposan ini tetap serupa pengeposan-pengeposan lalu,  “Kariu Baru (5)”, oleh seorang pembaca diberi masukan berharga. Bahwa kalau pun akan tetap dipertahankan (kecuali angkanya yang bertambah setiap kali pengeposan)  ke depannya, tak jadi soal. Malah Unik. Dan tak perlu setiap kali diberi penjelasan. Soalnya, motto blog ini jelas-jelas “Sebuah Jurnalisme Warga untuk Kariu Baru”, ujar pembaca yang enggan disebut identitasnya.

Begitu do (dolo, dulu)
Selamat membaca.
Danke lai. Amato.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: