Dari Redaksi-14 Feb 2009 (Tentang kami/blog ini)

oleh kariuxapakabar

Kariu Baru

Sekapursirih dari Redaksi

Pembaca budiman,   Selamat Datang di

situs web: https://kariuxapakabar.wordpress.com

bertajuk Apa Kabar Leamoni Kamasune,

bermotto Sebuah Pewarta Warga untuk Kariu Baru.

.

Kariu

Kariu adalah nama sebuah sebuah desa kecil, dihuni kurang dari dua ribu jiwa, terletak di Pulau Haruku (sisi timur Pulau Ambon, selatan Pulau Seram), termasuk dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Negeri Kariu, begitu sebutannya. Atau lengkapnya Negeri Adat Kariu.

Istilah “negeri” adalah sebutan orang Ambon untuk desa/kampung (seperti di Jawa) dalam konteks adat-istiadat. Pemimpin negeri pun disebut “raja”. Dan sebagai catatan, yang disebut “orang Ambon” itu adalah mereka yang berasal dari negeri-negeri di Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease (Pulau Haruku, Pulau Saparua, Pulau Nusa laut), serta negeri-negeri di sebagian Pulau Seram.

Kariu juga punya nama lain: Leamoni Kamasune. Ini  bahasa tana   bahasa para leluhur  yang masih digunakan dalam upacara-upacara adat. Leamoni Kamasune bermakna: dian bercahaya kecil,  nyaris-padam, tapi tak padam-padam, tak pernah padam.

(Simak Hlm A Lampiran Buku-e IPR klik 11 atau klik Desa Kariu di Suatu Hari Minggu)

Kariu dan “Pela Gandong”

Dari segi kekerabatan “pela”, Kariu adalah satu dari “empat lelaki bersaudara gandong (kandung)”. Negeri-negeri yang secara adat memiliki hubungan “pela gandong”. Dikenal sebagai BAKH: Booi, Aboru, Kariu, Hualoy.

Keempat negeri yang tersebar di tiga pulau. Booi di pesisir selatan Teluk Saparua, Pulau Saparua. Aboru di pantai selatan Pulau Haruku. Sedangkan Hualoy, negeri salam (muslim) satu-satunya di antara keempatnya, terletak di pesisir selatan Pulau Seram.

(Simak Hlm A Buku-e IPR klik 4 atau klik Kerabatan Pela BAKH versi Dieter Bartels/Frank Cooley)

Kariu sendiri, sepulau dengan Aboru tapi di pantai utara Pulau Haruku. Berhadapan langsung dengan pesisir selatan Pulau Seram. Tetangganya di sisi barat adalah Negeri Pelauw dan sebelah timur Dusun Ori.

Foto diambil pagi hari beberapa jam sebelum pelantikan Raja Adat Negeri Kariu secara kenegaraan, 26 November 2008

Gambar latar pada tajuk blog sebelum ini–yang sekarang berganti menjadi tanpa foto kecuali warna merah bergraduasi dengan nuansa (perbedaan tipis) ke putih–adalah lautan di hamparan pantai Kariu. Tampak di depannya membentang kebiruan dari kiri ke tengah gambar: Pulau Seram; di sisi kanan gambar  berwarna gelap membentang dari kanan ke arah tengah gambar, masih bagian Pulau Haruku; dan menempel di depannya pada permukaan laut tampak seperti pagar pendek kecil  memanjang menjorok ke laut, itu adalah dermaga Dusun Ori.

Pewarta Warga

Jadi dari tajuk atau judul blog ini, isinya mudah ditebak. Jawaban atas pertanyaan “apa kabar Leamoni Kamasune”. Berisi kabar, berita atau warita, bisa juga analisis berita, termasuk opini, dan features khsusus tentang Kariu. Dan semua ini dihasilkan oleh suatu cara kerja pewartaan yang sekarang dikenal sebagai “jurnalisme warga” (citizen journalism) atau pewarta warga, untuk selanjutnya.

Ada banyak bloger (penyelenggara sebuah blog) mengartikan istilah ini. Sadikin Gani, misalnya, menulis (dalam “Apa itu Jurnalisme Warga”): “Intinya jurnalisme warga atau publik atau jurnalisme partisipatif adalah partisipasi aktif warga negara dalam mengoleksi, melaporkan, menganalisis dan menyebarluaskan berita dan informasi. Jurnalisme warga adalah bentuk khusus dari media warga yang informasinya berasal dari warga itu sendiri.”

Makna dari jurnalisme warga macam inilah, menjadi salah satu rujukan dalam menyusun motto blog ini: “Sebuah Pewarta Warga untuk Kariu Baru”.

Artinya, blog bertajuk “Apa kabar Leamoni Kamasune” ini, meminjam Sadikin, adalah “media warga Kariu yang informasinya berasal dari warga Kariu sendiri sebagai salah satu (saja!) kontribusi untuk menggapai Kariu Baru”.

Kariu Baru

Sebandung (sepasang) kata yang sengaja dilansir blog ini, adalah cita-cita, suatu pencapaian yang ingin diraih.  Berangkat dari semacam patok atau titik tolak dalam perjalanan sejarah negeri ini sendiri. Di sini, “baru” tidak mesti identik gagah perkasa yang dipertentangkan dengan tua rentan, misalnya. Kariu Baru, masa depan Negeri Adat Kariu, berangkat dari bagian sejarahnya sendiri. Kariu Baru tak lain adalah visi Negeri Adat Kariu. Visi yang bertolak dari sejarah.

Pasalnya, adalah Drs. Herman Pattiradjawane, MSi, yang pada 25-26 November 2008 lalu di Negeri Adat Kariu, dilantik sebagai Raja Negeri Adat Kariu, Kepala Pemerintah Negeri Adat Kariu.

Lalu Gubernur Maluku Karel A. Ralahalu yang hadir di acara Pelantikan Adat dipimpin Amunupui/Pelaksana Adat Z. Pariury berlangsung sebelum matahari terbit (25/11). Sekaligus Pak Gubernur diberi gelar adat dipimpin tetua adat gandong Hualoy Rais Hehanussa. Pelantikan maupun pemberian gelar adat yang berlangsung di baileu (rumah adat yang berfungsi sebagai balai pertemuan negeri) Kariu.

Kemudian Bupati Kabupaten Maluku Tengah Ir. Hj. Abdullah Tuasikal, M.Si, yang mengambil sumpah pada acara pelantikan kenegaraan (26/11) di Rumah Raja Kariu.

‘Ditutup’ Pendeta M. Tomasoa, STh yang memimpin ibadah pelantikan dan peneguhan di Gereja Ebenhaezer Kariu (26/11 siang).

Sehari sebelumnya (24/11), calon raja menjalani acara adat di  internal mataruma prentah Pattiradjawane (marga/clan yang “memerintah”, menduduki posisi raja secara turun-temurun). Ritual penyerahan calon raja mataruma prentah kepada negeri untuk dilantik secara adat. Calon raja yang dimandikan di Rumah Raja dihadiri hanya anggota keluarga mataruma prentah. Menggunakan air dari gunung di belakang negeri yang diyakini terkait erat penghormatan terhadap leluhur.

Dan ketika hujan lebat yang mengguyur Pulau Haruku siangnya bahkan menghambat pelayaran speed dari Tulehu yang ditumpangi seksi konsumsi panitia pelantikan. Hujan yang turun bersamaan rombongan adat mataruma prentah tiba di gunung memulai upacara pengambilan air untuk dimasukkan ke dalam sembilan potongan bambu (ikon Kariu yang Patasiwa). Bagi orang Ambon, hal ini diyakini bukanlah suatu kebetulan. Sebuah pertanda, seorang raja negeri dari mataruma prentah segera naik tahta.

Maka, genaplah pelantikan raja sebuah negeri: Leamoni Kamasune.

Naiknya Bapa Emang (begitu panggilan akrabnya), menandai diberlakukannya kembali sistem pemerintahan adat di Kariu. Bapa/Bapak Emang (BE) memang berasal dari mataruma prentah Pattiradjawane. Hal yang diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Maluku maupun Perda Kabupaten Maluku Tengah. Suatu realisasi dari dikembalikannya sistem pemerintahan adat memasuki abad 21 ini. Setelah sebelumnya berlaku sistem pemerintahan desa sejak terbitnya UU No. 5/1979 hampir tiga dasawarsa silam itu.

“Raja terakhir” dari mataruma prentah adalah Martin F. Pattiradjawane (Bapa Sie, beristerikan Mie Wattimena, Raja Negeri Makariki). Bapa Sie adalah  paman BE, kakak kandung dari ayah BE Hermanus Pattiradjawane (Bapa Manus, beristerikan Itje de Queljoe, anak Raja Negeri Porto/mantan Raja Negeri Kilang).

Di samping itu, tahun ini genap satu dasawarsa, ketika seluruh warga Kariu terpaksa meninggalkan negerinya pada Minggu, 14 Februari 1999. Dan baru kembali lagi pada 6 Juni 2005—enam tahun lebih!

Inilah titik tolak, bagian sejarah yang disinggung di atas. Kembali ke adat dan peristiwa memilukan satu dasawarsa lalu. Dari sinilah, dari kedua peristiwa sejarah ini, Negeri Adat Kariu berangkat untuk meraih visi Kariu Baru itu. Visi yang disiapkan oleh BE dan sedang dirampungkan sekaligus dengan misinya. Visi yang berisikan program-program, jangka pendek, menengah, dan panjang. Menarik, bahwa visi tersebut, “diterjemahkan” dari Leamoni Kamasune (sang dian bercahaya kecil nyaris padam), yaitu Kariu sebagai pembawa terang dan damai bagi negeri lain dalam keterikatan dan keterkaitan di antara: negara, keimanan kristen, dan adat istiadat, … menuju yang terbaik sepulau.

Guna mencapai yang terbaik itu, menurut BE, ada banyak pertimbangan. Lantaran hal ini tak lepas dari kelanggengan perekonomian rakyat yang berbasis terutama pada (apalagi kalau bukan) pertanian, perikanan, kehutanan, dalam konteks kekinian, memasuki abad 21.

Pembaca budiman, blog ini sebenarnya sudah resmi hadir di bawah WordPress.com sejak awal Februari 2009. Lamun, untuk urusan redaksional serta tata cara pengelolaan blog, baru dilansir atau dalam istilah blognya pengeposan (posting) perdananya, pada Sabtu 14 Februari 2009. Pada pengeposan perdana ini hanya berisi “sekapursirih”, semacam sapaan perkenalan dari Redaksi, di bawah judul Kariu Baru.

ooOoo

Diharapkan dalam pengeposan berikut akan tampil beberapa warita (berita) menarik dari Leamoni Kamasune.

Seperti Surat Pemerintah Negeri Adat Kariu (PNAK) yang menetapkan penangguhan pembangunan gereja baru dan bukan pembatalan pembangunan gereja baru di kintal (tanah) gereja lama. Alasan PNAK, yang sangat mudah diterima akal sehat. Bahwa gedung gereja yang ada, yang relatif baru dan cukup reresentatif untuk tidak mengatakan mewah di tengah sebagian besar warga Kariu masih berkesusahan hidupnya, tidak memiliki alasan apapun untuk segera membangun gereja baru lagi.

Atau, proyek Bagang Ikan, perangkat jaring penangkap ikan mengandalkan cahaya lampu bersifat terapung-statis-berpindah-pindah. Bagan yang didanai organisasi non-pemerintah asal Amerika “MercyCorps” (mulai beroperasi di Indonesia Februari 1999) tapi ternyata kepemilikannya mengarah ke perseorangan atau beberapa gelintir orang. Sementara, laut plus isinya dan batang pohon besar (diameter 1-meteran) yang bakal menjadi konstruksi utama bagan, jelas-jelas adalah aset negeri atau setidaknya sepengetahuan pemerintah negeri. Seharusnya PNAK memiliki posisi strategis. Dengan begitu, seluruh warga Kariu, berpeluang menikmati hasil bagang itu.

Sebagai penutup, perlu ditegaskan, blog ini dengan sendirinya bukanlah corong PNAK. Walau tentu saja, blog ini bisa saja sarat dengan beragam program dari PNAK akibat beragam warita NAK yang patut dimuat di sini.  Dan mengingat Indonesia sebagai penduduk ke-4 terbesar di dunia setelah RRT, India, AS. Memiliki Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan satu-satunya bahasa pengantar seantero Nusantara. Blog ini pun ingin pula menegakkan kebanggaan yang satu ini. Mencoba menulis dalam Bahasa yang baik dan benar.

Semoga media ini bermanfaat.

Danke banya. Sampe baku dapat lai di pengeposan berikutnya.
Amatoo
 
 

Satu Tanggapan ke “Dari Redaksi”

ALDRIN PARIURY Berkata:

26 April 2009 pukul 17:24

Dari posting di atas, beta berkomentar berupa pertanyaan.

Sebenarnya nama teon negeri Kariu itu, Leamoni Kamasune ataukah Leamoni Kamasuni?

Karena setahu beta, jikalau kata kamasuni dibagi menjadi dua bagian (kamal dan tuni), maka artinya sama dengan apa yang telah diposting di atas. Dan bukan kamasune.

Selamat bekerja membangun Aman Kariu Patasiwa Leamoni Kamasuni.

Redaksi:

Sebandung (sepasang) kata Leamoni Kamasune Redaksi kutip dari spanduk yang terbentang di dekat pantai Negeri Adat Kariu (NAK), pada 25 November 2008, saat pelantikan adat Herman Pattiradjawane sebagai Raja NAK. Spanduk dalam bahasa tana (tanah) yang isinya adalah merupakan ucapan selamat datang kepada Gubernur Provinsi Maluku Karel A. Ralahalu yang khusus hadir pada pelantikan adat itu.

Dan dari informasi yang diperoleh Redaksi, teks pada spanduk tersebut, termasuk sebandung Leamoni Kamasune, sebelum dicetak sablon, sudah pula dikonfirmasikan kepada para tetua adat dari gandong Negeri Hualoy.

Jika kemudian Aldrin Pariury menaruh keberatan bahwa seharusnya Leamoni Kamasuni dengan alasan seperti dikemukakannya, dengan ini Redaksi membuka dan mengundang silang pendapat mengenai hal tersebut. Artinya, silakan saja para pembaca memberikan komentar lebih lanjut mengenai sebandung kata itu.

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: